Kategori Artikel Akhlak dan Nasehat

Akhlaq dan Nasehat

Adab-adab Duduk dalam Majelis

Bismillah

Kajian kitab Minhajul Muslim karya syaikh Abu Bakar Jazairiy  rahimahullah.

adab majelisBerikut intisari adab-adab di dalam majelis:

1. Jika ingin bergabung dengan suatu majelis maka hendaknya mengucapkan salam kemudian duduk di tempat yang tersedia.

Sabda Rasullulah صلی الله عليه وسلم : "Bilamana kalian telah sampai pada sebuah majelis, hendaklah mengucapkan salam, dan apabila ingin duduk maka duduklah, kemudian apabila ingin pergi maka ucapkanlah salam, sebab bukankah yang pertama itu lebih baik daripada yang terakhir." (HR At Tirmidzi no 2706, Berkata Al Albani hadits ini hasan shahih).

2. Tidak menyuruh orang lain berdiri, pindah atau menggeser tempat duduknya.

Rasullulah صلی الله عليه وسلم  "Melarang seseorang membangunkan orang lain yang sedang duduk (dari tempatnya semula) kemudian dia duduk padanya, akan tetapi bergeserlah dan berlapanglah." (HR Bukhari).

3. Jika ada yang bangkit dari tempat duduknya kemudian kembali maka dia lebih berhak akan tempat duduknya tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian berdiri dari tempat duduknya kemudian kembali maka dia lebih berhak atasnya” (HR. Tirmidzi no. 2132 dan Ibnu Majah no. 2377)

4. Jangan duduk di tempat orang lain atau memisahkan dua orang yang duduk berdekatan kecuali seizinnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian meminta seseorang berdiri dari tempat duduknya kemudian duduk disitu. Tetapi hendaknya kalian melapangkan atau melonggarkan (agar yang lain bisa duduk)” (HR Muslim no. 11).

Rasulullah juga bersabda, “Tidak halal bagi seseorang untuk memisahkan diantara dua orang kecuali seizin keduanya” (HR. Abu Dawud no. 4825)

5. Jangan duduk di tengah halaqah (lingkaran).

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang duduk di tengah halaqah” (HR. Abu Dawud no. 4826 dengan sanad yang hasan).

Syaikh Al Albani mengatakan Dhoif karena perawi Abu Mijla, kata Imam Ahmad tidak bertemu dengan Hudzaifah maka haditsnya terputus. Kata Albani, kalaupun sahih, maksud hadits ini berlaku jika ada niat ingin dipuji atau menyombongkan diri. Mubarak Furi mengatakan, maksudnya duduk ditengah dan menutupi kawan yang di belakangnya.

6. Memperhatikan etika-etika berikut:
◾Jika duduk di majelis hendaknya tenang dan jangan banyak bicara atau melakukan gerakan yang tidak perlu sehingga mengganggu yang lain. Seperti, banyak menguap, memainkan barang, membuang ingus, dan lainnya.
◾Jika berbicara hendaknya dengan sopan dan hindari dusta serta ghibah (menggunjing), membanggakan diri dan yang lainnya. Rasulullah, “Seorang muslim adalah yang mana kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”.
◾Memperhatikan pembicaraan orang lain.
◾Jangan memotong pembicaraan orang lain.
◾Perhatikan anak-anak dalam bermajelis agar tidak membikin kegaduhan.

7. Hindari bermajelis (duduk-duduk) di jalan. Tetapi jika diperlukan maka hendaknya menjaga adab-adab:
◾ Menundukkan pandangan
◾ Menjawab salam
◾Tidak mengganggu orang yang lewat baik dengan lisan atau tindakan.
◾Memerintahkan yang makruf (kebaikan)
◾Melarang kemungkaran
◾Menunjukkan jalan orang yang tersesat

Rasulullah bersabda, “Hati-hati (jauhi) duduk –duduk di (pinggir) jalan! Para sahabat mengatakan, Tetapi kami membutuhkannya, sesungguhnya kami berbincang-bincang disitu. Rasulullah menjawab, Jika kalian enggan dan ingin tetap duduk-duduk maka berikan jalan hak-nya. Para sahabat mengatakan, Apa hak jalan? Rasulullah menjawab, Menahan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran” dan pada sebagian riwayat ada tambahan “Dan menunjukkan orang yang tersesat” (HR. Bukhari no. 3/173)

8. Jika bangkit dari majelis hendaknya berisfighfar.

Rasulullah kalau bangkit dari majelisnya biasa mengucapkan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan pujian atasMu, saya bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, saya memohon ampun dan bertaubat kepadaMu” (HR. Tirmidzi 3433)

9. Ketika duduk di majelis, hendaknya menghindari gaya duduk yang dilarang.

◾Duduk bersandar dengan tangan kiri dengan membuka Jari-Jemari. Boleh dengan dua tangan.

عَنْ أَبِيهِ الشَّرِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَّ بِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِىَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِى وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِى فَقَالَ « أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ».

Syirrid bin Suwaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai?” (HR. Abu Daud no. 4848. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

◾Melonjorkan kedua kaki/betis

عن كَثِيْر بن مُرَّة قال: دخلتُ المسجدَ يومَ الجمعةِ ، فوجدتُ عوفَ بنَ مالكِ الأشجعيِّ جالسًا في حلقةٍ ، مدَّ رجلَيه بين يدَيه ، فلما رآني قبضَ رجلَيه ، ثم قال لي : تدري لأيِّ شيءٍ مددتُ رجلي ؟ ليجيءَ رجلٌ صالحٌ فيجلس

Dari katsir bin murrah ia mengatakan, saya pernah masuk masjid pada hari jumat, lalu aku mendapati A’uf bin malik al-asyjai’ duduk di suatu majlis seraya menjulurkan kedua kakinya kedepan, manakala melihatku ia menarik kakinya kemudian berkata kepada ku, tahukah kamu kenapa aku menjulurkan kedua kakiku? Itu supaya apabila datang seseorang yg saleh lalu kemudian duduk di tempat itu.

Hadis ini diriwayatkan oleh imam bukhari dalam adabul mufrod dan dinilai hasan oleh Syekh al-albani dalam sahih adabul mufrod no.1148 bab 483
Imam bukhari memberikan judul bab ini: apakah seseorang menjulurkan kakinya dihadapan orang yg duduk bersamanya?

هذا وقد عدّ كثير من الفقهاء مدّ الرجلين أمام الناس من غير حاجة وضرورة وعذر من خوارم المروءة

Banyak ulama pakar fikih yang menilai bahwa menjulurkan kaki di depan orang lain tanpa adanya kebutuhan dan tanpa alasan adalah sikap yang berlawanan dengan muruah.

كما قاله أبو بكر محمد بن الوليد الطرطوشي المالكي ، فيما نقله عنه القاضي عياض في بغية الرائد ص (39) والنووي في روضة الطالبين (232/11)

Demikianlah pandangan Abu Bakr Muhammad bin al Walid ath Thurthusi al Maliki sebagaimana dikutip oleh al Qadhi ‘Iyadh dalam Bughyah al Raid hal 39, an Nawawi dalam Raudhah al Thalibin jilid 11 hal 232,

Muruah adalah kondisi kejiwaan yang mendorong seorang manusia untuk melakukan berbagai akhlak mulia dan menjalankan berbagai tradisi masyarakat yang baik. Demikian pengertian muruah menurut al Bujairi sebagaimana dikutip dalam al Qamus al Fiqhi karya Saad Ya’bu Habib hal 377.

◾ Jangan berbisik diantara dua orang

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه -قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.

Dari Ibnu Mas’ūd beliau berkata: Rasūlullāh bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbicara/berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.” (HR. Imām Bukhāri dan Imām Muslim dan lafazhnya adalah terdapat dalam Shahīh Muslim).

Ikuti kajian materi ini oleh Ustadz Isnan Abu Abdus Syahid Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook