بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Harian Ramadhan 1446
Penghalang Hidayah
Berbicara tentang hidayah berarti membahas perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Betapa tidak, hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman:
{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa adapun shirothol mustaqiim sebagaimana dikatakan oleh Abu Jafar Ibnu Jarir, ‘Para ulama pakar tafsir semua sepakat bahwa shiroothol mustaqim adalah:
هُوَ الطَّرِيْقُ الوَاضِحُ الَّذِي لاَ اِعْوِجَاجَ فِيْهِ
“Jalan yang jelas yang tidak menyimpang dari garis lurus.’” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:209)
Ikhtisar dari yang disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, shirothol mustaqim adalah: Jalan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu Islam dengan Al-Qur’an sebagai petunjuknya.
Kebutuhan akan hidayah
Imam Ibnul Qayyim memaparkan hal ini dengan lebih terperinci, beliau berkata: “Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah di setiap waktu dan tarikan nafasnya, dalam semua (perbuatan)yang dilakukan maupun yang ditinggalkannya. Kitab “Risaalatu Ibnil Qayyim” (hal. 8-9).
Hidayah di Tangan Allah ﷻ
Selain rizki ada ditangan Allah ﷻ demikian juga hidayah. Itu hak prerogative Allah ﷻ.
Sudah paham hidayah ada di Tangan Allah tetapi kebanyakan orang tidak serius mau mendapatkannya. Padahal hidayah ada di majelis ilmu. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda tentang cara mendapatkan hidayah.
Demikian juga kaum muslimin yang sedang berhaji selalu berdoa dengan do’a sapu jagat. Tetapi terkadang lebih banyak meminta doa dalam urusan dunianya daripada akhiratnya.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār.”
“Ya Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”
Dalam Surat Al-‘Ankabut Ayat 69:
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
لا يزال العالم جاهلاً بما علم حتى يعمل به ، فإذا عمل به كان عالماً
“Seorang ‘Alim (berilmu) itu masih dianggap Jaahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar ‘Alim (berilmu).” [Awa’iqut Thalab hal. 6, syamilah]
Pembagian Hidayah
1. Hidayah Irsyad wal bayan (Umum) yaitu hidayah dari Allah ﷻ melalui perantara manusia berupa penjelasan masalah agama.
Konsekuensinya bersifat umum, tidak semua menerimanya, ada yang muslim dan ada yang kafir.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Ini bersifat umum Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh manusia.
Sementara dalam surat Al-Baqarah ayat 2 Allah ﷻ berfirman:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
Ini khusus Petunjuk bagi manusia yang sudah diberi Taufik maka bagi orang yang bertakwa.
2. Hidayah Taufik: yaitu petunjuk dari Allah ﷻ untuk mengikuti kebenaran. Ini merupakan Hak prerogative Allah ﷻ bagi siapa yang dikehendaki.
Allah ﷻ berfirman,
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَٰهُمْ فَٱسْتَحَبُّوا۟ ٱلْعَمَىٰ عَلَى ٱلْهُدَىٰ
“Dan adapun kamu Tsamud, maka mereka telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu.” (Fushshilat: 17)
Artinya, Kami telah menjelaskan, membuktikan, dan memperkenalkan kepada mereka, tetapi mereka masih tetap mengutamakan kesesatan dan kebutaan.
Allah ﷻ mengarahkan dakwah-Nya kepada makhluk-Nya secara umum dan mengkhususkan hidayah-Nya kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Allah ﷻ berfirman,
إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (al-Qashash: 56)
Sebab-sebab Mendapatkan Hidayah
1. Berdo’a yang sungguh-sungguh
Allah Ta’ala berfirman,
يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ
Allahumma inni asalukal hudaa wasadada
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu petunjuk dan kelurusan hidup”
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).”
Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim no. 2721)
2. Berpegang teguh kepada Agama Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Ali Imran ayat 101:
وَمَن يَعْتَصِم بِٱللَّهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Penghalang Hidayah
1. Mengikuti hawa nafsu
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Jatsiyah Ayat 23:
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
A fa ra`aita manittakhaża ilāhahụ hawāhu wa aḍallahullāhu ‘alā ‘ilmiw wa khatama ‘alā sam’ihī wa qalbihī wa ja’ala ‘alā baṣarihī gisyāwah, fa may yahdīhi mim ba’dillāh, a fa lā tażakkarụn
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Orang yang menuruti hawa nafsu diibaratkan seperti binatang
أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعَٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Surat Al-Furqan Ayat 43-44)
Ada dua golongan yang terjerumus mengikuti hawa nafsu
1. Jahil: Dia tidak tahu tapi tidak mau belajar, maka dia terpedaya iblis.
2. Berilmu : Dia berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, maka ini lebih berbahaya.
2. Sombong
Kisah Kesombongan raja Ghassan menyebabkan jauh dari hidayah
Suatu hari, Jabalah bin Al-Ayham –Raja Terakhir Ghassan– pergi ke Madinah untuk memeluk Islam. Sesampai di lokasi, ia disambut dengan baik oleh Umar dan penduduk Madinah.
Dalam kunjungannya ke kota suci ini, ia meluangkan waktu untuk menunaikan umrah. Dalam proses menjalankan ibadah thawaf, terjadilah sesuatu yang tak diinginkan. Ada rakyat jelata yang tidak sengaja menginjak kain pakaian yang dipakainya.
Sebagai seorang raja yang biasa dihormati, ia memandang bahwa ini adalah perbuatan lancang dan pelecehan. Ia pun naik pitam dan orang biasa itu ditempeleng hingga terjatuh.
Tak terima diperlakukan seperti itu, orang yang ditempeleng itu mengadukan perkara ini ke Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu. Setelah dilakukan persidangan, didapati fakta bahwa yang melakukan kesalahan adalah Jabalah bin Al-Ayham. Umar memutuskan agar diberlakukan hokum qishas (tempeleng dibalas tempeleng).
“Wahai Umar, aku Raja dan dia adalah rakyat biasa!” respons Jabalah merasa tak terima. “Dalam Islam, tidak ada bedanya antara raja dan rakyat biasa!” jawab Umar dengan penuh ketegasan.
“Kalau gitu aku murtad saja dari Islam,” lanjutnya dengan penuh kekecewaan. diceritakan bahwa dia hendak masuk agama Kristen. “Dalam Islam, orang yang murtad itu hukumnya mati,” timpal Umar bin Khattab.
Jabalah semakin galau. Akhirnya, ia memohon izin untuk berpikir sampai malam hari. Umar pun mengizinkannya. Rupanya, ini adalah siasat Jabalah bin Al-Ayham untuk melarikan diri.
Dalam keheningan malam, tanpa diketahui orang, ia lari bersama pengawalnya menuju Konstantinopel. Di sana ia disambut dengan baik oleh Raja Romawi dan mendapat perlakuan yang sesuai dengan yang diinginkannya.
Hanya saja, menurut berita orang yang pernah menjumpai Jabalah di Konstantinopel, ia menyampaikan penyesalannya. Seringkali dia menangis kalau teringat keputusan konyol itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Dirinya selalu dihantui rasa penyesalan….
Ada beberapa penyebab terhalangnya hidayah yang lain seperti:
– Teman yang buruk
– Takut kehilangan kekuasaan
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم