بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Harian Ramadhan 1446
🎙️ Bersama Ustadz Syamsul Akhyar 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
🗓️ Doha, 15 Ramadhan 1446 / 15 Maret 2025
Akrab dengan Al-Qur’an
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi ﷺ kita diingatkan dengan pertanyaan akrabkah kita dengan Al-Qur’an? Seberapa dekatkah dengan Al-Qur’an terutama di bulan Ramadhan?
Iman kepada Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 285:
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.
Dalam hadits Jibril, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, menjelaskan rukun iman yang meliputi: beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir (baik dan buruk).
Lebih dekat dengan Al-Qur’an
Akrab” dalam bahasa Arab bisa diartikan sebagai “أَقْرَب” (aqrab) yang berarti “lebih dekat”. Maka akrab dengan Al-Qur’an bermakna lebih dekat dengan Al-Qur’an.
Pengumpulan Al-Qur’an
Pengumpulan Al-Qur’an dimulai sejak masa Nabi Muhammad dan berlangsung hingga masa Khalifah Utsman bin Affan.
Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad ﷺ :
- Pengumpulan Al-Qur’an dilakukan dengan cara tulisan (jam’u fi as-suthur) dan hafalan (jam’u fi ash-shudur).
- Penulisan Al-Qur’an dilakukan pada pelepah kurma, tulang, daun lontar, kulit kayu, pelana, dan potongan tulang belulang binatang.
- Nabi ﷺ Muhammad membacakan wahyu yang diterima kepada para sahabat.
- Rasulullah mengirimkan 70 penghafal Al-Qur’an, tetapi terbunuh di dekat sumur Ma’unah pada perang Yamamah.
Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu’anhu :
- Pengumpulan Al-Qur’an secara tertulis secara resmi dilakukan pada masa kekhalifahan Abu Bakr.
- Zaid bin Tsabit terpilih untuk mengumpulkan Al-Qur’an.
- Al-Qur’an yang dikumpulkan disimpan oleh Abu Bakr sampai wafat, lalu dipegang Umar semasa hidupnya, kemudian disimpan oleh Hafshah bint Umar.
Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu’anhu
Transformasi dan pembukuan Al-Qur’an menjadi teks selesai dilakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan.
- Perbedaan cara membaca (qiraat) Al-Qur’an di berbagai daerah menyebabkan ketidakpastian dan potensi perselisihan di kalangan umat Islam.
- Para sahabat yang tersebar di berbagai wilayah memiliki bacaan Al-Qur’an yang berbeda, yang mereka terima dari Rasulullah ﷺ. Contohnya, penduduk Syam mengikuti qiraat Ubay bin Ka’ab, sedangkan Kufah mengikuti qiraat Abdullah bin Mas’ud.
Tindakan Khalifah Utsman:
- Khalifah Utsman membentuk tim yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk mengumpulkan dan menyusun mushaf Al-Qur’an.
- Mushaf yang menjadi dasar adalah mushaf yang ditulis oleh Hafshah binti Umar, putri Umar bin Khattab.
- Tim ini diminta menduplikasi mushaf Hafshah agar tidak terjadi lagi perbedaan dalam cara membaca dan menulis Al-Qur’an.
Mushaf Utsmani:
- Mushaf yang selesai ditulis oleh tim Zaid bin Tsabit dikenal sebagai Mushaf Utsmani.
- Mushaf Utsmani kemudian dikirimkan ke seluruh wilayah Islam untuk dijadikan sebagai standar.
- Khalifah Utsman juga memerintahkan agar mushaf versi lain yang beredar sebelum Mushaf Utsmani dibakar.
Ulama yang pertama kali memberi titik (tanda baca) pada mushaf Al-Qur’an adalah Imam Abul Aswad Addualī (w. 62 H) atas perintah gubernur Basrah, Ziyād bin Ziyād (45-53 H) pada masa pemerintahan Bani Umayyah.
Sementara pada sisi qiraat yang sering kita baca sekarang ini adalah jalur Hafs – Ashim. Pada jalur periwayatan ilmu qira’at, Imam Hafs merupakan perawi dari qira’at Imam Ashim. Beliau yang melanjutkan estafet qira’at Imam Ashim, bahkan disebut sebagai murid yang paling mengetahui bacaan Imam Ashim di antara murid-murid yang lain.
Al-Qur’an adalah Kalamullah
Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam, yang merupakan firman Allah ﷻ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, secara berangsur-angsur dan sebagai mukjizat bagi beliau dan dinilai ibadah jika membacanya.
Dalil turunnya Al-Qur’an tercantum dalam Al-Qur’an sendiri, yaitu:
Surat Al-Qur’an, surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Dalam Surat Al-Isra Ayat 106:
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَٰهُ لِتَقْرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَٰهُ تَنزِيلًا
Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.
Selain itu, ada juga riwayat dari Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada pertengahan Ramadhan.
Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas disebutkan: Al-Qur’an diturunkan pada pertengahan bulan Ramadhan di langit dunia, kemudian ditempatkan di Baitul ‘Izzah. Kemudian, Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW dalam periode dua puluh tahun sebagai jawaban atas perkataan manusia. (Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Baqarah ayat 185).
Nama Lain Nama Al-Qur’an
Berikut adalah beberapa nama lain Al-Qur’an beserta artinya:
- Al-Kitab: Kitab
- Al-Huda: Petunjuk
- Al-Furqan: Pembeda
- Az-Zikr: Pengingat
- Asy-Syifa: Penyembuh
- Al-Haq: Kebenaran
- Al-Mauizhah: Nasihat
- Al-Bayan: Penjelas
- Ar-Rahmah: Rahmat
Tahapan Turunnya Al-Qur’an:
– Pertama: Al-Qur’an diturunkan secara utuh (secara sekaligus) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. (maka disebut bulan Al-Qur’an).
– Kedua: Kemudian, Al-Qur’an diturunkan dari Baitul Izzah ke bumi secara bertahap (secara berangsur-angsur) selama kurang lebih 23 tahun melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.
Hak Muslim terhadap Al-Qur’an
Sebagai seorang muslim, hak kita terhadap Al-Qur’an adalah untuk mengimani, mempelajari, membaca, memahami, mengamalkan, dan mengajarkannya.
Agar dekat dengan Al-Qur’an
1. Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an secara rutin akan meningkatkan kecintaan dan pemahaman terhadap kitab suci ini.
– Pahala Membaca Al-Qur’an Terbata-Bata:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia (bersih dari maksiat) dan taat dalam kebaikan. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan ketika membacanya, maka baginya dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 4937 dan Muslim, no. 798]
Imam Qatadah membaca Al-Qur’an setiap seminggu di luar Ramadhan. 3 hari sekali dibulan Ramadhan dan 1 kali sehari di akhir 10 hari Ramadhan.
Imam Syafi’i rahimahullah mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali.
2. Menghafalkan Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an adalah amalan mulia yang dianjurkan dalam Islam, yang melibatkan mengingat ayat-ayat Al-Qur’an dengan sempurna dan menyimpannya di dalam hati. Keutamaan menghafal Al-Qur’an meliputi pahala berlipat ganda, syafaat di hari kiamat, dan kedudukan tinggi di dunia dan akhirat.
3. Mempelajari dan Memahami Al-Qur’an.
Kita wajib mempelajari isi kandungan Al-Qur’an, baik melalui membaca terjemahan, tafsir, atau mengikuti pengajian. Kita juga dianjurkan untuk mentadabburi (merenungkan) makna dan isi kandungan Al-Qur’an.
Imam Thabari, seorang tokoh ulama besar, mengungkapkan rasa heran melihat orang yang membaca Al-Qur’an tanpa berusaha memahami maknanya, menekankan pentingnya pemahaman dan refleksi dalam berinteraksi dengan kitab suci tersebut.
4. Mengamalkan Al-Qur’an:
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tindakan maupun perkataan.
Surat Al-Baqarah Ayat 2:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
Ancaman orang yang membaca Al-Qur’an tapi tidak mengamalkan.
Hal ini diungkapkan di dalam hadits Samurah bin Jundub yang panjang, akan tetapi di dalam kesempatan ini saya akan mengungkapkan bagian yang berhubungan dengan masalah yang kita bahas saja, di dalam hadits tersebut diungkapkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَأَنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ وَإِذَا هُوَ يَهْوِي عَلَيْهِ بِالصَّخـْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلَغُ بِهَا رَأْسَهُ فَيَتَدَهْدَهُ الْحَجَرُ هَاهُنَا فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ يَأْخُذُهُ فَمَا يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ اْلأُولَى.
“Kami mendatangi seseorang yang sedang berbaring, dan satu orang yang lainnya sedang berdiri dengan memegang batu, tiba-tiba saja orang tersebut melemparkan batu itu ke kepala orang (yang pertama). Dia memecahkan kepalanya, kemudian batu tersebut menggelinding ke sini, dia mengikuti batu dan mengambilnya dan tidak kembali lagi sehingga dia pulih seperti semula. Kemudian orang tadi kembali dan melakukan apa yang ia lakukan pada kali pertama.”
Lalu di akhir hadits diterangkan alasan dengan perkataan dua Malaikat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَمَّا الرَّجُلُ اْلأَوَّلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ فَإِنَّهُ رَجُلٌ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ
“Adapun orang pertama yang kepalanya pecah dengan batu adalah orang yang mempelajari al-Qur-an tetapi dia menolaknya dan tidur meninggalkan shalat wajib.” Al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz (no. 1386), bab (93).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم