Kategori Artikel Akhlak dan Nasehat

Akhlaq dan Nasehat

Safar dan Adab-adabnya

Kajian kitab Mukhtashor Minhaajul Qashidin karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah. Disampaikan oleh Ustadz Syukron Abu Muhammad Hafidzahullah.

safar syukronSafar adalah sarana untuk melepaskan diri dari sesuatu yang hendak dijauhi atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Safar terbagi menjadi dua: Safar dengan badan kasar dari sebuah negeri dan safar dengan perjalanan hati dari asfalus safilin menuju kerajaan langit, ini adalah safar yang paling mulia.

Orang yang berhenti di atas sebuah kondisi, di mana dia tumbuh di atasnya sejak kecil, yang stagnan di atas apa yang diasupkan kepadanya melalui taklid kepada nenek moyang, adalah orang yang rela menduduki anak tangga kekurangan, menerima derajat rendah, mengganti sesuatu yang lapang selapang langit dan bumi dengan penjara yang sempit lagi gelap. (Seorang penyair berkata),

"Aku tidak melihat sesuatu pada aib-aib manusia Seperti kekurangan orang yang mampu menyempurnakan." (Syair oleh al-Mutannabi. Lihat al-Urf ath-thib karya al-Yaziji 2/36).

Hanya saja rambu-rambu safar ini sudah banyak yang tergerus, karena orang yang melakukannya masuk ke dalam bahaya besar.

Safar badaniah terbagi menjadi beberapa bagian, ia mempunyai sisi-sisi manfaat sekaligus bahaya besar, hampir sama dengan sisi positif dan negatif antara uzlah dengan berbaur, dan kami sudah menyebutkan jalan yang harus dipilih.

Di antara safar, ada safar mubah seperti safar untuk rekreasi dan jalan-jalan. Adapun berkelana di muka bumi bukan dengan tujuan dan bukan ke tempat tertentu, maka ia dilarang.

Kami meriwayatkan dari hadits Thawus bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada kerahiban, membujang, dan berkelana (tanpa tujuan) dalam Islam."(HR. Abdurrazaq dari Thawus secara mursal [hadits yang diriwayatkan oleh tabi'in langsung dari Nabi tanpa melalui sahabat, edt])

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Berkelana bukan ajaran dari Islam sedikit pun, bukan perbuatan para nabi dan bukan pula dari orang-orang shalih."

Karena safar mengacaukan hati, maka seorang yang mencari akhirat tidak seyogyanya melakukan safar kecuali untuk menuntut ilmu atau bertemu dengan syaikh yang sirahnya diteladani.

Safar mempunyai adab-adab yang dikenal dan tersebut dalam buku-buku manasik haji dan lainnya. Diantaranya:

  • Mengembalikan hak-hak orang, membayar hutang, menyiapkan nafkah orang-orang yang wajib dinafkahinya dan memulangkan amanah titipan.
  • Memilih teman perjalanan yang shalih dan mengangkat pemimpin, yaitu hendaknya menunjuk seorang ketua rombongan dalam safar, sebagaimana hadits:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَكُمْ.

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.” [Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2609).].

  • Berpamitan dengan keluarga dan rekan-rekan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berpamitan kepada para Sahabatnya ketika akan safar (bepergian), beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan do’a kepada salah seorang di antara mereka, dengan do’a:

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ.

“Aku menitipkan agamamu, amanahmu dan perbuatanmu yang terakhir kepada Allah.” [HR. Ahmad II/7, 25, 38, at-Tirmidzi no. 3443, Ibnu Hibban no. 2376, al-Hakim II/97, dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 14]

  • Shalat istikharah, dan berangkat pada hari kamis pagi.

Di dalam sebuah riwayat dijelaskan:

لَقَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِذَا خَرَجَ فِيْ سَفَرٍ إلاَّ يَوْمَ الْخَمِيْسِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bepergian senantiasa melakukannya pada hari Kamis.” [HR. Al-Bukhari no. 2949][5]

Sedangkan dalil tentang disunnahkannya untuk berangkat pagi-pagi ketika hendak melakukan perjalanan adalah:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لأُِمَّتِيْ فِيْ بُكُوْرِهَا

“Ya Allah, berkahilah ummatku pada pagi harinya.” [HR. Abu Dawud no. 2606, at-Tirmidzi no. 1212, ia berkata: “Hadits ini hasan.”]

