Example of Category Blog layout (FAQs/General category)

Qashashul Anbiyaa : Kisah Nabi Luth 'Alaihissalam ( 1-2)

KISAH NABI LUTH 'Alaihissalam (1-2)

Kisah Nabi Luth 'Alaihissalam mengiringi kisah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, karena ia adalah muridnya, dimana ia telah belajar kepada Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan kedudukannya bagi Nabi Ibrahim 'Alaihissalam ialah sebagai anak (karena ia ialah putra saudara laki-lakinya).

Allah telah menceritakan kepadanya mengenai kehidupan Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan mengutusnya ke negeri Sadum salah satu dataran rendah di Palestina, yang penduduknya telah musyrik kepada Allah dan kaum laki-lakinya homoseks; dan tidak ada seorang pun yang mendahului mereka dalam perbuatan keji dan kotor tersebut. Kemudian Nabi Luth 'Alaihissalam menyeru mereka supaya beribadah kepada Allah dan mengesakan-Nya, dan mengingatkan mereka mengenai akibat buruk dari perbuatan keji tersebut, tetapi mereka tidak bertambah kecuali kesombongan dan tekun dalam perbuatan keji mereka tersebut.

Ketika Allah bermaksud membinasakan mereka, maka Allah mengutus para malaikat, maka mereka pun melewati jalan kaum tersebut menemui Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan mengabarinya mengenai pembinasaan kaum tersebut, dimana Nabi Ibrahim 'Alaihissalam mendebat pembinasaan mereka –karena merasa kasihan terhadap mereka-, seraya berkata, “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Para malaikat berkata, “Kami lebih mengetahui siapa yang di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (Al-Ankabut: 32) Dikatakan kepadanya, “Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi adzab yang tidak dapat ditolak.” (Hud: 76)

Ketika para malaikat datang kepada Nabi Luth 'Alaihissalam dalam wujud para pemuda, maka Nabi Luth 'Alaihissalam pun merasa susah dan dadanya pun terasa sempit, seraya berkata, “Ini adalah hari yang amat sulit.” (Hud: 77) Karena ia mengetahui perbuatan keji yang biasa dilakukan kaumnya.

Apa yang dikhawatirkannya ternyata menjadi kenyataan, dimana kaumnya mendatanginya dengan tergesa-gesa bermaksud melakukan perbuatan keji terhadap para tamu Nabi Luth 'Alaihissalam, seraya berkata, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu.” (Hud: 78) Karena ia mengetahui; bahwa tidak ada hak bagi mereka atas para tamunya, sebagaimana yang dilakukan Nabi Sulaiman 'Alaihissalam terhadap dua orang wanita yang berselisih memperebutkan seorang anak, seraya berkata, “Bawalah pisau ke hadapanku! Aku akan membaginya di antara kamu berdua.” Dimaklumi; bahwa Nabi Sulaiman tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Perkataan Nabi Luth 'Alaihissalam di atas setara dengan perkataan Nabi Sulaiman 'Alaihissalam tersebut.

Berkenaan dengan perkataan itu maka kaumnya menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” (Hud: 79) Yakni kaumnya menghendaki sebagian pemuda dari para tamunya.

Merujuk penafsiran tersebut maka tidak perlu berpaling lagi kepada pendapat sebagian ahli tafsir yang menafsirkan, “inilah puteri-puteriku” dengan istri-istri mereka, karena seorang nabi adalah bapak bagi umatnya. Pendapat itu tidak tepat ditinjau dari dua sisi:

Pertama, bahwa perkataan Nabi Luth 'Alaihissalam, “Inilah puteri-puteriku” merupakan isyarat yang ditujukan terhadap mereka (puteri-puteri) dan isyarat tersebut ditujukan kepada orang yang hadir.

Kedua, memutlakkan perkataan Nabi Luth 'Alaihissalam tersebut di atas kepada istri-istri mereka tidaklah memiliki alasan dan ada dasar hukum yang kuat.

Kemudian seorang nabi hanya menjadi bapak bagi kaum mukminin, dan tidak bagi kaum kafirin.

Bahaya yang tidak dikehendakinya yang membingungkannya berkenaan dengan kehadiran para tamunya itu menjadi hilang karena alasan sebagaimana yang telah kami kemukakan, dan ia mengetahui; bahwa tidak ada hak bagi mereka (kaumnya) atas puteri-puterinya, dimana perkataannya itu dimaksudkan untuk menolak keinginan mereka (kaumnya) dengan berbagai cara.

Masalah itu terasa sulit bagi Nabi Luth 'Alaihissalam, sehingga ia berkata, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).” (Hud: 80) Yakni pasti aku akan menolakmu. Ketika ia melihat mereka berketetapan hati untuk melaksanakan keinginan mereka yang keji, maka ia pun berkata, “Bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (Hud: 78).

Ketika mereka berketetapan hati dalam kedurhakaan dan perbuatan keji mereka, maka ketika itu para malaikat utusan Allah memberitahukan kepada Nabi Luth 'Alaihissalam mengenai perintah yang diemban mereka, bahwa mereka diutus untuk membinasakan kaum tersebut. Kemudian Jibril serta malaikat yang lainnya menabrak orang-orang yang menabrak pintu supaya mereka bisa masuk menemui Nabi Luth 'Alaihissalam. Akibat dari tabrakan itu maka mata-mata mereka menjadi buta, dan itu merupakan adzab yang kontan (di dunia) dan sebagai contoh bagi orang-orang yang merasa senang membujuk serta mengganggu Nabi Luth 'Alaihissalam supaya menyerahkan para tamunya. Para malaikat menyuruh Nabi Luth 'Alaihissalam supaya pergi dengan keluarganya pada awal malam dan mempercepat langkah saat pergi; sehingga dapat meninggalkan negeri mereka dengan segera serta selamat dari adzab yang menyakitkan.

Kemudian Nabi Luth 'Alaihissalam pergi bersama mereka; dan tidak sampai waktu Subuh mereka telah meninggalkan negeri mereka, dan Allah membalikan negeri mereka sehingga bagian atasnya berada di bawah serta bagian bawahnya berada di atas, dan Allah pun menurunkan di atasnya hujan “batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim.” * (Hud: 82-83). Yakni adzab tersebut tidak jauh dari orang-orang yang melakukan perbuatan keji tersebut.

Catatan:

* Dikatakan bahwa batu-batu itu berbentuk seperti cincin dan dikatakan bahwa pada masing-masing batu tertulis nama orang yang akan dilempar dengannya. Lihat: Fath Al-Qadîr (2/516) karya Asy-Syaukani.