بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Daurah Harian Ramadhan 1446
🎙️ Bersama Ustadz Hanafi Abu Arify, Lc. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
🗓️ Doha, 20 Ramadhan 1446 / 20 Maret 2025



Untaian Wasiat Salaf untuk Para Pemuda

Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi ﷺ kita diingatkan untuk selalu mensyukuri nikmat Allah ﷻ di bulan Ramadhan ini. Karena mensyukuri nikmat adalah bagian dari pada nikmat.

Penyair Arab Mahmoud Ibnul Hasan Al-Waraq berkata apabila syukurku terhadap nikmat Allah ﷻ adalah sebuah nikmat, maka kewajiban bagiku untuk mensyukurinya.

Akan tetapi, Allah ﷻ berfirman:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Ibnul Jauziy rahimahullah berkata Barangsiapa yang diberi nikmat Allah ﷻ dan tidak mensyukurinya maka nikmat itu akan menjadi azab.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Kita telah masuk 10 hari di akhir Ramadhan, maka kita selayaknya lebih bersungguh-sungguh dengan dua alasan:
1. Adanya malam lailatul qadar.
2. Ramadhan akan segera berakhir

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu berkata jika ada kesempatan jangan ditunda-tunda karena kesempatan belum tentu datang kembali.

Masa Muda dalam Pandangan Ulama

– Imam Ibnul Atsir Rahimahullah : masa syabab dari usia baligh hingga 30 tahun kemudian masuk usia dewasa.

Dalam kitab An-Nihayah Fi gharibil hadits 4/313 disebutkan bahwa Masa kahula (dewasa) mulai umur 33 sampai 50.

– Ibnul Habib menyebut masa muda mulai 17 hingga 50 tahun.

– Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebut masa muda dimulai umur 15 hingga 30 tahun.

Maka masa syabab mulai baligh hingga 30 kemudian masa dewasa hingga 50 tahun kemudian masa tua.

Pengertian Salaf:

Secara bahasa, “salaf” (سَلَف) berarti “yang terdahulu” atau “pendahulu”.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada putri beliau, Fathimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” (HR. Bukhari & Muslim).

Atau Al-Qudwah (teladan) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya, ”Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (Az Zukhruf: 55-56).

Imam Al Baghawi dalam tafsirnya berkata, “…dan mereka adalah orang yang terdahulu dari kalangan nenek moyang, Kami jadikan mereka sebagai pendahulu agar orang-orang yang datang kemudian mengambil pelajaran dari mereka.”

Secara istilah mereka adalah sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in. Allah ﷻ berfirman :

Orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surge-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Maka, penisbatan pada salaf adalah terpuji. Karena kita sedang menisbatkan kepada para sahabat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan.:
Tidak tercela orang yang menunjukkan madzhab salaf, menisbatkan dan menyandarkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima hal itu darinya, karena madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran”. [Al-Fatawa 4/149].

Masa Muda Merupakan Amanah yang akan Diminta Pertanggungjawaban

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat at-Taktsur ayat 8:

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Pada ayat ini terdapat Lam qosam dan nun taukid, ini menunjukkan bahwa semua nikmat benar-benar akan diminta pertanggungjawaban di sisi Allah ﷻ. (lihat Tafsir As-Sa’di).

Maka, umur termasuk masa muda akan ditanya Allah ﷻ, bagaimana masa mudamu untuk apa digunakan.

Dari Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu bahwa Rasūlullāh shallāllāhu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا تزول قدما ابن أدم يوم القيامة من عند ربه حتى يسأل عن خمس: عن عمره فيما أفناه ؟ وعن شبابه فيما أبلاه ؟ وماله من أين اكتسبه؟ وفيما أنفقه؟ وماذا عمل فيما عمل

“Tidaklah beranjak pijakan kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sampai ia ditanya tentang lima hal:

  • tentang usianya, untuk apa dihabiskan,
  • tentang usia mudanya, untuk apa ia gunakan,
  • tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan,
  • serta tentang apa yang ia amalkan dengan ilmunya.”

(HR. Tirmidzi, dinilai sahih oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah)

Coba perhatikan hadis di atas, Nabi shallāllāhu ‘alaihi wasallam mengabarkan akan ada dua pertanyaan tentang masa hidup manusia di hari kiamat nanti:

– Tentang keseluruhan umur (dari lahir hingga kematian).
– Tentang masa muda.

Waktu adalah sesuatu yang berharga karena mudah hilang, maka jangan gunakan kesia-siaan di waktu Ramadhan ini hingga begadang tiada guna hingga terlewat shalat subuh.

Di antara tanda baiknya seorang muslim adalah ia meninggalkan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Waktunya diisi hanya dengan hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Sedangkan tanda orang yang tidak baik islamnya adalah sebaliknya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Maka, tatkala kita sibuk di masa muda untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, jangan-jangan Allah ﷻ tidak menghendaki kebaikan bagi kita.

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata diantara tanda berpalingnya Allah ﷻ dari seorang hamba adalah Allah ﷻ menyibukkannya pada hal yang tidak bermanfaat. Maka oleh karena itu jangan sibukan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat!

Wasiat-wasiat Salaf untuk Para Pemuda

Sudah dikumpulkan oleh Syaikh Abdurrozaq Al Badr berjudul Washaya assalaf lisyabab (Wasiat-wasiat Salaf untuk Para Pemuda), sebagiannya disebutkan berikut ini :

– Tabi’in Abu Ayub Maimun bin mihram Al-Jazari Al~Raqi (wafat 117H) berwasiat:

Wahai sekalian pemuda kaum muslimin hendaknya kalian jadikan kekuatan di masa muda kalian dan semangat kalian dipersembahkan untuk ketaatan kepada Allah ﷻ. Wahai para orang tua, sampai kapan kalian menunggu dan tidak memanfaatkan umur kalian untuk ketaatan kepada-Nya.

Masa Muda adalah puncak kehidupan seseorang. Maka, sebaik-baik kesempatan untuk beribadah adalah di masa muda. Maka, beruntunglah masa muda yang dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ akan memberi naungan di hari kiamat, dimana pemuda yang giat beribadah termasuk dalam 7 golongan yang ditolong Allah ﷻ pada saat itu. (Lihat hadits Bukhari Muslim).

– Ungkapan Ibnu Rajab:
Masa muda itu pendek, bagaikan bunga yang merekah di musim semi. Apabila ia telah kering dan menjadi putih, maka telah dekat waktu untuk pergi.”

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah mengungkapkan,

Saya menggambarkan masa muda itu seperti sesuatu yang ada di lengan bajuku, lalu jatuh.”

(Manaqibul Imam Ahmad, karya Ibnu Jauzi, hlm. 195).

Pada zaman Medsos sekarang ini, realita banyak kaum muda muslimin yang disibukkan dengan gadget yang tidak bermanfaat. Dimana zaman sekarang banyak yang membuka WhatsApp daripada mushaf.

Maka, jangan sampai terjadi penyesalan yang datang belakangan. Dimana saat ajal tiba terjadi penyesalan yang tiada guna.

1. Pada saat ajal:

Allah ﷻ berfirman :

رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

2. Pada saat Disiksa

رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin [as-Sajdah/32:12]

Maka, jangan menunda amal dan tertipu panjang angan-angan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ

Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/76).

Dari Abu Ishaq, ada yang berkata kepada seseorang dari ‘Abdul Qois, “Nasehatilah kami.” Ia berkata, “Hati-hatilah dengan sikap menunda-nunda (nanti dan nanti).”

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, kewajiban seorang hamba adalah mempersiapkan kematian dengan amal shalih.

Semoga bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat panjang angan-angan dan menjadikan kita para hamba yang berambisi pada akhirat.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم