بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Senin – Kitab Ad Daa’ wa Ad Dawaa’
Karya: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah
Syarh oleh: Syeikh Dr. Abdurrazzaq Al-Badr Hafidzahullah
Bersama: Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, Ph.D Hafidzahullah
Al Khor, 17 Ramadhan 1446 / 17 Maret 2025.
Bab – Mabuk Asmara (Al-‘Isyq)
Tiga Tingkatan Orang yang Kasmaran
– Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱 berkata:
Orang yang kasmaran mempunyai tiga tingkatan: tingkat permulaan, tingkat pertengahan, dan tingkat terakhir.
Untuk tingkat permulaan, yang wajib dilakukan adalah menolak cinta dengan segala kemampuan, apabila menjalin hubungan dengan orang yang dicintai itu tertolak, baik secara takdir maupun syari’at.
Jika seseorang tidak mampu melakukan hal ini dan hatinya tetap melakukan perjalanan menuju yang dicintai—yang hal ini termasuk tingkat pertengahan dan terakhir—maka wajib baginya untuk menyembunyikan perkara tersebut. Ia tidak boleh menyebarkan hal ini, juga tidak boleh menyebutkan bentuk, sifat-sifat kecantikan orang yang dicintai, dan kabar yang tidak senonoh kepada masyarakat sehingga dengannya terhimpun antara kemusyrikan dan kezhaliman. Kezhaliman dalam perkara ini termasuk yang paling keji. Bahkan, bisa jadi kezhaliman ini lebih membahayakan objek yang dicintai berikut keluarganya dibandingkan kezhaliman terhadap harta mereka. Sebab, perbuatannya tadi membuat orang yang dicintai menjadi bahan omongan masyarakat.
Di antara mereka ada yang mendustakan, tetapi mayoritasnya akan membenarkan isu yang beredar meskipun indikasinya sangat kecil.
Sekiranya tersebar berita: “Fulan telah melakukan begini dan begitu dengan Fulan atau Fulanah,” maka berita tersebut hanya didustakan oleh satu orang, namun dibenarkan oleh 999 orang lainnya. Kabar perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh orang yang sedang kasmaran merupakan kepastian menurut masyarakat.
Bahkan, sekiranya objek yang dicintai memberikan kabar yang tidak senonoh tentang dirinya untuk mengadakan kedustaan kepada pencinta, maka manusia pun memastikan kebenaran kabar tersebut tanpa bisa ditawar-tawar lagi.
– Syarah: Syeikh Dr. Abdurrazzaq Al-Badr Hafidzahullah
Beginilah keadaan orang-orang yang berkaitan dengan berita ini. Dimana mereka mendengar dan mempercayainya.
Baru saja Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah membenarkan syubhat yang paling ringan, terus berpindah berita itu dari satu orang ke orang lain yang tidak benar keadaannya, ini akan memudharatkan kehormatan orang lain.
Inilah kebanyakan orang-orang kecuali yang diselamatkan Allah ﷻ dengan kekangan syariat.
– Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱 berkata:
Seandainya keduanya bertemu di suatu tempat secara kebetulan, tentu orang-orang akan mengatakan bahwa sebelumnya telah ada janji dan kesepakatan di antara keduanya.
– Syarah: Syeikh Dr. Abdurrazzaq Al-Badr Hafidzahullah
Rasulullah ﷺ pada waktu Haji Wada yaitu haji terakhir Rasulullah ﷺ, beliau menyampaikan khutbah yang berisi pesan-pesan penting dan wasiat untuk umat Islam, termasuk tentang keutamaan persaudaraan, penghapusan riba, dan persamaan derajat antara semua manusia.
Beliau mengingatkan umat Islam untuk menjaga keagungan jiwa, harta, dan kehormatan sesama muslim.
Nabi ﷺ bersabda, “Muslim adalah saudara muslim lainnya” adalah persaudaraan yang diikat karena agama. Lalu beliau melanjutkan sabdanya dengan penyebutan hak-hak yang termasuk hak-hak persaudaraan muslim yang paling penting, beliau bersabda, ‘Tidak menzaliminya, tidak membiarkannya dizalimi, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya’.
Nabi ﷺ bersabda, “Muslim adalah saudara muslim lainnya” adalah persaudaraan yang diikat karena agama. Lalu beliau melanjutkan sabdanya dengan penyebutan hak-hak yang termasuk hak-hak persaudaraan muslim yang paling penting, beliau bersabda, ‘Tidak menzaliminya, tidak membiarkannya dizalimi, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya’.
– Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱 berkata:
Dengan kata lain, kepastian tuduhan masyarakat timbul dari persangkaan, khayalan, kerancuan, dugaan, dan kabar-kabar dusta, namun seolah-olah mereka menyaksikan langsung kejadian tersebut. Oleh sebab itu, orang-orang munafik berani mengadakan tuduhan dusta kepada Aisyah, kecintaan Nabi ﷺ yang dinyatakan tidak bersalah dari atas tujuh langit, hanya dengan peristiwa kedatangan Shafwan bin al-Mu’aththil bersama Aisyah di belakang pasukan. Maka dari itu, binasalah orang-orang yang binasa. Sekiranya bukan Allah ﷻ sendiri yang menanggung pembelaan terhadap Aisyah, menyatakan dirinya tidak bersalah, dan mendustakan orang-orang yang menuduhnya, niscaya urusannya akan menjadi lain.
Intinya, orang yang kasmaran dan menampakkan cintanya terhadap orang yang tidak halal baginya telah menzhalimi diri sendiri dan menyakiti objek yang dicintai berikut keluarganya, sekaligus membuat masyarakat membenarkan persangkaan mereka dalam hal ini.
Kisah Ringkas Fitnah Aisyah Radhiyallahu’anha
Peristiwa yang terkait dengan tuduhan dusta tersebut diriwayatkan dalam Shahiihul Bukhari (no. 2661) dan Shahtih Muslim (no. 2770).
Kisah fitnah yang menimpa Aisyah, istri Nabi ﷺ Muhammad, adalah sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam, di mana ia dituduh berzina dengan seorang sahabat Nabi, Shafwan bin Mu’aththal, namun tuduhan tersebut dibantah oleh Al-Qur’an.
- Latar Belakang:
Peristiwa ini terjadi setelah perang Bani Mustaliq, di mana Aisyah ikut serta dalam perjalanan bersama Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
- Perjalanan Aisyah:
Aisyah mengikuti perjalanan dengan Rasulullah ﷺ berdasarkan undian yang dilakukan di antara para istri beliau.
- Kejadian:
Aisyah tertinggal dari rombongan dan kemudian kembali ke Madinah dengan Shafwan bin Mu’aththal yang kebetulan sedang melewati daerah tersebut.
- Fitnah:
Kaum munafik, dipimpin oleh Abdullah bin Ubay, menyebarkan fitnah bahwa Aisyah telah berzina dengan Shafwan.
- Reaksi Aisyah:
Aisyah merasa sangat sedih dan tidak bersalah, ia menolak untuk menyangkal tuduhan tersebut sampai kebenaran terungkap.
- Tanggapan Rasulullah ﷺ :
Rasulullah ﷺ awalnya juga merasa sedih dan kecewa, namun kemudian ia menerima wahyu dari Allah ﷻ yang membantah tuduhan tersebut.
- Ayat Al-Qur’an:
Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 11-20 membahas peristiwa ini, menegaskan kebenaran Aisyah dan membantah tuduhan yang ditujukan kepadanya.
- Kebenaran Terungkap:
Setelah melalui proses yang panjang, kebenaran akhirnya terungkap dan Aisyah dibebaskan dari tuduhan tersebut.
- Pesan Moral:
Kisah ini mengajarkan pentingnya menjaga keadilan dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap fitnah atau gosip.
Kisah ini juga menunjukkan betapa pentingnya menjaga kebersihan hati dan pikiran, serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi cobaan.
Kisah ini merupakan contoh tersebarnya fitnah Isyk jika seseorang menceritakan tentang aibnya kepada orang lain, dimana hal ini akan menyebar tak terkendali.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم