Artikel Kategori Tauhid

Tauhid

Intisari Kajian Syarah Asmaul Khusna karya Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani

As-sayyid berarti yang maha mulia, penguasa.  Dalam lisaanul arab: As-sayyid dari kata assu'dad maknanya As-Syarof [kemuliaan]. Yaitu Orang yang melebihi orang lain dari segi akal, harta dan manfaat kepada orang lain.
Menurut Ikrimah As-Sayyid juga berarti orang yang tidak dikalahkan amarahnya. Juga bermakna raja, pemimpin, ketua, dermawan, majikan dari hamba sahaya, pemimpin perempuan (sayyidul mar'ati)/suami.

Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar menerangkan As-Sayyid: seluruh kepemimpinan pada hakekatnya hanya milik Alloh dan semua mahkhluk adalah hambanya, walaupun demikian hal ini tidak menafikan bentuk kepemimpinan yang disandarkan dan secara khusus diberikan kepada sebagian manusia, sebab kepemimpinan Alloh tidak seperti kepemimpinan makhluk yang lemah.

Di dalam Al-quran tidak ada nama As-sayyid. Yang masyhur adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, abu Dawud dan lainnya. Di dalam hadits disebutkan:

عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ قَالَ أَبِي انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ

Dari Mutharrif ia berkata: Bapakku (Abdullah bin Asy Syikhkhir) berkata, “Aku berangkat bersama delegasi Bani Amir menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kami berkata, “Engkau adalah sayyiduna (tuan kami),” maka Beliau bersabda, ”As Sayyid adalah Allah Tabaaraka wa Ta'aala,” kemudian kami berkata, “Engkau adalah yang paling utama dan paling besar kebaikannya di antara kami.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah semua atau sebagaian kata-kata yang wajar bagi kalian, dan janganlah kalian terseret oleh setan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang jayyid, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3594).

Ucapan sayyidina untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Ulama berbeda pendapat : ada yang membolehkan secara mutlak di dalam maupun di luar sholat,  ada yg membolehkan diluar sholat saja, dan ada yang melarang mutlak baik diluar maupun di dalam Sholat.

Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua. Alasan, sholat adalah ibadah dan dilarang ibadah tanpa dalil, dan di dalam Sholat tidak ada dalil yang menyebutkan penambahan sayyidina.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر

“Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Menyebut Sayyid kepada orang lain selain nabi diperbolehkan. Seperti Ucapan Umar pada saat pembebasan Bilal oleh Abu bakar. "Abu bakar adalah Sayyid kami dan telah membebaskan Sayyid kami" [Yang dimaksud Bilal bin Abi rabah].

Penyerupaan Sayyid kepada Allah berbeda secara makna dengan makhluk. Karena banyak makna Sayyid.

Ma'alimus Sunan [Syarah Imam Abu Dawud] karya Imam Khotobi rahimahullah: Nabi Sholallohu'alaihi wasallam memaksudkan "As-sayyid adalah Alloh" adalah bahwa kepemimpinan secara hakikat adalah Alloh 'azzawajalla dan bahwasanya seluruh makhluk hamba bagi Alloh subhanahu wata'aala.

Tuhfatul maulud karya Ibnu Qoyyim rahimahullah: Menyebutkan Alloh ta'aala sebagai As-sayyid menunjukan sifat Alloh secara mutlak. Sebagai penguasa yang menguasaiurusan mereka dan hanya kepada Alloh ta'aala mereka kembali.Dan dengan perintahnya mereka mengerjakan perintah Alloh ta'aala.

Beda Sayyid Alloh dengan makhluk

Persamaan lafazh tidak menunjukkan persamaan makna. Termasuk lafazh As-sayyid. Sayyid bagi Alloh ta'aala itu sifatnya mutlak [menyeluruh tidak ada batasan] sedangkan bagi makhluk sifatnya muqoyyad [terikat] dan ada batasan. Sayyid nya makhluk berasal dari Alloh ta'aala.
Contoh: Seorang isteri memanggil suami As-sayyid, maka itu terbatas hanya pada rumah tangganya. Raja, juga sayyid pada negaranya dan dibatasi umur. Dan itu merupakan karunia Alloh ta'aala.

Asshomad. Yang maha sempurna bergantung kepadaNya segala sesuatu.

Nama Allah Ta’ala yang agung ini disebutkan dalam firman-Nya:

{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ}

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu)”(QS al-Ikhlaash:1-2).

Hadits yang diriwayatkan dari Buraidah Radhiyallohu'anhu katanya:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فَقَالَ لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ بِالِاسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ  …… فِيهِ لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِاسْمِهِ الْأَعْظَم (رواه ابو داود) قال الشيخ الألباني : صحيح

Sesungguhnya Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam, mendengar seorang laki-laki berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(“Ya Allah! Sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu, hamba bersaksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah yang tidak ada tuhan selain Engkau yang satu, tempat meminta, tidak beranak dan diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Engkau”).

Lalu Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda: “Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan suatu nama yang apabila ada yang meminta dengannyan, Dia akan memberikannya dan apabila ada yang berdo’a dengannya, niscaya Dia akan mengabulkannya”. Dalam riwayat lain Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam berkata: sungguh engkau telah memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla  dengan nama-Nya yang agung”. (HR. Abu Dawud)

Dalam lisaanul arab, makna As-Shamad: yang ditujukan atau tujuan, yang disandarkan kepadanya atau sandaran.
Termasuk makna As-Shamad secara bahasa adalah Tuan atau as-sayyid (pemimpin) yang selainnya tidak bisa memecahkan masalah. Juga tempat yang dituju untuk mendapatkan penyelesaian permasalahan.

Imam Al-Khattabi dalam kitabnya Sya'nu al-Du'a' menjelaskan makna As-Shamad: Maknanya As-sayyid yang makhluk menuju kepadanya dan meminta hajat-hajatnya.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya Shawa'iq Al-mursalah menjelaskan makna Asshomad adalah dzat yang hati tertuju kepadaNya dengan pengharapan dengan rasa cemas dan takut.

Buah mempelajari As-sayyid dan Asshomad:

1. Tawakal yang sebenar-benarnya di dalam hati.
2. Keagungan Allah dalam hati kita akan bertambah
3. Mentauhidkan Alloh ta'aala dengan tauhid sebenar-benarnya baik dalam rububiyah, uluhiyah maupun asma wasifat.
4. Bertambahnya kecintaan kita kepada Alloh 'azzawajalla.
4. Kita berdoa dengan nama allah khususnya sifat As-shamad ini. Seperti do'a dalam hadits di atas:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(“Ya Allah! Sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu, hamba bersaksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah yang tidak ada tuhan selain Engkau yang satu, tempat meminta, tidak beranak dan diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Engkau”).

Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan kandungan dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Berikut video kajian dalam pembahasan bab ini oleh Ustadz Isnan Efendi Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook