Artikel Kategori Tauhid

Tauhid

Ya allah, Terimalah Syahadat Kami

terimalah syahadat kamiSebuah renungan...

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ "، قَالَ: «فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ» ، قَالَ: «فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ» رواه أحمد والترمذي وحسنه، وابن ماجه وابن حبان والحاكم وصححاه، وصححه أيضا الألباني.

Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu ?’. Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman : ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan ?’. Orang itu pun tercengang dan berkata : ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman : ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman : ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad 6994, Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Faedah dari hadits ini:

  • Seorang hamba menghadap Allah dengan 99 catatan dosa berukuran sejauh mata memandang !!
  • Ia tidak mengingkari sedikitpun dari dosa-dosanya yang tercatat di dalamnya.
  • Ia tidak merasa dizhalimi sedikitpun oleh para malaikat pencatat amal.
  • Ia tidak memiliki udzur sedikitpun untuk berbuat dosa.
  • Ia tidak ingat sedikitpun bahwa dirinya pernah berbuat suatu kebaikan.
  • Allah mencatat semua amal hamba-Nya, walau si hamba tidak mengingatnya dan meremehkannya.
  • Si hamba punya satu kebaikan besar yang tercatat dalam secarik kertas, yaitu 2 kalimat syahadat.
  • Setiap amal kebaikan akan ditimbang dan memiliki bobot tertentu yang berbeda-beda, sesuai jenis dan kualitasnya. Demikian pula dosa.
  • Bobot 2 kalimat syahadat tidak dapat disaingi oleh dosa apapun, selama dosa tersebut tidak membatalkannya.

Kaidah agar amalan diterima:

  1. Penuhi semua syaratnya
  2. Laksanakan semua rukunnya
  3. Hindari semua pembatalnya

Apa Syarat syahadat ?

  1. Mengetahui makna syahadat dengan benar
  2. Meyakini kebenaran makna tersebut
  3. Ikhlas dalam mengucapkannya
  4. Sungguh-sungguh dalam bersyahadat
  5. Menerima lafazh & konsekuensinya
  6. Mencintai lafazh & konsekuensinya
  7. Tunduk patuh terhadap konsekuensinya

Rukun syahadat ?

  1. Menganggap batil semua yang diibadahi selain Allah
  2. Menetapkan Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi
 

Pembatal syahadat ?

  1. Semua pembatal syarat
  2. Semua pembatal Rukun

Syarat pertama: Mengetahui makna syahadat dengan benar: Tiada ilah yang haq kecuali allah

قال تعالى: ولا يملك الذين يدعون من دونه الشفاعة إلا من شهد بالحق وهم يعلمون (الزخرف: 86)

{وَلا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ} أي: كل من دعي من دون الله، من الأنبياء والملائكة وغيرهم، لا يملكون الشفاعة، ولا يشفعون إلا بإذن الله، ولا يشفعون إلا لمن ارتضى، ولهذا قال: {إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ} أي: نطق بلسانه، مقرا بقلبه، عالما بما شهد به، ويشترط أن تكون شهادته بالحق، وهو الشهادة لله تعالى بالوحدانية، ولرسله بالنبوة والرسالة، وصحة ما جاءوا به، من أصول الدين وفروعه، وحقائقه وشرائعه، فهؤلاء الذين تنفع فيهم شفاعة الشافعين، وهؤلاء الناجون من عذاب الله، الحائزون لثوابه. تفسير السعدي

Pembatalnya? : Tidak mengetahui makna syahadat yang sebenarnya

 Syarat kedua: Meyakini kebenaran makna tersebut tanpa ada keraguan sedikitpun

قال تعالى: إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله ثم لم يرتابوا... (الحجرات: 15)
وقال صلى الله عليه وسلم: «أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، لَا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ» رواه مسلم.

Pembatalnya ?: Tidak meyakini kebenaran makna tersebut (tidak percaya sama sekali) atau meragukan kebenaran maknanya

Syarat ketiga: Ikhlas dalam bersyahadat, alias demi mencari ridha allah semata

قال تعالى: وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء (البينة: 5)

وقال: ألا لله الدين الخالص (الزمر: 3)

وقال صلى الله عليه وسلم:  أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ. (رواه البخاري)

وقال: إِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ (متفق عليه)

Pembatalnya ? : Bersyahadat karena ingin mencari keuntungan duniawi, riya’, sum’ah, dll

Syarat keempat: Sungguh-sungguh dalam bersyahadat, tidak main-main, dan tidak sekedar diucapkan oleh lisan tanpa dibenarkan oleh hati dan perbuatan

قال تعالى: إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ [المنافقون:1]

وقال: الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت:1-3]

وقال صلى الله عليه وسلم:  مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ، إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ  (متفق عليه)

Pembatalnya ?: Main-main dalam bersyahadat, tidak dibenarkan dalam hati, tidak dibuktikan dengan perbuatan

Syarat kelima: Menerima lafazh dan konsekuensinya tanpa penolakan sedikitpun terhadap salah satunya

قال تعالى: إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ [الصافات:35-36] .

وقال: وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (4) أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ [ص:4-5]

وقال صلى الله عليه وسلم:  مَنْ قَبِلَ مِنِّي الْكَلِمَةَ الَّتِي عَرَضْتُ عَلَى عَمِّي، فَرَدَّهَا عَلَيَّ، فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ  (رواه أحمد وغيره بإسناد صحيح)

Pembatalnya ? Tidak mau mengucapkan syahadat atau tidak menerima konsekuensinya

Syarat keenam: Mencintai ucapan syahadat dan semua konsekuensinya (semua yang dicintai Allah)

قال تعالى: وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (8) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (محمد: 8-9)

وقال: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ (البقرة: 165)

وقال صلى الله عليه وسلم: أَوْثَقُ عُرَى الْإِسْلَامِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ (رواه أحمد وغيره بإسناد صحيح)

Pembatalnya ?: Membenci kalimat tauhid, membenci orang yang mengucapkannya, yang memperjuangkannya, atau membenci salah satu ajaran islam yang telah diyakininya

Syarat ketujuh: Tunduk patuh terhadap konsekuensinya (menunaikan kewajiban agama)

قال تعالى: وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى (لقمان: 22)

وقال: وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (الزمر: 54)

وقال: فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (النساء: 65)

وقال صلى الله عليه وسلم: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا، عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ، وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ (متفق عليه)

Pembatalnya ?: Tidak mau mengamalkan ajaran islam sama sekali, terutama shalat dan zakat atau tidak mau berhukum dengan hukum allah

 Ikuti pembahasannya oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, MAhafidzahullah di link berikut:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook