Artikel Kategori Tauhid

Tauhid

 Pembahasan salah satu pasal dari kitab Aqidah Wasithiyah - Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah Rahimahullah

Muallif Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah Rahimahullah berkata:

Melainkan mereka (Ahlussunah wal jamaah) beriman bahwasanya Allah: “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai dengan-Nya, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat” (QS Asy-Syura :11)

Maka mereka (Ahlussunah wal jamaah) tidak meniadakan dari Allah sifat-sifat yang disifatkan-Nya untuk diri-Nya. Tidak pula mereka menyimpangkan pembicaraan dari tempat (yang semesti)nya. Tidak pula menyimpangkan dan mengingkari pada nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya. Tidak pula membagaimanakan dan tidak pula menyerupakan sifat-sifat-Nya seperti sifat makhluk.

Yang demikian karena Mahasuci Allah dan tidak ada tandingan (yang berhak untuk dinamai dengan) nama-Nya [yakni dengan nama yang memiliki makna hanya khusus bagi Allah, yang tidak sesuatupun yang menyamai-Nya], tidak memiliki pihak yang sekufu (setingkat) dengan-Nya, tidak ada lawan bagi-Nya, dan tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.

Kaidah-kaidah di dalam Tauhid Asma Wa shifat dijelaskan oleh para ulama sebagai berikut:

1. Ahlussunnah sepakat bahwa seluruh sifat-sifat yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah adalah hakikat bukan majaz (kiasan), dimaknai secara dhohir tanpa mentasybih dan mentamsyil (Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid dan Immam Al-Khatabi).

2. Makna sifat-sifat Alloh ta'aala dalam Al-Qur'an dan Sunnah maknanya jelas dalam bahasa Arab sehingga tidak perlu ditahrif dan ditakwil. (Majmu Fatawa).
Pepatah Arab menyebutkan: توضيح الواضحات من أشكل المشكلات  (Menjelaskan sesuatu yang jelas adalah masalah yang paling susah).

Perkataan-perkataan Ulama Salaf:
Al-Imam Al-Lalikai menyebutkan dari Imam Al-Auza'i: Imam Az-Zuhri mengatakan "Maknakan sifat-sifat Alloh subhanahu wataa'la secara dhohirnya".

3. Mencegah dari mentakwil sifat-sifat Allah ta'aala dan mentafsirkannya dengan sesuatu yang menyimpang dari dhohirnya (Tahrif).

Imam Ibnu Mandah(wafat pada tahun 395 H) dalam kitabnya At-Tauhid: "Sesunghuhnya khabar-khabar tentang sifat-sifat ALloh subhanahu wata'aala datang dengan mutawatir(benar secara qath'i/tanpa ragu) yang datang dari Nabi Sholatu wassalam yang sesuai dengan Al-Qur'an yang dinukilkan oleh ulama kholaf dari ulama salaf dari zaman ke zaman, dari zaman sahabat tabi'in sampai sekarang ini dengan cara menetapkan sifat tersebut, mengetahui maknanya dan iman, mencegah dari mentakwil sifat Alloh ta'aala dan menafsirkannya dengan sesuatu yang menyimpang dari dhohirnya".

Imam Ibnu Qudamah (620H) dalam kitabnya Dzammu ta'wil: Adapun ijma'kesepakatan bahwasanya sahabat Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam telah bersepakat untuk meninggalkan takwil, demikian juga ulama-ulama dalam setiap zaman setelah zaman sahabat dan takwil ini tidak pernah dinukilkan kecuali oleh ahli bid'ah dan orang-orang yang berintisab dengan ahli bid'ah dan dalam hal ini ijma adalah hujah yang qoti'. Dalam bab ini madzhab asy'ari dan maturidi tidak diakui (mu'tabar).

4. Membicarakan sifat itu sama dengan membicarakan dzat. Membicarakan sebagian sifat sama dengan membicarakan sifat yang lain.
Dzat Alloh subhanahu wata'aala adalah Alloh itu sendiri. Boleh disebut nama-nama Alloh subhanahu wata'aala. Misalnya nama Alloh 'Ar-Rohman' (maha penyayang), maka yang dimaksudkan adalah Alloh itu sendiri, Dzat Alloh maha penyayang.

Membicarakan sifat itu sama dengan membicarakan dzat (lebih umum dan kebanyakan orang menetapkan atau menafikan, termasuk golongan mu'tazilah), Membicarakan sebagian sifat sama dengan membicarakan sifat yang lain (Ada pada golongan Asy-syairoh).

5. Dalam bab sifat tidak disebutkan kecuali apa-apa yang telah disebutkan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah, adapun yang tidak disebutkan maka kita tidak menyebutkan baik itu menetapkan atau menafikannya (diam).
Contoh Alloh ditetapkan memiliki tangan, tapi jasad Alloh tidak ditetapkan. Maka kita tidak menyebutkan atau menafikan jasad Allah. Kaidah menyatakan: "Menyebutkan sesuatu bukan berarti menyamakan sesuatu".

Tambahan kaidah dari Syaikh Ibnu Ustaimin rahimahullah dalam al-Qawaid al-Musla fi sifatillah wa asmaihi al-husna (القواعد المثلى في صفات الله وأسماءه الحسنى ):

1. Harus diyakini bahwa seluruh sifat-sifat Alloh adalah sempurna,tidak ada kekurangan sedikitpun dari sisi manapapun, seperti Al-hayah, al-'ilm, qudrat, dll. Dan apabila ada satu sifat kurang yang tidak ada kesempurnaan di dalamnya, maka terlarang di dalam haq Alloh ta'aala. Seperti: Al-maut, Al-jahlu, lemah, buta ,tuli, dan lainnya.
Apabila ada satu sifat sempurna dari satu sisi dan kurang dari sisi yang lain, maka tidak ditetapkan dan tidak dinafikan secara mutlak. Tapi harus ada rinciannya. Rinciannya boleh disifatkan pada keadaan yang sempurna dan dinafikan dalam keadaan yang kurang.
Contoh: Alloh mempunyai sifat makar, tapi makar Alloh ini dimakarkan pada orang tertentu.

2. Bab sifat Alloh subhanahu wata'aala lebih luas dari pada bab nama-nama Alloh ta'aala. Karena setiap nama mencakup sifat dan diantara sifat-sifat Alloh ta'aala itu berkaitan dengan perbuatan Alloh ta'aala. Dan perbuatan Alloh tidak ada habisnya maka kita sifatkan Alloh dengan sifat-sifat tersebut.Berdasarkan hal ini, maka kita sifatkan Aloh ta'aala dengan sifat-sifat ini sesuai dengan dalil Al-Qur'an dan Sunnah dan kita tidak menamakan Alloh ta'aala dengan sifat tersebut.
Contoh:
Nama Alloh Ar-rohmaan (maha penyayang) - Mempunyai sifat kasih dan sayang (Bisa 1 sifat atau lebih).
Sifat turun dari langit (Sifat dan perbuatan Alloh ta'aala) - Tapi kita tidak menamakan nama 'sang maha turun'.

3. Sifat-sifat Alloh ta'aala dibagi menjadi dua bagian:
Pertama: Sifat Tsubutiyah, yaitu sifat-sifat yang telah ditetapkan Alloh untuk dirinya di dalam AL-Qur'an atau yang ditetapkan melalui lisan Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam.
Kedua: Sifat Salbiyah, yaitu seluruh sifat yang dinafikan Alloh dari dirinya di dalam Al-Qur'an atau dinafikan Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam melalui lisannya (seluruh sifat kekurangan seperti: mati, jahil, lupa, dsb).

4. Sifat tsubutiyah adalah sifat-sifat yang terpuji dan sempurna. Dan sifat ini lebih banyak disebutkan dari pada sifat tsalbiyah. Adapun sifat tsalbiyah tidaklah disebutkan kecuali dalam tiga keadaan:
Pertama: Kedaan dimana Alloh ta'aala menyebutkan sifat tsalbiyah dengan tujuan menerangkan keumuman kesempurnaanNya. Seperti dalam surat As-Syuro ayat 11 atau Al-Ikhlas:4.
Kedua: Menafikan tuduhan terhadap orang-orang pendusta seperti dalam surat Maryam ayat 91-91.
Ketiga: Membantah prasangka adanya sifat kurang dalam kesempurnaan Alloh. COntoh: Surat Al-Anbiya ayat 16 dan Qaf ayat 38.

5. Sifat tsubutiyah dibagi menjadi dua:
Pertama: Sifat Dzatiyah, yaitu sifat yang senantiasa dan tetap Alloh ta'aala bersifat dengannya dan tidak terlepas dari Alloh ta'aala. Contoh: Al-'ilmu, qudrat, pendengaran, tangan dan lainnya. Ini adalah sifat dzaatiyah.
Diantara sifat dzatiyah ada yang hanya ditetapkan dengan dalil (khobar). Contoh: wajah, dua tangan dan dua mata.
Kedua: Sifat fi'liyah, sifat yang berkaitan dengan kehendak Alloh ta'aala. Jika Alloh kehendaki maka akan terjadi sekehendaknya. Contoh: Istiwa di atas Arsy, Alloh turun ke langit dunia. Ini adalah sifat fi'liyah.
Ada juga yang masuk dalam fi'liyah dan dzatiyah atau dua-duanya. Contoh: kalam (ucapan) ini adalah dzat Alloh, sifat dztiyah. Kapan Alloh kalam? jawabnya sekehendaknya. Maka ini adalah sifat fi'liyah. Sehingga kedua sifat fi'liyah dan dzatiyah masuk.

Dari segi penetapan dalil terhadap sifat-sifat Alloh ta'aala ada dua:
1. Dalil khobar dan akal seperti sifat ilmu, qudrat dan ulu'.
2. Khobar saja (dalil saja) seperti tangan, wajah dan istiwa.

6. Wajib ketika menetapkan sifat Alloh ta'aala, menjauh dari dua perkara besar yang terlarang, yaitu tamsyil (menyerupakan) dan takyif (mengilustrasikan kaifiyah (bagaimananya)).

7. Seluruh sifat Alloh sifatnya taukifi, yaitu tidak ada celah akal di dalamnya.

Ikuti pembahasan selengkapnya kajian kitab ini yang disampaikan oleh Ustadz Isnan Abu Abdu Syahid Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook