Cari Artikel

image
Bimbingan Al-QuranAl-Quran
Program bimbingan Tahsin dan Tahfidz Al-Quran.
image
Kajian RutinKajian
Kajian rutin Ikhwan dan Akhwat yang terjadwal.
image
Amil Zakat dan SodaqohAmil ZIS
Penyaluran ZIS yang terprogram sesuai syariat.
 

Khutbah Hajat 2

oleh:

Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizahullohu

Khotbah artinya berpidato atau berceramah atau muhadharah. Sedangkan hajat artinya keperluan. Menurut syara’ (agama) yang dimaksud dengan khotbatul hajat ialah pembukaan atau awal pembicaraan dengan lisan atau tulisan yang dimulai dengan pujian-pujian dan sanjungan kepada ALLOH serta membaca tasyahud (dua kalimat syahadat). Untuk keperluan (hajat) seperti berkhotbah Jum’at, khotbah nikah, bertabligh, muhaadharah, mengajar, memberi kulian dan menulis dan lain-lain

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam selalu memulai khotbahnya dengan mengucap puji-pujian kepada ALLOH serta bertasyahud sebagaimana telah diriwayatkan oleh jama’ah para Shahabat. Dan di bawah ini saya tutunkan beberapa riwayatnya: (sambungan dari bagian pertama “Khotbah Hajat 1” -red)


7. Dari Jabir bin Abdullah, dia menceritakan, “Kemudian beliau (Nabi) berkata,

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ

“Amma ba’du, maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk/sejelek-jelek urusan adalah yang muhdats dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR.Muslim (3/11), An Nasa’i (3/118-189/no. 1578), Ibnu Majah (no.45), Ahmad (3/310-311 dan 319/371) dengan sanad shohih. Lafadz hadits dari riwayat Muslim).

 

Penjelasan:

Petunjuk Muhammad yakni sunnah beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam
Sejelek-jelek urusan (al ummur), al ummur bentuk jamak dari al amr yang saya terjemahkan dengan urusan atau perkara. Yang dimaksud ialah urusan agama bukan keduniaan karena bid’ah ini terbatas hanya pada urusan-urusan agama.
Muhdats artinya yang baru. Yakni sesuatu yang baru dari urusan-urusan Agama yang sama sekali tidak ada sunnahnya.
Bid’ah menurut bahasa ialah “sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya.” Sedangkan menurut syari’at, bid’ah itu artinya “Sesuatu yang baru, yang diada-adakan atau diciptakan oleh manusia di dalam urusan agama kemudian dijadikan sebagai satu cara atau jalan untuk mendekatkan diri kepada ALLOH.” Ringkasnya bid’ah itu ialah segala sesuatu yang menyalahi sunnah. Maka setiap yang dianggap ibadah yang menyalahi sunnah atau tidak ada sunnahnya maka itulah bid’ah. Karena bid’ah itu adalah lawan dari sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Bagi siapa yang ingin mengetahui leih dalam lagi masalah bid’ah ini bacalah kitab Al I’tisham oleh Imam Asy Syatibhi. Kitab Ilmu Ushul Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan. Kitab Al Iqtidla Shiratal Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Catatan Redaksi:

Teks hadits (bahasa arab) yang digunakan oleh redaksi di sini adalah Fainna ashdaqol, adapun lafadz di dalam kitab asli sebagaimana dibawakan oleh penulis (Al Usdatz Abdul Hakim bin Amir Abdat) adalah Fainna khoirul.
Dan di dalam riwayat yang lain bagi Imam Muslim: Dari Jabir, dia berkata, “Biasa Rosululloh shollallohu ‘alahi wa sallam (apabila) berkhutbah kepada manusia beliau (awali) memuji-muji ALLOH dan menyanjung-Nya yang Dia sebagai pemiliknya kemudian beliau berkata, “(Mayyah di hillah) Barangsiapa yang ALLOH pimpin dia, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang ALLOH sesatkan dia, maka tidak ada yang dapat memimpinnya. Dan sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh…”

Adapun lafadz Imam Nasa’i sebagai berikut: Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Biasa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam mengucapkan di dalam khutbahnya beliau memuji-muji ALLOH dan menyanjung-Nya yang Dia memang sebagai pemiliknya kemudian beliau berkata, “(Mayyah di hillah): Barangsiapa yang ALLOH pimpin dia, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang ALLOH sesatkannya, maka tidak ada yang dapat memimpinnya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik pimpinan adalah pimpinan Muhammad. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang muhdats (yang baru) dan setiap yang muhdats itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

Sedangkan lafadz Imam Ahmad di dalam salah satu riwayatnya (3/310-311), “Dari Jabir dia berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam berkhutbah kepada kami, lalu beliau memuji ALLOH dan menyanjung-Nya yang memang Dia-lah pemiliknya kemudian beliau berkata,

أَمّا بَعْدُ: فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً

Dan di dalam riwayat yang lain bagi Imam Ahmad (3/319), dari Jabir bin Abdullah (ia berkata), “Bahwasannya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam biasa mengucapkan di dalam khutbahnya sesudah tasyahud, “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh ‘Azza Wa Jalla dan sebaik-baik pimpinan adalah pimpinan Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan sejelek-jelek urusan adalah yang muhdats.”

Dan di dalam salah satu riwayat yang lain lagi dari Imam Ahmad (3/371), “Dari Jabir dia berkata, “Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam berdiri berkhutbah, lalu beliau (mengawalinya dengan) memuji ALLOH dan menyanjungnya yang Dia-lah pemiliknya kemudian beliau mengucapkan, “Barangsiapa yang ALLOH pimpin dia, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang ALLOH sesatkan dia, tidak ada yang dapat memimpinnya. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik pimpinan adalah pimpinan Muhammad dan sejelek-jelek urusan adalah yang muhdats dan setiap yang muhdats itu adalah bid’ah.”

8. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Telah bersabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Setiap khutbah yang tidak dimulai dengan tasyahud, maka khutbah itu seperti tangan yang berpenyakit kusta/lepra (jadzmaa).” (HSR. Abu Daud (no. 4841), Ahmad (2/302 dan 343), Ibnu Hibban (no.1994 -mawarid-) dan Tirmidzi dan lain-lain).

Al Jadzmaa’ artinya terpotong/terputus, yang putus dengan cepat. Maksudnya, bahwa setiap khutbah yang tidak dimulai dengan pujian dan sanjungan kepada ALLOH, maka dia seperti tangan yang terputus dengan cepat yang tidak menghasilkan faidah. Demikian keterangan Imam al-Munawiy di dikitabnya Fathul Qodir Syarah Jaami-ush Shaghir. Kemudian beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tasyahud ialah syahadatain (mengucapkan dua kalimat syahadat). Berkata Al Qaadli (yakni Al Qaadli ‘Iyaadl), “Asal tasyahud itu mengucapkan syahadat. Kemudian di luaskan dan terpakai pada setiap sanjungan kepada ALLOH Ta’ala dan pujian kepada-Nya.”

Menurut Syaikh Al Albani bahwa yang dimaksud dengan tasyahud di hadits ini adalah khotbah hajat yang Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkannya kepada sahabatnya yaitu, “إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ”. Kemudian beliau berkata, “Barangkali inilah yang menjadi sebab atau sekurang-kurangnya menjadi salah satu sebab dari sekian sebab tidak menghasilkan faidah dari begitu banyak pelajaran dan kuliah yang diberikan kepada para pelajar karena tidak dibuka dengan tasyahhud di atas. Dimana Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam begitu sangat dalam keinginan beliau mengajarkannya kepada para sahabatnya.”

(Silsilah Shohihah (no.169) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani)

9. Hadits Ibnu Mas’ud tentang khutbah hajat yang dimaksud,

Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kami tasyahud di dalam sholat dan tasyahud di dalam hajat (di dalam riwayat yang lain diterangkan, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada kami khutbah hajat). Beliau bersabda, “Tasyahud di dalam sholat ,’at tahiyyaatul lillahi….’, sedangkan tasyahud di dalam hajat ialah, ‘Innal hamda lillahi…(di dalam riwayat yang lain lafadznya, ‘alhamdulillahi…’ dan di dalam riwayat yang lain lagi lafadznya, ‘anilhamdulillahi…..’).”

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Yang artinya, “Segala puji bagi ALLOH, kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan kepada-Nya dan kami memohon ampunan kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada ALLOH dari kejahatan-kejahatan diri kami dan dari kesalahan-kesalahan perbuatan kami. Barangsiapa yang ALLOH pimpin dia, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang ALLOH sesatkan dia, maka tidak ada yang dapat memimpinnya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Illah yang berhak disembah melainkan ALLOH sendiri dan tidak ada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan Rosul-Nya. Kemudian beliau membaca tiga ayat (al Qur’an): (1). Surat Ali Imran ayat 102, (2). Surat an-Nisaa’ atau 1, (3). Surat al-Ahzab ayat 70-71. “(HSR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Darimi di kitabnya Al-Mushanaf dan Ibnu Abi “Ashim di kitabnya As Sunnah)

Penjelasan:

‘at tahiyyaatul lillahi….’ yakni tahiyat di dalam sholat seperti yang biasa kita baca sampai syahadatain. Adapun sholawat tidak termasuk di dalam tahiyyat.
(’Innal hamda lillahi…, ‘alhamdulillahi…,’  ‘anilhamdulillahi…..’), kita boleh memilih salah satu lafadznya, imma dimulai dengan ucapan innal hamdalillahi atau alhamdulillahi atau anilhamdulillahi. Atau kita ucapkan bergantian pada waktu yang berbeda untuk mengamalkan semua lafadz-lafadz awalnya.
Keluasan takrij hadits ini ada di kitab besar saya yaitu, “Takrij Sunan Abi Daud” (no. 2118). Dan baca juga kitab-kitab: Fathur Rabbani tartib Musnad Ahmad bin Hambal juz 16 hal 165 oleh Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna. Tuhfatul Ahwadziy syarah Tirmidzi juz 4 hal 237. Za’adul Ma’ad juz 1 oleh Ibnu Qayyim. Subulus Salam syarah Bulughul Maram juz 3 hal 112 oleh Imam Ash Shan’ani.
10. Hadits Ibnu Abbas, dia berkata, Telah bersabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam,

نّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

(Hadits shohih rowayat Muslim, Ahmad, An Nasa’i, dan Ibnu Majah, dan lain-lain)


Kesimpulan:

Pada pandangan saya -wallohu a’lam-, lafadz khutbatul hajat itu dapat kita baca dengan berbagai macam cara:

Kita baca dengan lafadz Ibnu Mas’ud (no.9) dengan lengkap sekalian membaca ayat-ayatnya.
Seperti di atas kemudian ditambah (selesai membaca ayat-ayat) dengan membaca hadits Jabir (no.7): Amma Ba’du, Fainna khairal (atau ashdaqol -red) hadits….dengan beberapa lafadznya.
Membaca lafadz hadits Ibnu Mas’ud tanpa membaca ayat-ayatnya.
Seperti di atas kemudian ditambah dengan membaca lafadz hadits Jabir di kesimpulan no.2
Atau kita mencukuypi dengan membaca lafadz hadits Ibnu Abbas (no. 10)
Disarikan dari Kitab Al Masa’il Jilid 1, dengan beberapa edit dari redaksi

hadits-2

go-sunnah

Silakan Pilih

Klik 'tuk baca Al-Qur'an Online

Klik 'tuk 'ndengerin radio online

 

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook

Tamu Online

We have 186 guests and no members online