بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Harian Ramadhan 1446
🎙️ Bersama Ustadz Hari Susanto Abu Tsabit 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
🗓️ Wakra, 29 Ramadhan 1446 / 29 Maret 2025
Agar Kalian Bertakwa
Takwa secara bahasa berasal dari kata Al Wiqoyah (الوقاية), artinya pagar atau pelindung dari sesuatu yang akan membahayakan. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah ta’ala,
وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
“Kami menjaga mereka dari azab neraka.” (QS. Ad-Dukhon: 56)
Maka takwa adalah Menjaga diri dari adzab Allah ﷻ dengan menjalankan perintah Allah ﷻ dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Keutamaan takwa
1. Mendapatkan cinta Allah ﷻ
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَّقِينَ
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah ayat 4).
2. Sebab Keberuntungan Seseorang
وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS Al-Baqarah ayat 189)
3. Sebab datangnya jalan keluar
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Ath-Tholaq ayat 2-3).
4. Mendapatkan ilmu dan Pemahaman
وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُ ۗ
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; (QS Al-Baqarah ayat 282).
5. Kesudahan yang baik
وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.
Tujuan Puasa adalah Takwa
Hal ini sudah Allah ta’ala jelaskan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Ramadhan adalah madrasah bagi orang-orang yang beriman. Dengan gelar Orang yang bertakwa. Namun tidak semua orang mengaku dia bertakwa. Karena takwa adanya di hati, bukan titel yang dipajang.
Dan takwa terberat adalah disaat sendirian, maka Bertaqwalah dimanapun kau berada.
اتق الله حيثما كنت…
Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kau berada,… (HR Ahmad).
Muhasabah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »
“Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)
Evaluasi diri dari apa-apa yang telah kita lakukan agar ada kesempatan memperbaiki diri. Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata :
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”
Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Shifatul Qiyamah, disebutkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Zuhud-nya. Dan Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin 1/319
Ada dua jenis muhasabah : sebelum amal dan setelah amalan.
1. Muhasabah yang Dilakukan sebelum Beramal.
Kita berdiam diri dulu ketika mempunyai keinginan, jangan dieksekusi untuk kemudian apakah diputuskan dengan cara melihat apakah sanggup dan lahir dari niat ikhlas karena Allah ﷻ atau bukan.
2. Muhasabah yang Dilakukan setelah beramal.
Mengoreksi amalan ketaatan yang didalamnya terdapat kekurangan terhadap haknya Allah ﷻ.
Banyak prestasi amalan-amalan yang kaum muslimin lakukan di dalam bulan Ramadhan yang patut disyukuri, yaitu:
1. Kemampuan mengerjakan amalan-amalan yang wajib ditambah dengan yang sunnah, seperti shalat rawatib, shalat lail, sedekah, membaca Al-Qur’an, dll.
2. Prestasi menjauhi maksiat dan kebiasaan buruk. Seperti kemampuan mengendalikan diri dan menjauhi nafsu amarah.
Maka, alangkah baiknya jika dua prestasi ini dipertahankan setelah bulan Ramadhan. Terdapat sebuah ungkapan dari salaf kita:
ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ
“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.”
Karena hanya kematian yang dapat menghentikan amal. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr Ayat 99:
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 92:
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَٰنَكُمْ دَخَلًۢا بَيْنَكُمْ أَن تَكُونَ أُمَّةٌ هِىَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ ٱللَّهُ بِهِۦ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ مَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.
Selalu Waspada…
Janganlah membatalkan semua amalan dengan kesyirikan.
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالاَيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الاَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Barangsiapa yang kafir sesudah maka hapuslah amalannya dan ia di hari Akhirat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Maidah [5]: 5)
Atau amalan Shodaqah dengan menyebut-nyebut amalan sebelumnya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 264:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ
Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima),
Jangan sampai berbuat dzalim hingga menjadi bangkrut…
Oleh karena itu, seorang hamba yang telah terlanjur melakukan kezhaliman kepada orang lain hendaknya menyelesaikan urusannya secepat mungkin, dengan meminta maaf, meminta halal, atau mengembalikan hak-haknya dan menyelesaikan urusannya. Jika tidak, maka hal itu tetap akan diadili pada hari kiamat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat Radhiyallahu anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) shalat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.”
[HR. Muslim, no. 2581]
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita dan keluarga kita menjadi orang yang bertakwa.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم