Kategori Artikel Tazkiyatun Nufus

Tazkiyatun Nufus

Buku Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ adalah sebuah karya besar dan fenomenal di bidang akhlak, tarbiyah, dan tazkiyatunnufus. Penulisnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, adalah seorang ulama tersohor dan penulis buku berbobot yang hidup pada abad ke-8 H. Buku ini berbicara panjang lebar serta sempurna di berbagai masalah tarbiyah dan tazkiyatun-nufus, mulai dari pentingnya do’a bagi seorang hamba serta hubungan do’a dengan takdir.

Berikut merupakan intisari kajian kitab ini yang disampaikan oleh Ustadz Syukron Habibie Hafidzahullah.

Karena dosa bertingkat-tingkat maka hukumannya pun menjadi bertingkat-tingkat juga. Pokok dosa ada 2: meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan. Menurut tempatnya keduanya dibagi menjadi dua perkara : dosa yang nampak dan dosa yang tersembunyi di hati. Dan berdasarkan keterkaitan dibagi dua: hak Alloh dan hak makhluk. 

Dosa terbagi menjadi empat kelompok :

1. Malakiyah: menyandang sifat dari sifat-sifat rububiyyah yang menjadikan syirik seperti keagungan, keperkasaan, kebesaran, dan lainnya. 

Syirik ada dua: 

  1. Syirik dalam nama dan sifat-sifat Alloh serta menjadikan sembahan lain bersamaNya.
  2. Syirik dalam muamalah denganNya. Bisa syirik besar atau kecil yang mampu menghapus amalan-amalan. 

2. Syaithaniyah: perbuatan syaitan seperti kedengkian, kesesatan, penipuan, makar,  bid'ah dalam agama, melarang ketaatan dan lainnya. 

3. Sab'iyyah: dosa permusuhan, kemarahan, pertumpahan darah, dan menindas kaum yang lemah. 

4. Bahiimiyyah: ketamakan, keinginan syahwat seperti zina, pencurian, makan harta anak yatim, kikir, keluh kesah, gelisah dan lainnya. 

Dosa jenis bahiimiyyah dan sab'iyyah ini yang banyak dilakukan manusia. Setelah bertambah parah akan menyeret ke dosa syaithaniyyah hingga berbuat syirik (malakiyyah). 

Ikuti kajiannya via video berikut:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook