akidah

  • Masuk Surga Tanpa Hisab

    Diriwayatkan oleh Al-Imam Al Bukhari dan Al-Imam Muslim di dalam shahih keduanya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Telah dipertunjukkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang nabi, bersamanya beberapa orang (sejumlah sepuluh atau kurang) dan seorang nabi yang bersamanya satu dan dua orang, serta seorang nabi yang tak seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku suatu jumlah yang banyak. Aku pun mengira bahwa mereka itu adalah umatku, tetapi dikatakan kepadaku, “Ini adalah Musa bersama kaumnya.” Lalu tiba-tiba aku melihat lagi suatu jumlah besar pula, maka dikatakan kepadaku, “Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang mereka itu masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”

    Kemudian bangkitlah beliau dan segera memasuki rumahnya. Maka orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu. Ada di antara mereka yang berkata, “Mungkin saja mereka itu yang menjadi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada lagi yang berkata, “Mungkin saja mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga tidak pernah mereka berbuat syirik sedikitpun kepada Allah.” Dan mereka menyebutkan lagi beberapa perkara.

    Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda,

    “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya dikay, tidak melakukan tathayyur dan mereka pun bertawakkal kepada Rabb mereka.”

    Lalu berdirilah ‘Ukasyah bin Mihshan dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.

  • Takut Kepada Syirik

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847)

    Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283.

  • Wajibnya Beriman dengan Istiwa' Allah di atas Arsy, Ketinggian Allah di atas Makhluk-Nya dan Kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya

    Kajian Kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah  oleh Ustadz Isnan Efendi Hafidzahullah
    Sabtu, 23 September 2017 di Izghawa, Doha.

    Pembahasan: "Wajibnya Beriman dengan Istiwa' Allah di atas Arsy, dan Ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan Kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya dan diantara keduanya tidak saling bertentangan."

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâhu pada bab ini menjelaskan tentang masalah yang berkaitan dengan keimanan. Yaitu beriman kepada nama dan sifat Alloh ta'aala.

    Istiwa dan Al-Ulu' berarti tinggi. Perbedaanya: Istiwa dinisbatkan kepada Arsy. Kalo tidak disebutkan Arsy maka disebut Al 'Ulu (Mutlak/umum).

    Ketinggian tersebut ada dua kategori: 

    1. Secara sifat (lebih tinggi dari makhluk-Nya). Misalnya makhluk sabar maka Alloh lebih sabar dari makhluk-Nya. Makhluk penyayang maka Alloh ta'aala lebih sayang.
    2. Secara dzat: ketinggian Allâh di atas Arsy secara dzatnya. Tata cara duduknya Allah tidak diketahui. Pada point ini banyak golongan yang menyimpang. Mereka menghilangkan sifat istiwa ini secara dzat di atas arsy. Sehingga muncul ta'wil seperti berarti menguasai. (Alloh bukan di atas Arsy tapi menguasai Arsy!).
      Kedua kategori ini tidak saling bertentangan. Telah dijelaskan Alloh ta'aala di dalam Al-qur'an, ataupun hadits secara mutawatir dan dibenarkan oleh para salaf umat ini.

    Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi, yang menurut adat, pada umumnya dapat memberikan keyakinan yang mantap, terhadap apa yang telah mereka beritakan, dan mustahil sebelumnya mereka bersepakat untuk berdusta, mulai dari awal matarantai sanad sampai pada akhir sanad. (Confirm 100% sahih meskipun akal tidak menerima).