Kategori Artikel Akhlak dan Nasehat

Akhlaq dan Nasehat

Karakteristik Teman yang Baik

Kawan Yang BaikSeorang muslim dengan keimanannya kepada Allah, dia tidak mencintai sesuatu kecuali karena Allah, dan tidak membenci sesuatu kecuali karena Allah. Karena dia tidak mencintai selain apa yang Allah dan Rasul-Nya cinta, dan tidak membenci selain apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Jadi dengan cinta Allah dan Rasul-Nya dia mencintai, dan dengan kebencian Allah dan Rasul-Nya dia membenci.

Dalil dalam hal ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam:

"Barangsiap mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, menahan pemberian karena Allah, berarti imannya telah sempurna."(HR. At-Tirmidzi Bab Kiamat No. 60)

Berdasarkan hal ini maka semua hamba Allah yang shaleh dicintai seorang muslim dan dijadikan sebagai wali, serta semua hamba-Nya yang menjauh dari perintah-Nya dan Rasul-Nya dibenci dan dimusuhinya. Dengan sikap demikian, tidak menghalanginya untuk menjadikan mereka saudara dan teman karab karena Allah mengkhususkan mereka dengan kecintaan dan kasih yang lebih. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memotivasi agar menjadikan orang-orang seperti mereka sebagai saudara teman akrab. Hal ini sesuai dengan sabdanya:

"Seorang mukmin itu teman akrab dan bisa diajak berteman, dan tidak ada kebaikan dari yang tidak berteman dan tidak bisa diajak berteman." (HR. Ahmad, Ath-Thabrani serta Al-Hakim yang dishahihkan).

Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

“Tidak ada seorang pun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.”

Adapun adab-adab orang yang hendak mengambil temannya sebagai saudaranya (Karakteristik Teman yang Baik) adalah:

Berakal

Tidak ada kebaikan dari hubungan persaudaraan dengan orang yang bodoh dan berteman dengannya. Karena orang bodoh itu bisa membahayakan, padahal sebelumnya ia hendak mengambil manfaat.

Lawan dari berakal adalah Safih.

Merujuk kepada bahasa asalnya, kata ‘safih‘ (orang yang bodoh) memiliki kata kerja ‘safiha-yasfahu’ yang berarti bodoh. Sedang kata dasarnya (mashdar) ‘safhan’ atau ‘safaahatan’ bermakna kebodohan. Adapun bentuk jamaknya (plural) adalah ‘sufaha`u’ atau orang-orang yang bodoh.

Dalam kamus Mu’jam al-Wasith, safih adalah orang yang menyia-nyiakan hartanya, berlaku boros dan buruk kelakuannya. Sedang dalam kamus Mukhtar ash-Shihah, safih disebut lawan kata dari bijak (hilm).

Untuk urusan dunia, bisa dilihat dalam firman Allah:

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ …

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta…” (QS. An-Nisa [4]: 5).

Dari segi akhirat Safih bermakna : Kafir.

Sedang bodoh dalam agama, disebutkan misalnya, dalam firman Allah:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُواْ أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء وَلَـكِن لاَّ يَعْلَمُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kalian sebagaimana manusia beriman. Mereka berkata: Adakah kami akan beriman layaknya orang-orang bodoh yang beriman? Sesungguhnya, merekalah orang-orang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 13).

Safih juga bermakna golongan Yahudi (Albaqoroh ayat 130),

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Safih juga bermakna fasiq:

Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Nasehat Thawus kepada anaknya: Setiap orang memiliki tujuan dan tujuan yang utama adalah akhlak yang baik.

Berakhlak baik

Orang yang berakhlak buruk tiu, walaupun dia berakal, ia dikalahkan oleh syahwat atau dikuasai oleh rasa marah lalu ia menimpakan keburukan kepada temannya.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Fudhail bin Iyadh: Jika kamu bersahabat maka bersahabat lah dengan orang yang berakhlak yang baik, karena mereka hanya akan mengajak kepada kebaikan dan berkawan dengannya akan timbul ketenangan. Janganlah kalian berkumpul dengan yang buruk akhlaknya, karena mereka hanya mengajak keburukan, dan bersahabat dengannya akan menjadi susah.

Bertakwa

Karena orang fasik yang tidak mau taat kepada Rabbnya. Orang yang didekatnya tidak akan aman, karena dia bisa melakukan kejahatan kepada temannya, berupa suatu tindakn kejahatan yang tidak dia pedulikan saudara atau lainnya, karen orang yang tidak takut pada Allah, tidak akan takut kepada selain-Nya.

Komitmen dengan Al-Kitab dan As-Sunah

Jauh dari tahayul dan bid'ah, karena pelaku bid'ah itu terkadang bisa menyebabkan temannya celaka karena perbuatan bid'ahnya. Juga karena pelaku bid'ah dan orang yang menuruti hawa nafsu wajib dijauhi dan diputus hubungannya.

Semoga Bermanfaat. Baarokallohufiikum.

Ikuti Kajian Materi ini bersama Ustadz Isnan Efendi Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook