Example of Category Blog layout (FAQs/General category)

Keutamaan Bulan Muharam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu. [at Taubah/9:36]

Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).

Bulan Muharram menyimpan peristiwa besar serta tanda kekuasaan Allah, di bulan ini Allah menyelamatkan Nabi Musa beserta kaumnya dari Firaun dan bala tentaranya.

Selanjutnya: Keutamaan Bulan Muharam

Mengkaji Ulang Peringatan Nuzulul Qur'an

 sahrul ramadhanPada bulan Ramadhan banyak umat Islam yang menggelar acara peringatan Nuzulul Qur'an. Untuk itu perlu kiranya kali ini menyoroti masalah Nuzulul Qur'an, hukum memperingatinya dan fungsi utama diturunkannya Al-Qur'an.

Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur'an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling tidak ada tiga pendapat :

Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an itu ada pada bulan Rabiul Awwal,

Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an itu pada bulan Rajab,

Ketiga: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an itu pada bulan Ramadhan.

Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallaahu anhu).

Selanjutnya: Mengkaji Ulang Peringatan Nuzulul Qur'an

30 Renungan Seputar Hari ‘Asyura

musa

Penulis: Aqiil bin Saalim as-Syammari
Penerjemah: Syafar Abu Difa

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tecurah atas Nabi pilihan, Muhammad Sholallohu'alaihi wasallam.

Adapun selanjutnya:

Pada hari-hari ini umat Islam melewati kejadian besar yang berelevansi (berkaitan) dengan umat terdahulu yaitu hari Asyuro. Dengan senang hati dalam kesempatan singkat ini akan saya utarakan perkara-perkara yang saya pandangan penting, yang saya ambil dari sunnah Nabi Sholallohu'alaihi wasallam terkait hari Asyuro ini.

1.   Hari Asyuro adalah kejadian bersejarah sepanjang perjalanan ummat manusia. Yang porosnya adalah peperangan antara keimanan dan kekafiran. Karenanya, ummat jahiliahpun memuasainya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Aisyah –semoga Allah meridhoinya- bahwa bangsa Quraisy dahulu memuasai hari Asyuro di masa jahiliah."

2.   Hari Asyuro mengikat sebagian ahli iman dengan sebagian yang lain. Sekalipun berbeda bangsa, bahasa dan zaman. Mulanya adalah ikatan iman antara Nabi Musa dan orang-orang beriman yang ada bersamanya, kemudian meluas kepada siapa saja yang menyertai mereka dalam keimanan itu.

3.   Mendidik hati-hati kaum mukminin akan kecintaan dan kegelisaahan yang sama diantara mereka. Dengan memuasainya, manusia menjadi ingat kejadian bersejarah yang terjadi pada saudara-saudaranya sekeyakinan bersama Musa –alaihi salam- dahulu, bagaimana pelarian dan penderitaan mereka akibat penyiksaan yang diperbuat ahli kufur.

4.    Hari Asyuro menunjukkan bahwa sebagian nabi memiliki keutamaan yang lebih dibanding sebagian yang lain, sebagaimana yang disebutkan di dalam riwayat:

أَنَا أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ

"Aku lebih berhak (meneladani) Musa daripada kalian."

Loyalitas ini karena kesamaan keyakinan dan risalah (penugasan).

5.   Puasa Asyuro menunjukkan bahwa umat ini lebih berhak terhadap nabi-nabi dari umat terdahulu daripada kaumnya sendiri yang mendustakan mereka. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat hadits Nabi di dalam as Shahihain yang mengatakan:

أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْهُمْ

"Kalian lebih berhak kepada Musa daripada mereka."

Ini adalah diantara kelebihan ummat Muhammad di sisi Allah. Mereka nantinya akan menjadi saksi atas para nabi bahwa nabi-nabi itu telah penyampaikan agama (yang diembankan) pada hari kiamat.

6.   Hari Asyuro mendidik muslim atas persaudaraan di atas agama semata, karena itulah Nabi Sholallohu'alaihi wasallam bersabda, "Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka."

Yang demikian tidak lain karena ikatan agama di antara kita; jika tidak, tentu Bani Israil lebih dekat kepada Musa –alaihi salam- dari sisi nasab (keturunan).

7.   Hari Asyuro mengingatkan penduduk bumi secara umum akan pertolongan Allah kepada para walinya. Hal ini memperbaharui dalam hati pencarian akan pertolongan Allah dan sebab-sebabnya disetiap tahun.

8.   Hari Asyuro mengingatkan penduduk bumi secara umum akan kekalahan yang Allah berikan kepada musuh-musuh-Nya. Hal ini memperbaharui dalam hati harapan dan membangkitkan optimisme.

9.   Hari Asyuro adalah bukti atas beragamnya pertolongan Allah kepada kaum muslimin. Bentuk pertolongan Allah tidak musti kekalahan musuh (dalam perang) dan perolehan ghanimah (harta rampasan perang). Tetapi terkadang pertolongan bentuknya kebinasaan musuh dan menyelamatkan kaum muslimin dari keburukan musuhnya, sebagaimana yang terjadi pada Musa –alaihi salam- dan sebagaimana yang terjadi pada Nabi Sholallohu'alaihi wasallam pada perang Khandak.

10.    Hari Asyuro menekankan lagi kewajiban menyelisihi petunjuk orang-orang musyrikin, hingga dalam urusan ibadah. Penyelisihan itu ditunjukkan dengan:

  1. Ketika dikatakan kepada Nabi Sholallohu'alaihi wasallam: "Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nasrani menjadikan Asyuro sebagai hari raya!" Nabi mengatakan, "Berpuasalah kalian pada hari itu."[1]
  2. Nabi Sholallohu'alaihi wasallam memerintahkan untuk memuasai sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, dan disitu ada pembicaraan.

11.     Siapa yang merenungkan hadits-hadits hari Asyuro akan jelas baginya bahwa asal penyelisihan kaum muslimin terhadap kaum musyrikin adalah sesuatu yang telah menghujam pada diri para sahabat Nabi. Hal itu dibuktikan bahwa ketika mereka mengetahui puasa ahlulkitab bersamaan dengan puasa mereka, serta-merta mereka bertanya kepada Rasulullah r dengan mengatakan: "Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nasrani memuasai hari ini!" Seolah mereka ingin mengatakan: "Wahai Rasulullah, Engkau mengajarkan kami menyelisihi kaum Yahudi dan Nasrani, sekarang mereka memuasainya, maka bagaimana kami menyelisihinya?"

12.    Hari Asyuro adalah bukti bahwa menjadikan suatu moment sebagai perayaan adalah kebiasaan sepesial kaum Yahudi sejak dahulu. Karenanya mereka menjadikan hari Asyuro sebagai hari raya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa –semoga Allah meridoinya-, dia berkata: "Dahulu penduduk Khaibar (Yahudi) memuasai Asyuro dan menjadikannya hari raya. Pada hari itu para wanita mengenakan perhiasan-perhiasan dan lencana mereka." [Hadits riwayat Muslim]

Adapun ummat ini, telah Allah tetapkan bagi mereka dua 'Id (dua hari raya, Idul Fitri dan Idulu Adha) tanpa ada yang ketiga.

13.    Hari Asyuro adalah bukti dualisme dalam kehidupan kaum Yahudi dan Nasrani, dimana mereka konsisten memuasai Asyuro padahal tidak diwajibkan dalam agama mereka. Mereka hanyalah meniru Nabi Musa –alaihi salam-, sementara perkara yang paling penting yang berkaitan dengan pokok agama dan peribadatan kepada Allah mereka tinggalkan yaitu mengikuti Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam.

14.    Hari Asyuro adalah bukti bahwa kewajiban dalam syari'at tidak dapat disebandingkan keutamaan dan kedudukannya (dengan ibadah lainnya). Oleh karenanya, ketika Allah mensyari'atkan (mewajibkan) ummat ini untuk berpuasa Ramadhan puasa Asyuru menjadi perkara yang dikembalikan kepada kehendak. Karenanya Nabi Sholallohu'alaihi wasallam bersabda di dalam hadits Qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

"Tidaklah seorang hamba mendekat kepadaku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang telah aku wajibkan atasnya" [Mutafak alaih]

15.    Hari Asyuro adalah bukti bahwa ibadah nawafil (sunnah) sebagiannya lebih tinggi derajatnya  dibanding sebagian yang lain. Penjelasannya: bahwa orang yang puasa Arafah dihapus dosanya setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Sedangkan puasa Asyuro hanya dihapus dosanya setahun sebelumnya. Orang beriman senantiasa mengupayakan yang lebih utama dan sempurna.

16.    Puasa Asyuro adalah bukti akan kemudahan agama. Hal ini sebagaiamana sabda Nabi Sholallohu'alaihi wasallam,

فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَصُوْمَهُ فَليَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَ فَليَترُكْهُ

"Siapa berkehendak memuasainya silahkan memuasainya dan siapa yang berkehendak meninggalkannya silahkan meninggalkannya." [Mutafak alaih]

17.    Puasa Asyuro adalah bukti atas keagungan Allah I. Dimana Allah memberi balasan yang besar atas amal yang sedikit. Dosa (kecil) setahun penuh dihapuskan hanya dengan berpuasa satu hari.

18.    Puasa Asyuro adalah bukti adanya naskh (penghapusan/pergatian hukum) dalam syari'at ummat Muhammad  Sholallohu'alaihi wasallam sebelum beliau wafat. Dimana pada mulanya puasa Asyuro diwajibkan kemudian diganti menjadi istihbab (disukai).

19.    Penetapan adanya Nask (pergantian hukum) puasa Asyuro atau hukum yang lain adalah bukti hikmah Allah subhaanahu wata'aala dimana Dia menghapus dan menetapkan sehendak-Nya, mencipta dan memilih sekehendak-Nya.

20.    Puasa Asyuro adalah bukti bahwa rasa syukur direalisasikan dengan perbuataan sebagaimana dilakukan juga dengan ucapan hingga pada ummat terdahulu. Nabi Musa –alaihi salam- memuasai hari Asyuro adalah sebagai bentuk syukurnya kepada Allah subhaanahu wata'aala. Inilah manhaj (perilaku) para nabi. Sebagaimana juga yang dilakukan oleh Nabi Dawud –alaihi salam- dan ditutup oleh Nabi Muhammad Sholallohu'alaihi wasallam yang senantiasa melakukan shalat malam. Ketika ditanya tentang shalat malamnya beliau menjawab,

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْداً شَكُوْراً

"Bukankah sudah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur." [Mutafakun alaihi]

21.    Siapa yang merenungkan hadits-hadits yang ada, jelaslah baginya bahwa orang yang tidak memuasainya tidak diingkari. Dahulu Ibnu Umar tidak memuasainya kecuali jika bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukannya. [Riwayat al-Bukhari].

22.    Puasa Asyuro merupakan pendidikan bagi manusia untuk berlomba-lomba dan bersaing dalam kebaikan. Setelah Nabi Sholallohu'alaihi wasallam menjelaskan keutamaan Asyura, beliau mengembalikannya kepada kehendak pelakunya. Dengan demikian terlihatlah siapa yang berlomba memburu kebaikan dan yang tidak.

23.    Puasa Asyuro mendidik manusia akan adanya perbedaan perbuatan (aktifitas) dengan tanpa mengingkari sebagian yang satu dengan sebagian yang lain, selama perkaranya memang terbuka untuk berbeda. Karenanya dahulu sebagian sahabat memuasainya dan sebagian lagi tidak. Meskipun demikian tidak ada berita yang dinukilkan bahwa mereka saling menyalahkan atau menuduh (yang tidak melakukannya) lemah iman dan lain sebagainya.

24.    Puasa Asyuro adalah bukti bersegera dalam menyambut perintah Allah dan Rasul-Nya. Diriwayatkan dalam as-Shahihain dari hadits Salamah t, bahwa Nabi r mengutus seorang lelaki untuk mengumumkan kepada manusia akan masuknya hari Asyuro, bahwa 'siapa yang sedang makan boleh meneruskan atau menghentikannya lalu berpuasa, dan siapa yang belum makan maka janganlah dia makan.'

Seruan itu disambut oleh para sahabat. Mereka tidak lagi bertanya-tanya atau mendiskusikannya, tetapi bersegera melakukannya. Karena itu wajib bagi seorang muslim dalam lakunya mengejawantahkan perintah-perintah Allah.

25.    Dahulu para sahabat Nabi y mendidik anak-anak mereka yang belum balikh untuk memuasai hari Asyuro, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ar-Robi' binti Ma'udz –semoga Allah meridhoinya-, dia berkata, "Kami memuasainya demikin pula anak-akan kecil kami." [Mutafak Alaihi].

26.    Upaya para sabahat Nabi –semoga Allah meridhoi mereka semua- dalam membiasakan anak-anak kecil mereka untuk berpuasa Asyuro adalah bukti bahwa seyogyanya syi'ar agama ditampakkan di tengah masyarakat, sekalipun kepada mereka yang belum terbebani melakukan kewajiban, agar terdidik untuk peduli dengan agama ini dan pemeluknya.

27.    Pendidikan yang sungguh-sungguh agar kuat bertahan dan bersabar. Karenanya para sahabat Nabi membiasakan anak-anak kecil mereka untuk berpuasa hingga ar-Rabi' binti Ma'udz –semoga Allah meridhoinya- berkata, "Jika salah seorang dari anak-anak yang berpuasa itu menangis karena lapar, kami beri dia mainan yang terbuat dari bulu." [Mutafak alaihi]

28.    Hari Asyuro menunjukkan bahwa berita yang datang dari Ahlulkitab dapat diterima, selama tidak bertentangan dengan syari'at kita. Hal itu ditunjukkan dari: hari Asyuro adalah hari dimana Nabi Musa (bersama pengikutnya) diselamatkan dari tenggelam di lautan, dan itu adalah berita ahlulkitab, meskipun Nabi Sholallohu'alaihi wasallam bisa jadi diwahyukan akan kebenaran berita itu. Pada yang demikian itu termasuk keadilan walau dengan musuh sekalipun dan itu bukan suatu yang tersembunyi.

29.    Kita lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada Ahlulkitab yang mendustakannya dari berbagai sisi:

1)   Kita mepercayainya dan mengimaninya sekalipun belum pernah melihatnya. Berbeda dengan kaumnya yang mendustakannya.

2)   Nabi Musa menyerukan tauhid (pengesaan Allah) sebagaimana yang diseru oleh Nabi kita Sholallohu'alaihi wasallam. Bahkan tidak berbeda sedikitpun dari sisi ini.

3)   Kita mempersaksikan bahwa Nabi Musa telah menyampaikan agama Allah yang menjadi tanggung jawabnya dan telah menunaikan risalah kerasulannya.

4)   Kita tidak menyakitinya dengan celaan dan tuduhan. Berbeda dengan mereka yang mengatakan bahwa Nabi Musa aadar (berpenyakit kulit atau kelamin).

Firman Allah subhaanahu wata'aala:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan." (QS.al-Ahzab:69)

5)   Kita bersaksi bahwa jika Nabi Musa hidup di masa Nabi Muhammad Sholallohu'alaihi wasallam, tidak ada pilihan baginya selain mengikuti Nabi Muhammad Sholallohu'alaihi wasallam.

6)   Kita mengimani dengan apa yang dibawa oleh Nabi Musa –alaihi salam- dalam perkara aqidah (keyakinan) sekalipun kita belum pernah membaca atau mengetahuinya.

7)   Kita bersaksi bahwa seluruh ummat Nabi Musa yang tidak mengikuti Nabi Muhammad Sholallohu'alaihi wasallam, Nabi Musa berlepas diri darinya.

8)   Apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Sholallohu'alaihi wasallam dan yang dibawa oleh Nabi Musa –alaihi salam- berasal dari sumber yang sama sebagaimana yang dikatakan oleh An-Najasyi (raja Ethopia).

Inilah beberapa faidah dan renungan. Saya meminta kepada Allah semoga menjadikannya bermanfaat, dan senantiasa melindungi kita, menolong agama, al-Quran serta sunah nabi-Nya Sholallohu'alaihi wasallam.


[1] Hari raya adalah hari kegembiraan yang diantaranya diisi dengan makan-makan. Dengan berpuasa berarti telah menyelisihi ahlulkitab.

Artikel: www.islamhouse.com

Sang Penakluk Maghrib dan Andalusia

hud-120Ikhwati fillah, dalam tulisan ini saya mengajak Anda untuk menyimak biografi singkat Al Imam Al Kabir, Musa bin Nushair Sang Penakluk Andalusia.

Pernahkah Anda mendengar tentangnya? Jika belum, marilah kita simak biografi singkatnya sebagai berikut.

Dialah Musa bin Nushair yang lahir tahun 19 H.Seorang panglima yang disegani, ahli siasat dan lelaki yang bertekad bulat. Beliaulah yang memimpin armada laut kaum muslimin di zaman Mu’awiyah tahun 27 H untuk menaklukkan Cyprus, dan setelah berhasil menguasainya, beliau membangun berbagai benteng pertahanan di dalamnya.

Al-Baghawi menceritakan bahwa Musa menjabat sebagai wali (gubernur) wilayah Afrika pada tahun 79 H, dan berhasil menaklukkan kota-kota dan daerah yang sangat banyak di sana. Beliau juga lah yang berhasil menaklukkan negeri Andalusia, sebuah negeri di wilayah Spanyol yang memiliki banyak kota, desa dan perkebunan. Seiring dengan masuknya Andalusia ke pangkuan Islam, beliau menawan sejumlah besar musuh dan mendapat ghanimah yang tak terhitung banyaknya, dari emas dan permata yang tak ternilai.

Selanjutnya: Sang Penakluk Maghrib dan Andalusia

Qashashul Anbiyaa : Kisah Nabi Shalih 'Alaihissalam

Kisah Nabi SHALIH 'Alaihissalam Dan Pelajaran Yang Dapat Dipetik

Kaum Tsamud ialah kaum ‘Ad generasi kedua yang tinggal di daerah Al-Hijr dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka itu dikenal sebagai ahli dalam bidang peternakan dan pertanian. Mereka diberi sejumlah ni’mat, sehingga mereka dengan mudah membangun istana-istana yang megah serta pondokan-pondokan yang dibangun di atas gunung-gunung yang diukir dan dihiasi dengan berbagai hiasan yang indah.

Kemudian mereka menyalahgunakan dan mengkufuri ni’mat-ni’mat tersebut serta beribadah kepada tuhan selain Allah, dan Allah mengutus kepada mereka saudara mereka yaitu Nabi Shalih 'Alaihissalam dari suku mereka, sehingga mereka pun mengetahui keturunannya, kemuliaannya, keutamaannya, kesempurnaannya, kejujurannya serta keamanahannya. Kemudian Nabi Shalih 'Alaihissalam menyeru mereka supaya beribadah kepada Allah Ta’ala, ikhlas dalam menunaikan perintah agama-Nya, meninggalkan kebiasaan mereka beribadah kepada selain-Nya dan mengingatkan mereka dengan berbagai peristiwa yang telah terjadi pada umat-umat sebelum mereka, tetapi tidak ada yang mentaatinya, kecuali hanya sedikit.

Saat Nabi Shalih 'Alaihissalam mengingatkan mereka dan menuturkan dalil serta keterangan yang menjelaskan wajibnya mengesakan Allah, tetapi mereka memperlihatkan keingkaran, penentangan dan kesombongan, seraya berkata, “Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan.” (Hud: 62). Yakni dulu kami berharap; bahwa kamu lebih utama dari kami semuanya, karena kesempurnaan dirimu, kemuliaan akhlakmu dan pendidikanmu yang baik.*

Itulah pengakuan mereka yang disampaikan kepada Shalih 'Alaihissalam mengenai kesempurnaan hal-hal itu sebelum ia menyerukan agama yang diserukannya.


Tidaklah ada penyebab yang menjatuhkan martabat Nabi Shalih 'Alaihissalam di hadapan mereka kecuali menyeru mereka supaya beribadah kepada Pencipta dan meninggalkan beribadah kepada mahluk serta berusaha mendapatkan kebahagiaan yang abadi, dan tidak ada kesalahan yang dilakukannya kecuali menentang nenek moyangnya yang sesat dan mereka lebih sesat daripada nenek moyang mereka.

Nabi Shalih 'Alaihissalam menunjukkan bukti yang besar, ayat-ayat yang menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah, dalil-dalil yang membuktikan kebenaran kerasulannya dan memohon ni’mat untuk seluruh kabilah, seraya berkata, “Inilah unta betina dari Allah.” (Hud: 64) yang tidak akan ada seekor unta pun yang akan menyamainya dalam hal tubuhnya, kemuliaannya dan manfaatnya “… sebagai mu’zijat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu.” Yakni yang menunjukkan kebenaranku dan kelapangan rahmat Rabb-mu.

“… sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah.” (Hud: 64). Allah-lah yang mengurus rezkinya serta kamu yang mengambil manfaatnya. Suatu hari saluran air tersumbat maka seluruh kabilah datang memerah puting susu unta itu, dimana masing-masing memenuhi wadahnya. Datanglah kalian pada hari yang kedua, maka unta itu akan tetap mengeluarkan air susu seperti itu menurut kehendak Allah.

Di kota mereka Al-Hijr terdapat “sembilan orang laki-laki” (An-Naml: 48) dari kalangan pembesar-pembesar mereka yang menentang keras seruan Nabi Shalih 'Alaihissalam dan benar-benar menyimpang dari jalan Allah. Mereka “membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (An-Naml: 48).

Nabi Shalih 'Alaihissalam memperingatkan mereka atas pembunuhan unta tersebut, ketika ia melihat kesombongan dan penolakan mereka terhadap kebenaran. Sedangkan yang pertama dilakukan oleh para pembesar yang jahat itu adalah mengadakan sebuah pertemuan umum untuk membunuh unta itu dan mereka sepakat untuk membunuhnya. Kabilah yang menganjurkan pembunuhan itu adalah kabilah yang paling celaka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (Asy-Syams: 12). Setelah mereka bersepakat dan menganjurkan untuk membunuh unta tersebut, maka mereka pun bersiap-siap untuk membunuh unta tersebut. Mereka semua setuju, bahkan mereka pun memerintahkan supaya membunuhnya. Pembunuhan itu menjadi penyebab kebinasaan kabilah-kabilah tersebut seluruhnya.

Ketika Nabi Shalih 'Alaihissalam merasakan peristiwa yang sedang terjadi dan ia menyaksikan dengan pandangan yang ketakutan, maka ia merasa yakin bahwa adzab niscaya akan segera datang, karena kedurhakaan telah mencapai puncaknya dan di dalamnya tidak ada lagi harapan untuk meluruskan mereka, sehingga Nabi Shalih 'Alaihissalam berkata kepada mereka, “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Hud: 65). Nabi Shalih 'Alaihissalam telah mengingatkan mereka dengan peringatannya tersebut baik yang dekat maupun yang jauh.

Di sela-sela waktu tersebut kesembilan orang laki-laki yang jahat bersepakat untuk melakukan suatu perbuatan yang lebih kejam daripada membunuh unta betina; yaitu membunuh nabi mereka Shalih 'Alaihissalam, dimana mereka berjanji dan bersumpah dengan sumpah yang keji, dan mereka menyembunyikan rencana itu karena takut mendapat larangan dari anggota keluarganya karena Shalih 'Alaihissalam berada di lingkungan rumah (keluarga) yang mulia dan terhormat. Mereka pun berkata, “… kita sungguh-sungguh akan menyerang mereka dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari.” (An-Naml: 49). Kemudian jika anggota keluarganya menyangka kepada kita, bahwa kita telah membunuhnya, hendaklah kita bersumpah kepada ahli warisnya, bahwa kita “tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.” (An-Naml: 49). Selanjutnya mereka merencanakan pelaksanaan kejahatan besar itu, tetapi meskipun mereka merencanakan makar (tipu daya) dengan sungguh-sungguh, maka Allah juga merencanakan makar untuk menyelamatkan Nabi-Nya Shalih 'Alaihissalam.

Pada saat mereka bersembunyi di lembah sebuah gunung menunggu datangnya kesempatan membunuh Shalih 'Alaihissalam maka Allah menimpakan siksaan pertama sekali kepada mereka, sehingga mereka terjerumus ke dalam neraka Jahannam mendahului kaum mereka, dimana Allah Subhanahu wata'aala telah menggelindingkan sebuah batu besar dari puncak gunung itu dan menimpa mereka, sehingga mereka mati sangat mengenaskan.

Kemudian setelah sempurna tiga hari, maka terdengarlah suara pekikan yang sangat keras dari atas kepala mereka dan terjadi gempa yang dahsyat dari bawah kaki mereka, sehingga mereka pun menjadi mayit-mayit yang bergelimpangan. Sedang Allah menyelamatkan Nabi Shalih 'Alaihissalam serta orang-orang yang bersamanya dari kaum mukminin. Selanjutnya Nabi Shalih 'Alaihissalam berpaling dari mereka yang durhaka, seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbmu, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Al-A’raf: 79).**

Pelajaran-Pelajaran Yang Dapat Dipetik

Di antara faidah yang berkaitan dengan kisah tersebut, bahwa seruan semua nabi adalah satu (sama).

Orang yang telah mendustakan salah seorang dari mereka maka ia telah mendustakan semuanya karena telah mendustakan kebenaran yang telah dibawa oleh salah seorang dari mereka. Karena itu maka di dalam setiap kisah dikatakan, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (Asy-Syu’ara: 105) “Kaum ‘Ad telah mendustakan para rasul.” (Asy-Syu’ara: 123) dan “Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul.” (Asy-Syu’ara: 141).

Faidah lainnya, bahwa siksaan Allah yang ditimpakan kepada umat-umat yang durhaka ditimpakan ketika kedurhakaan dan keingkaran mereka telah mencapai puncaknya, sehingga kekufuran dan kedustaan mereka mewajibkan kebinasaan, akan tetapi kebinasaan tersebut terjadi setelah kejahatan mereka sudah merajalela. Dengan demikian, datangnya siksaan kepada orang-orang zhalim dan durhaka terjadi setelah kedurhakaan mereka mencapai puncaknya, karena sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar mengawasi, dimana Allah akan menangguhkan atau membiarkannya terlebih dahulu, sehingga saat Allah menyiksa mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang datang dari Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Faidah lainnya, bahwa keyakinan yang bathil yang telah berakar yang diwarisi dari orang-orang yang dipandang baik oleh mereka baik nenek moyang atau yang lainnya merupakan penghalang terbesar untuk menerima kebenaran.

Keyakinan yang bathil tidak ada kaitannya dengan soal kafilah dan tidak pula dengan soal golongan, dan ia tidak memiliki kedudukan yang kuat dalam soal hujjah yang benar yang menunjukan kepada kebenaran. Karena itulah penolakan terbesar yang dilontarkan oleh kaum Nabi Shalih 'Alaihissalam terhadap dakwahnya, bahwa mereka mengatakan: “… apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?” (Hud: 62).

Semua umat yang mendustakan dakwah para rasul berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Az-Zukhruf: 23).

Itulah alasan yang dipegang teguh oleh mereka yang menempuh jalan yang bathil; jalan yang ditempuh syetan-syetan untuk menyimpangkan manusia dari jalan Allah. Sedang jalan para rasul adalah jalan petunjuk dan kebenaran, maka tidak ada jalan setelah jalan tersebut, kecuali jalan kesesatan.

CATATAN:

* Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam kitabnya al-Bidâyah Wa An-Nihâyah (1/133) telah menafsirkan firman Allah Ta’ala: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan.” (Hud: 62), seraya berkata: “Yakni sebelum ini kami berharap bahwa akalmu itu sempurna sebelum seruan tersebut; yaitu seruanmu yang memerintahkan supaya beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan tuhan-tuhan yang kami sembah berupa berhala-berhala serta patung-patung sebagai ajaran agama nenek moyang kita.” Berkenaan dengan seruan itu, seraya mereka berkata: “… apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Hud: 62).

** Pemberitahuan itu disampaikan oleh Nabi Shaleh 'Alaihissalam kepada kaumnya setelah mereka binasa, dan ia mengalihkan keadaan mereka dari keadaan mereka yang sesungguhnya kepada keadaan mereka yang lainnya, seraya ia berkata kepada mereka: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbmu, dan aku telah memberi nasehat kepadamu.” (Al-A’raf: 79)
“… tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Al-A’raf: 79). Yakni tetapi tabi’atmu tidak mau menerima kebenaran dan tidak menghendakinya, sehingga kamu lebih memilih jalanmu yang di dalamnya diliputi dengan adzab yang pedih serta abadi, dan aku tidak memiliki suatu alasan untuk menyelamatkanmu serta mencegah adzab darimu. Sedangkan kewajiban yang telah dibebankan kepadaku yaitu menyampaikan risalah dan memberikan nasehat kepadamu telah aku lakukan, bahkan aku melakukannya dengan segenap kemampuanku, tetapi Allah melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya.
Pemberitahuan semacam itu juga pernah disampaikan oleh Nabi SAW kepada mayit-mayit dari pasukan musuh saat perang Badar setelah tiga malam, dimana beliau berdiri di hadapan mereka dan menyeru mereka sambil menyebut nama mereka serta nama nenek moyang mereka, seraya bersabda: “Apakah kamu telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Rabbmu sebagai suatu kebenaran?” Kemudian beliau bersabda, Sesungguhnya mereka sekarang sedang mendengarkan apa yang aku katakan.” Untuk lebih jelasnya lihat kitab al-Bidâyah Wa an-Nihâyah (1/137-138).