  • Jangan berjalan sendiri, lebih banyak berjalan di malam hari, tidak melupakan doa-doa dan dzikir-dzikir bila sampai ke suatu tempat singgah atau naik ke dataran tinggi atau menuruni lembah.

Sebagaimana hadits:

اَلرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ.

“Satu pengendara (musafir) adalah syaitan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaitan, dan tiga pengendara (musafir) ialah rombongan musafir.” [Diriwayatkan oleh Ahmad (II/186), Abu Dawud (no. 2607), Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (II/978) dan at-Tirmidzi (no. 1674), ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.”].

Dan dari hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كُناَّ إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَ إِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا.

“Kami apabila berjalan menanjak mengucapkan takbir (Allahu Akbar) dan apabila jalan menurun membaca tasbih (Subhanallaah).” [HR. Al-Bukhari no. 2993-2994, Ahmad III/333, ad-Da-rimi no. 2677, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 541 dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 516].

Shalat dua raka’at di masjid ketika tiba dari safar (perjalanan), sebagaimana hadits berikut:

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ.

“Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba dari bepergian pada saat Dhuha, beliau masuk ke dalam masjid dan kemudian shalat dua raka’at sebelum duduk.” [HR. Al-Bukhari no. 3088 dan Muslim no. 2769, lafazh hadits ini berdasarkan riwayat al-Bukhari]

  • Membawa serta kebutuhannya seperti siwak, sisir, cermin, kotak celak, dan lainnya.

Yang Harus Diperhatikan Oleh Orang Musafir

Orang musafir hendaklah berbekal untuk dunia dan akhirat.

Membawa bekal dunia seperti makanan dan minuman serta apa yang dibutuhkan. Tidak patut berkata, "Saya berangkat dengan bertawakal, maka saya tidak membawa bekal." Ini adalah kedunguan, karena berbekal tidak menciderai tawakal.

Untuk bekal akhirat, ia adalah ilmu yang dia perlukan dalam bersuci, shalat dan ibadahnya, mengetahui keringanan dalam safar seperti bolehnya mengqashar dan menjamak shalat dan berbuka (tidak berpuasa), masa mengusap khuffain dalam safar, tayamum dan shalat nafilah (sunnah) di atas kendaraan yang berjalan. Semua itu tersebut dalam buku-buku fikih dengan syarat-syaratnya.

Orang musafir patut mengetahui hal-hal yang bisa berubah karena safar, yaitu ilmu tentang kiblat dan waktu, karena hal itu lebih ditegaskan dalam safar daripada saat tinggal di daerah asal.

Mencari petunjuk kiblat dengan bintang-bintang, matahari, rembulan, angin, air, gunung-gunung dan kumpulan bintang-bintang galaksi sebagaimana yang sudah dijelaskan di tempatnya, dan wajah gunung-gunung dianggap menghadap kiblat.

Untuk kumpulan bintang-bintang, di awal malam terbentang di atas pundak kiri orang yang shalat menghadap ke arah kiblat, kemudian kepalanya berbelok sehingga di akhir malam berada di atas pundak kanannya, kumpulan bintang galaksi ini disebut dengan pelita-pelita langit.

Mengetahui waktu-waktu shalat, sangatlah diperlukan. Waktu Zhuhur masuk dengan tergelincirnya matahari, dengan cara hendaknya musafir menegakkan sebuah kayu yang lurus, memberinya tanda pada ujung bayangan dan memperhatikannya, bila dia melihatnya masih kurang, maka waktu Zhuhur belum masuk, bila mulai bertambah maka matahari sudah tergelincir dan waktu Zhuhur masuk, ini adalah awal waktu Zhuhur dan akhirnya adalah saat bayangan benda sama panjangnya dengan benda itu sendiri.

Kemudian masuk waktu Ashar dan akhirnya adalah saat bayangan benda telah mencapai panjang dua kali panjang benda.

Dari Imam Ahmad diriwayatkan bahwa akhir waktunya adalah selama matahari belum mengurung, kemudian habis waktu ikhtiari, sisanya adalah waktu boleh sampai terbenam matahari, sisa waktu lainnya sudah diketahui.

 Ikuti kajian materi ini:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook