Artikel Kategori Tauhid

Tauhid

Bernadzar untuk Selain Alloh ta'aala adalah Syirik

Kitab Tauhid, Syekh Muhammad At Tamimi,Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Pengertian

Nadzar secara bahasa: Kewajiban dan mengikat.
Secara Istilah :mewajibkan diri dengan sesuatu yang tidak diwajibkan Alloh ta'aala.

Hukum secara umum: Masru' - Disyariatkan (dalam arti ada dalilnya)  atau boleh dilakukan.

Dalil-dalilnya:

Firman Allah Ta'ala (artinya):

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

"Mereka menunaikan nadzarnya dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata dimana-mana." (Al-Insan: 7)

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ

"Dan apapun yang kamu nafkahkan atau apapun yang kamu nadzarkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Al-Baqarah: 270)

Diriwayatkan dalam shahih (Al-Bukhari) dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka supaya mentaatinya; akan tetapi barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah bermaksiat kepada-Nya (dengan melaksanakan nadzarnya itu)."

Hukum rinci:

Hukum memulai nadzar: makruh dan ada yang menyebut haram (Pendapat Ibnu Taimiyah) .
Imam ibnu qudamah rahimahullah -  Almughni:  La yustahab (Tidak disunnahkan/makruh)

Dalil-dalilnya :

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nadzar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

“Jangan kalian bernadzar,karena nadzar itu sedikit pun tidak dapat mempengaruhi takdir. Dan hanyasanya nadzar itu dikeluarkan dari orang yang pelit.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Seluruh madzhab : ijma ulama wajib dilaksanakan.  (Imam ibnu qudamah -  Almughni).

Kandungan dalil di atas:

  1. Menunaikan nadzar adalah wajib.
  2. Apabila sudah menjadi ketetapan bahwa nadzar adalah ibadah untuk Allah semata-mata, maka menyelewengkannya kepada selain Allah adalah syirik.
  3. Dilarang untuk melaksanakan nadzar maksiat

Nadzar yang tidak terikat, itulah yang ada dalam ayat di atas. Adapun nadzar yang makruh adalah nadzar yang terikat atau tergantung dengan suatu hasil.
Nadzar yang tidak terikat itulah yang terpuji. Karena yang makruh (bergantung hasil), ia tidak yakin seolah-olah Alloh ta'aala tidak memberikan karunia. Contoh : kalo aku dapat kerja, aku puasa.

Syarat-syarat sah nadzar :

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Atas kemauan sendiri (tidak dipaksa)

Macam-macam nadzar:

  1. Nadzar Mubham (umum) ; mutlak atau tidak terikat. Contoh : tiba-tiba ia bilang aku bernadazar besok puasa.
  2. Nadzar Lijaj/ghodob (karena marah).  Contoh : kalo kamu begini, aku cerai kan kamu.
    Hukumnya : ada pilihan, bisa dilakukan karena mampu. Kalau tak mampu, maka ada pilihan.
    Yaitu dengan kafarah Nadzar (kafarah ya in atau sumpah). (Al-maidah :89).
    Memberi makan 10 orang miskin, memberikan pakaian orang miskin, membebaskan hamba atau puasa 3 hari.
  3. Nadzar Makruh : menjalankan sesuatu yang dimakruhkan. Seperti makan bawang.
    Makruh : tidak maksiat dan tidak ibadah.
    Bayar kafarahnya seperti sumpah.
  4. Nadzar Mubah: tidak maksiat,  tidak ibadah dan tidak dibenci.
    Misal: Besok aku nadzar ke Mall. Kafaratnya sama Kafaratnya sumpah.
  5. Nadzar Maksiat : ada yg biasa dan ada yang syirik. Seperti : nadzar merokok atau nadzar menyembelih untuk selain Alloh ta'aala.
    Konsekuensi : Bertaubat dan Kafaratnya sumpah.
  6. Nadzar ketaatan.  Misal: kalo sembuh aku akan sedekah.
    Kalau tak mampu: kafarat sumpah.
  7. Nadzar wajib. Contoh : kalo sembuh, aku akan sholat lima waktu. Tak disebut nadzar.
    Bisa fardhu ain atau fardhu kifayah. Ini juga masuk nadzar.
    Contoh : besok aku bernadzar mau sholat jenazah.
  8. Nadzar Mustahil. Tak disebut nadzar.
    Contoh : saya akan berpuasa kemaren.

Imam Daqiq bin Ied dalam kitab Ihkamul ahkam menjelaskan yang perlu kafarah :

  1. Nadzar yang dikaitkan dengan adanya nikmat atau selamat dari mudharat.
  2. Nadzar yang dikaitkan dengan tujuan mencegah atau menyemangatkan. Ini masuk nadzar marah (ghodob) atau mencegah. Contoh : kalo kamu masuk rumah ini, maka aku akan begini dan begitu... Kalo terjadi beda pendapat, kalo mampu laksanakan Kafaratnya sama dengan sumpah.
  3. Nadzar tanpa ikatan. Contoh : besok aku puasa  senen.

Kajian selengkapnya oleh Ustadz Isnan Efendi Hafidzahullah :

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook