Aqidah Thahawiyah
Format Kajian Kitab
Lokasi
Added on Thursday, 02 December 2010
Tema Aqidah
Durasi 0:00
Edition date 2009
Country
Label
Catalog Number
Keterangan
Tags

Review

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. ‘Allamah Hujjatul Islam Abu Ja’far Al-Waraaq Al-Thahaawiy – di Mesir - , semoga Allah merahmatinya, mengatakan : Berikut ini merupakan penjelasan tentang aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, yang dianut oleh para fuqaha kita yakni Abu Hanifah Al-Nu’maan ibn Tsaabit Al-Kuufiy, Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim Al-Anshariy, dan Abu Abdillah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Syaibaniy – semoga ridha Allah atas mereka -. Aqidah inilah yang telah mereka yakini sebagai asas-asas agama (ushul al-din) dan dengan aqidah ini pulalah mereka tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.(komentar Syaikh Al-Albany.).

Dalam masalah tauhidullah yang telah mereka yakini dengan taufiq Allah, kita mengatakan bahwa :

Sesungguhnya Allah adalah satu, tiada sekutu bagi-Nya, tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, tidak ada sesuatu pun yang sanggup melemahkan atau mengalahkan-Nya, tidak ada ilah selain Dia, Dahulu (Qadiim) tanpa permulaan, Senantiasa Ada (Daa-im) tanpa kesudahan, tidak bisa rusak atau musnah, Ia tidaklah berkehendak atau berbuat kecuali menurut apa yang Ia kehendaki, tidak bisa dijangkau dengan perkiraan, tidak bisa dicapai dengan pemahaman akal, tidak ada satu makhluq pun yang bisa menyerupai-Nya, Ia hidup tidak pernah mati, Ia senantiasa berjaga dan berdiri sendiri (Qayyum) tanpa pernah tidur, Maha Menciptakan tanpa merasa butuh kepada ciptaan-Nya, Maha Memberi Rizqi tanpa terkurangi sedikit pun juga, Maha Mematikan tanpa rasa takut, Maha Membangkitkan tanpa kesulitan, senantiasa qadiim dengan sifat-sifat-Nya sebelum ciptaan-Nya muncul, Sifat-sifat-Nya tidak bertambah dari sifat-sifat awal-Nya (sebelum menciptakan makhluq) lantaran sesuatu dari makhluq-Nya. Sebagaimana Dia bersifat azali maka Dia juga bersifat abadi. Tidaklah sesudah menciptakan makhluq lalu Ia baru menyandang nama Al-Khaliq. Tidak pula sesudah mengadakan ciptaan (bariyyah) lalu Ia baru menyandang nama Al-Baariy. Ia memiliki sifat rububiyah (men-tarbiyah) dan bukan di-tarbiyah. Ia memiliki sifat Khaliq dan bukan makhluq. Sebagaimana Ia Maha Menghidupkan yang mati setelah melakukan perbuatan itu, maka Ia pun sudah berhak menyandang nama itu sebelum melakukannya. Demikian pula Ia sudah layak dengan nama Al-Khaliq sebelum mencipta ciptaan-ciptaan-Nya. Yang demikian itu karena Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan segala sesuatu bersifat butuh kepada-Nya, dan segala urusan adalah mudah bagi-Nya. Ia tidak butuh terhadap apapun juga. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Ia menciptakan makhluq dengan ilmu-Nya. Ia menetapkan ketetapan-ketetapan bagi makhluq. Ia menetapkan ajal bagi setiap makhluq. Tidak ada sesuatupun yang takut kepada-Nya ketika sesuatu itu belum Ia ciptakan. Ia Maha Mengetahui apa yang bakal diperbuat oleh makhluq sebelum makhluq itu sendiri Ia ciptakan. Ia memerintahkan makhluq untuk taat kepada-Nya dan melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan ketetapan dan kehendak-Nya. Kehendak-Nya mesti terlaksana. Seorang hamba tidak akan berkehendak kecuali jika Ia menghendakinya. Apapun yang Ia kehendaki mesti terjadi dan apapun yang belum Ia kehendaki maka hal itu tidak akan terjadi....

Aqidah Thahawiyah

No more entries to show...

Kajian lain dengan tema sejenis:

Chronology