Kategori Artikel Tazkiyatun Nufus

Tazkiyatun Nufus

Al-Kabair [Dosa-dosa Besar] Pertemuan 1 - Pendahuluan
Tahqiq: Muhyiddin Mistu
Disampaikan oleh Ustadz Isnan Efendi Abu Abdus Syahid hafidzahullah
Doha, Jum'at, 2 Muharram 1439.


Kita sebagai makhluk Alloh yang dibekali dengan akal dan syahwat, pasti akan melakukan kesalahan-kesalahan, baik itu kepada sesama manusia maupun kepada Alloh subhanahu wata’ala. mungkin dengan tidak sadar kita telah melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang dibenci oleh Alloh.

Pengertian Dosa

Istilah masyhur : Maksiat. Dalam Al Qur’an disebut dalam beberapa kata seperti Huub, Alitsmu, Alfusuq wal isyan, alfasad, khotiah, sayyiah dan Al'utu.

Maksiat adalah seluruh hal yang menyelisihi perkara syariat.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Madaarijus Saalikiin : dosa-dosa terbagi menjadi dua: dosa besar dan kecil.

Al-Kabaa'ir bentuk jamak dari kabiiratun. Artinya banyak dosa besar. Dosa besar adalah segala perbuatan yang pelakunya diancam dengan api neraka, laknat atau murka Allah di akherat atau mendapatkan hukuman had di dunia. Sebagian ulama menambahkan yang tergolong sebagai dosa besar adalah suatu perbuatan yang pelakunya dikatakan nabi sebagai orang yang tidak beriman atau nabi mengataan bukan golongan kami atau nabi berlepas diri dari pelakunya.

Definisi menurut al-Qurthubi dalam Al mufhim: setiap dosa yang dinyatakan oleh nash Alquran atau sunnah atau ijma, bahwa ia dosa besar dengan ungkapan kabiirah atau 'adhiim atau diberitakan mendapatkan azab yang dahsyat, atau dikaitkan dengan hukum hudud atau diingkari dengan keras, maka ia dosa besar.

Namun ini tidak berarti bahwa kita boleh meremehkan dosa-dosa kecil. Sama sekali tidak! Besar ataupun kecil, kalau namanya dosa mesti kita jauhi.

Allah Subanahu wata’ala berfirman:

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga).” (QS. An-Nisa’: 31)

Dalam ayat tersebut Alloh subhanu wata’ala menyebutkan bahwa barang siapa yang menjauhi dosa-dosa besar maka Alloh akan mengampuni dosa-dosa kita yang kecil. Maka dari itu setelah kita mengetahui perkara apa saja yang termasuk dosa-dosa besar maka kita dapat menjauhinya, dengan demikian semoga Alloh ta’ala memberikan ampunan kepada kita semua.

Allah juga berfirman,
“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Asy-Syura’: 37)

“(Yaitu ) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu maha luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32)

Rasulullah bersabda, “Shalat lima waktu, shalat Jumat, dan puasa Ramadhan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di sela-selanya jika dosa-dosa besar telah dijauhi.” (HR. Muslim)

Dari sini lazim bagi kita untuk meneliti apa saja yang termasuk kabair (dosa-dosa besar) supaya kita dan semua orang Islam bisa menjauhinya. Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukannya. Ada yang mengatakan kabair itu ada tujuh, berdasarkan sabda Nabi, “Jauhilah tujuh perkara yang merusak!” Lalu beliau menyebutkan, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali karena alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba, meninggalkan medan perang, dan menuduh wanita mukminah baik-baik telah berzina.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jenisnya banyak dan tidak bisa ditentukan. Kaidah menurut Ibnu Abbas: Tidak ada dosa besar kalau diiringi dengan taubat. Tidak ada dosa kecil kalau terus menerus dilakukan.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Kabair itu jumlahnya lebih dekat kepada tujuh puluh daripada kepada tujuh.”

Demi Allah, ucapan Ibnu ‘Abbas di atas benar adanya. Hadits sebelumnya tidaklah membatasi jumlah kabair. Pendapat yang benar dan dilandasi dengan dalil menyebutkan bahwa siapapun yang melakukan perbuatan dosa yang memiliki had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, atau yang pelakunya mendapat ancaman, kemurkaan, serta laknat dari Nabi Muhammad di akhirat, maka perbuatan itu termasuk dosa besar. Harus diterima pula bahwa dosa besar yang satu bisa lebih besar daripada dosa besar yang lain. Adalah Rasulullah menghitung syirik sebagai salah satu dosa besar, padahal pelakunya kekal di neraka dan tidak akan diampuni selama-lamanya.

Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48 & 116)

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan 76 jenis dosa-dosa besar dalam kitab beliau yang berjudul Al-Kabaa-ir wa Tabyiin al-Mahaarim.

Hukum pelaku dosa besar

Menurut ahlussunnah waljamaah :
1. Masih muslim dan imannya tidak sempurna.
2. Tidak kekal di dalam neraka. Selama tidak kufur. (Dalam kehendak Alloh ta'aala).

Dampak Dosa

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Aljawaab Alkaafi: Sesungguhnya kebesaran Alloh ta'aala dan kemuliaannya dalam hati hamba mengharuskan mengagungkan Allah Ta’ala. Dan mengagungkan Alloh ta'aala tercegah oleh dosa. Maka orang yang tidak mengagungkan Alloh ta'aala dialah orang yang tertutup oleh dosa. Karena mereka meremehkan perintahNya. Dan cukuplah maksiat itu menjadi balasan bagi seorang hamba yang melaksanakan dosa dengan dibuang rasa mengagungkan Allah Ta’ala dalam dirinya.

Tugas kehidupan kita adalah taubat karena yang maksum hanyalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dosa ada yang berkaitan dengan Alloh ta'aala, diri dan makhluk lainnya. Contoh syirik, berzina dan membunuh. Dan gabungan dosa-dosa diri sendiri dan orang lain.

Biografi Al-Hafidz Adz-Dzahabi

Beliau bernama Al-Imam Al-Hafidz, Syamsudin, Abu Abdillah, Muhammad bin Ahmad bin Ustman bin Qaimaz bin Abdullah at-Turkmani al-Fariqi asy-Syafi’i ad Dimsyiqi.

Beliau dilahirkan pada Rabiul Akhir 673 H/1274 M di sebuah desa bernama Kafarbatna di dataran padang hijau Damaskus, di tengah sebuah keluarga yang berasal dari Turkmenistan, yang ikut secara kewalian kepada kabilah Bani Tamim, dan mereka menetap di kota Mayyafarqin dari daerah Bani Bakar yang paling terkenal.

Adz-Dzahabi tumbuh di tengah keluarga yang cinta ilmu dan agama. Ayah beliau bernama Ahmad bin ‘Ustman. Dia adalah orang yang baik, bertakwa, dan cinta ilmu. Ayahnya pernah mempelajari kitab Shahih Bukhari pada tahun 666 H dari seorang guru, Miqdad bin Hibbatillah Al-Qoysi. Keluarganya memberikan perhatian yang besar kepada beliau dengan mengirimnya kepada para syaikh (guru besar) yang terkenal di kota Damaskus. Adz-Dzahabi telah berhasil mendapat ijazah (rekomendasi) dari mereka semenajk masih kecil, ketika ia beliau belum genap delapan belas tahun. Perhatiannya terhadap ilmu sangat tinggi.

Adz-Dzahabi sempat menduduki sejumlah jabatan keilmuan di kota Damaskus, di antaranya: sebagai khatib, pengajar, dan menjadi guru besar di sejumlah perguruan dalam bidang hadis, seperti Dar al-Hadis di Turbah Umm ash-Shalih, Dar al-Hadis azh-Zhahiriyah, Dar al-Hadis wa al-Qur’an at-Tankiziyah, dan Dar al-Hadis al-aFadhiliyah.

Aqidahnya dan manhajnya mengikuti Salafi, fiqhnya madzhab Syafi’i. Kesibukan padat yang beliau jalani tidaklah menjadikan beliau terhalang untuk melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah. Bahkan beliau telah meninggalkan kekayaan ilmiah yang besar dan penuh berkah, di mana kitab-kitab dan karya tulis beliau mencapai lebih dari 200 karya dalam berbagai disiplin ilmu: qiraat, hadis, mushthalah hadis, sejarah, biografi, akidah, ushul fiqh, dan raqa’iq (ilmu beretika).

Di antara karya ilmiah beliau adalah:

Tarikh al-Islam - ada 36 jilid
Siyar A’lam an-Nubala - ada 20 jilid
Mizan al-I’tidal - ada 4 jilid
Al-Ibar fi Khabar man Ghabar
Al-Mughni fi adh-Dhu’afa
Al-Kasyif
Tadzkirah al-Huffazh
dan masih banyak karya yang tidak tercatat dalam tulisan singkat ini.

Pujian Para Ulama Terhadap Adz-Dzahabi

Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Aku pernah minum air Zamzam agar aku mencapai derajat Imam adz-Dzahabi dalam menghafal”.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata tentang Adz-Dzahabi, “Keberadaan beliau telah merepresentasikan para syaikh pakar dalam penghafal hadis…”

Murid beliau, Tajuddin as-Subki dalam Syadzarat adz-Dzahab berkata, “Guru kami, Abu Abdullah adalah seorang ulama hebat yang tidak ada bandingnya. Beliau adalah gudang perbendaharaan ilmu, tempat kembali ketika terjadi permasalahan yang rumit, imam semua orang dalam hal hafalan, beliau ibarat emasnya zaman secara maknawi dan literel, guru besar al-Jarh wa at-Ta’dil, pemuka para tokoh pada setiap jalan; seakan-akan umat telah dikumpulkan pada padang yang satu lalu beliau melihatnya mulai memberitakan dari para rawi sebuah riwayat sebagaimana orang-orang yang hadir memberitakan…”

As-Suyuthi dalam Dzail Tadzkirah al-Huffazh berkata, “Yang ingin saya katakan, ‘Sesungguhnya ulama-ulama hadis sekarang dalam sub disiplin kritik rawi dan disiplin-disiplin hadis lainnya membutuhkan pada empat sosok: Imam al-Mizzi, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Iraqi, dan al-Hafizh Ibnu Hajar’.”

Di akhir hidupnya Adz-Dzahabi mendapat cobaan, tujuh tahun mengalami kebutaan. Kemudian beliau wafat malam Senin 3 Dzulqa’dah 748 H/ 1348 M, dan dimakamkan di Bab ash-Shaghir di Damaskus.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk selalu istiqomah dalam menuntut ilmu dan dosa-dosa kita terhapuskan.

kuti Kajian Perdana Pembahasan kitab ini:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook