Kategori Artikel Tazkiyatun Nufus

Tazkiyatun Nufus

Tangisan Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam - Diambil dari Kitab As-Syamail Al-Muhammadiyah Karya - Imam At-Tirmidzi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Ibnu Abbas,

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam (begadang) untuk berjaga-jaga (dari serangan musuh) ketika berperang di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi. Hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalan lainnya- , sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1229)

Menangis: keluarnya airmata karena sebab-sebab tertentu yang ada di dalam hati.

Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Maad mengatakan, tangisan Rasulullah adalah sama dengan jenis tertawa dan tersenyumnya Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam. Yakni ditengah-tengah, tidak berlebihan.

Jenis-jenis tangisan menurut Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Maad:

  1. Karena rindu dan kasih sayang. Seperti meninggalnya anak beliau Ibrahim yang merupakan tangisan rahmat karena kasih dan sayangnya beliau. Bukan niyahah yang berlebihan dan dilarang.
    Fidhail bin Iyad rahimahullah ketika anak beliau meninggal beliau tersenyum. Menandakan tingkatan kesabaran yang tinggi.
  2. Tangisan takut.
    Yaitu tangisan takut karena dosa dan masuk neraka. Ini tangisan yang terpuji.
  3. Tangisan karena cinta.
    Jika karena ditinggal kekasih, maka ini tangisan yang terlarang.
  4. Menangis karena gembira.
    Ini termasuk ke dalam tangisan terpuji atau tercela. Tergantung kondisinya. Misal karena kemenangan kaum muslimin. Atau juga karena thabiat, sesuai yang mubah.
  5. Menangis karena menahan sakit.
    Hal ini boleh, kecuali diikuti dengan ketidak ridhoan kepada Alloh ta'aala dan tidak sabar.
  6. Tangisan sedih.
    Hal ini boleh, kecuali untuk hal-hal yang tidak syar'i.
  7. Tangisan lemah.
    Karena jiwanya yang lemah. Dikit-dikit nangis, karena jiwanya lemah atau sensitif.
  8. Tangisan munafik.
    Tangisan yang berbohong karena susuatu. Misalnya ingin dipuji. Ini diharamkan.
  9. Tangisan karena disewa (drama).
    Ini diharamkan.
  10. Tangisan kebetulan.
    Misalnya karena ikut-ikutan. Dan terpengaruh lingkungan.

Hadits-hadits pendukung:

Abdullah asy-Syikhkhir berkata:
“Aku mengunjungi Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam semasa beliau sedang solat. Pada masa itu, terdengar tangisan beliau yang berbunyi seperti air sedang menggelegak” (Diriwayatkan oleh Tirmizi, Abu Dawud, Nasa’I dan Ibnu Khuzaimah)

Abdullah bin Mas’ud berkata :
Rasulullah berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Quran kepadaku.” Aku membalas. “Wahai Rasulullah! Adakah aku layak membacakannya kepadamu, padahal ia diturunkan kepadamu?” Jawab Rasulullah, “Aku suka mendengar bacaan selain diriku sendiri.” Aku membacakan surah an-Nisa. Apabila sampai pada ayat “…dan Kami datangkan engkau sebagai saksi terhadap umatmu ini,” aku melihat kedua-dua mata Rasulullah basah oleh air mata.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Tirmizi dan Ahmad)

Pada suatu hari pada zaman Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam, berlaku gerhana matahari. Rasulullah mendirikan solat gerhana. Baginda Rasul berdiri lama dalam solatnya sehingga hampir tidak rukuk. Baginda Rasul rukuk begitu lama sehingga hampir tidak i’tidal. Baginda Rasul berdiri I’tidal begitu lama sehingga hampir tidak sujud. Kemudian, Baginda Rasul sujud. Sujudnya lama sehingga hampir tidak bangun. Apabila Baginda Rasul bangun, Baginda Rasul membaca doa ini dengan suara yang tersekat-sekat kerana menangis,
“Wahai Tuhanku, bukankah Engkau sudah berjanji tidak menyeksa mereka semasa aku masih berada bersama mereka? Wahai Tuhanku, bukankah Engkau sudah berjanji tidak menyeksa mereka yang memohon ampun kepada- Mu? Sekarang, kami sedang memohon ampun daripada-Mu. Apabila Rasulullah selesai solat, matahari terang semula. Beliau bangun dan memuji Allah, lalu berkata, “ Sesungguhnya, matahari dan bulan adalah antara tanda kekuasaan Allah. Gerhana tidak berlaku disebabkan oleh kematian ataupun kelahiran sesiapa. Apabila berlaku gerhana, berzikirlah dengan menyebut nama Allah. (Diriwayatkan oleh Tirmizi, Abu Dawud, Nasa’I, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah) Hadits sholat gerhana dalam hadits ini menyelisihi hadits Bukhari Muslim. Dihukumi Hadits Saad [menyimpang] karena menyelisihi hadits sahih.

Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam mengangkat cucunya yang hampir meninggal dunia lalu diletakkan di pangkuan Baginda Rasul. Cucunya meninggal di pangkuan Baginda Rasul. Ummu Aiman menangis dengan kuat. Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam menegurnya, “ Wahai Ummu Aiman, mengapakah kamu menangis di hadapan Rasulullah?” Ummu Aiman menjawab, “Bukankan engkau pernah menangis?” Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam berkata, “Aku bukanlah menangis, tetapi ia adalah tangisan rahmat. Sesungguhnya orang beriman selalu dalam keadaan baik pada setiap keadaan, sehingga jika jiwanya dicabut pun dia tetap memuji Allah. (Diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ahmad).

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook