Artikel Kategori Tauhid

Tauhid

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin
Bersama Ustadz Syukron Habibie Hafidzahullah

 

tathoyyurAth-Thiyarah secara bahasa berarti at-tasya’um yaitu beranggapan akan datangnya kesialan. At-Tasya’um dinamakan thiyarah (merasa sial) karena orang Arab Jahiliyah dahulu apabila salah seorang di antara mereka keluar untuk tujuan tertentu, maka mereka mencari seekor burung dan melepaskannya. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, maka mereka berharap kebaikan darinya dan melanjutkan perjalanannya. Mereka menamakan burung tersebut dengan as-Sanih. Adapun jika ia terbang ke arah kiri, maka dia merasa sial dengannya dan mengurungkan niat yang telah dia tekadkan sebelumnya. Mereka menamakan burung ini dengan al-Barih.

Islam kemudian datang dan membatalkan masalah ini. Ia melarang melakukannya dan sangat mencela pelakunya. Islam mengembalikan segala permasalahan kepada sunnatullah (ketentuan-ketentuan Allah subhaanahu wata’ala) yang pasti dan kepada kekuasaanNya yang mutlak.

Lawan dari tathayyur adalah tafa’ul yaitu merasa optimis dengan mendengar kalimat yang baik. Hal ini mencakup juga semua perkataan atau perbuatan yang menggembirakan. Perbedaannya dengan tathayyur, bahwasanya tafa’ul dipergunakan untuk hal-hal yang disukai, sementara tathayyur untuk sesuatu yang biasanya dibenci.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Adapun syariat mengkhususkan thiyarah dengan sesuatu yang jelek dan tafa’ul untuk sesuatu yang menggembirakan dengan syarat dia tidak bermaksud melakukan itu, sehingga menjadi thiyarah.” (Fathul Bari, 10/215).

Diriwayatkan dari Abu Huraiarah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada thiyarah! Yang paling baik adalah fa’l.’ Mereka bertanya: ‘Apa itu fa’l?’ Rasulullah menjawab: ‘Kata-kata yang baik yang kalian dengar.’ ” (HR al-Bukhari 5754 dan Muslim 2223).

Thiyarah termasuk syirik yang menafikan kesempurnaan tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan syaithan berupa godaan dan bisikannya.

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 909), Abu Dawud (no. 3910), at-Tirmidzi (no. 1614) dan lainnya]

Dalam Shahiih Muslim disebutkan, dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Di antara kami ada orang-orang yang bertathayyur.” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itu adalah sesuatu yang akan kalian temui dalam diri kalian, akan tetapi janganlah engkau jadikan ia sebagai penghalang bagimu.’” [HR. Muslim (no. 537)]

Kafarah bagi Pelaku Tathoyyur

Jika muncul rasa was-was dalam hati seseorang karena mendengar atau melihat sesuatu yang itu merupakan tathoyyur, maka hendaklah ia mengucapkan,

اللّهُمَّ لاَ يَأْتِي بِااْحَسَنَاتِ إلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّآتِ إلاَّ أنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بشكَ

“Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)

Akan tetapi jika telah berbuat, maka hendaknya mengucapkan:

اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’

Hal ini berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

‘Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’” [Hadits sahih HR. Ahmad (II/220)].

Ikuti kajian ini selengkapnya:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook