Kategori Artikel Manhaj

Manhaj

Intisari Kajian Kitab Aqidah Salaf Ashabul Hadits Karya Abu  'Utsman Ashshobuni rahimahullah.

Abu  'Utsman Ashshobuni  berkata: Ciri-ciri  ahli  bid'ah  sangat  jelas  dan  terang,  yang  paling menonjol  diantaranya  adalah:  kebencian  mereka  kepada para  pembawa  riwayat  hadits,  merendahkannya,  dan menggelarinya  dengan:  penghafal  catatan  kaki,  orang-orang dungu,  orang-orang  tekstual  atau  musyabihah  (orang-orang yang  menyamakan  sifat  Allah  dengan  sifat  makhluk).

Mereka  meyakini  adanya  makna  bathin  dari  hadits-hadits Nabi  shallallahu  'alaihi  wa  sallam,  sehingga  mereka menafsirkan  hanya  dengan  otak  mereka  yang  telah  dirusak oleh  syaitan,  hati  nurani  mereka  teleh  rusak,  dan argumentasi  dan  pemikiran  mereka  sangat  rancu  dan berantakan.  Allah ta'aala berfirman:

"Mereka  itulah  orang-orang  yang  dilaknati  oleh  Allah  dan ditulikan  telinganya  dan  dibutakan  penglihatan  mereka." (Muhammad:23).

Perkataan-perkataan Salaf

Ahmad bin Sinan al Qoththon berkata: "Di kolong langit ini, tidak seorangpun ahli bid'ah yang tidak membenci ahli hadits, karena ketika orang itu telah berbuat bid'ah maka ia akan kehilangan kemanisan ilmu hadits dalam hatinya".

Abu Hatim Muhammad bin Idris al Hanzali ar Rozi berkata:
"Ciri-ciri ahli bid'ah yaitu suka mengolok-olok ahlu atsar (ahli hadits), dan termasuk ciri-ciri org zindiq (munafiq) yaitu suka menggelari ahli atsar sebagai penghafal catatan kaki, yang mereka inginkan adalah membatalkan atsar sebagai sumber hukum.

Termasuk ciri-ciri qadariyah (orang-orang yang mengingkari adanya takdir) adalah menggelari ahlus sunnah dengan jabariyah (orang-orang yang bergantung kepada takdir dan meninggalkan usaha).

Diantara ciri-ciri jahmiyyah (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat Allah) adalah menggelari ahlus sunnah dengan sebutan musyabihah (orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk).

Diantara ciri-ciri rafidhah (syiah) adalah menggelari ahlus sunnah dengan sebutan nabithah dan nashibah (orang-orang yang membenci ahli bait).

Ciri ciri Ahlul bid'ah secara detail:

  1. Mereka memilih ayat-ayat yang mutashabih (umum)  dan meninggalkan ayat-ayat khusus. Mereka menentang ahlussunnah dengan ayat-ayat umum.
    Contoh: melegalkan tahlilan dengan dalil memberikan makan (dalil keutamaan memberi makan -  umum).
  2. Mereka menyembunyikan kesalahan Ahlul Ilmi. Maksudnya kesalahan ulama mereka tutup dan ulama ahlussunnah disebarkan.
    Misal: Tatkala Ibnu Taimiyah rahimahullah menafsirkan turunnya Alloh ta'aala seperti turunnya dia dari mimbar. Dan faktanya tidak demikian.
  3. Membenci Ahlul Atsar yaitu Ahlul Hadits dan membenci orang-orang yang mengikuti mereka.
    Imam ahmad bin Sinan radhiyallahu: tidak ada seorang Ahlul bid'ah seorang pun kecuali dia membenci Ahlul hadits. Juga dikatakan oleh Abdurrahman Arrozi radhiyallahu anhu.
  4. Tidak mengamalkan kitab dan sunnah dengan pemahaman salafus sholeh (Para sahabat)
    Contoh : Pengikut teror karena mereka mengambil ayat-ayat Alquran dengan pemahaman mereka.
  5. Memecah belah agama dan mengajak orang-orang mengikuti mereka.
    Imam Assam'ani rahimahullah : Di antara hal yang menunjukkan Ahlul hadits mereka di atas kebenaran, dalilnya apabila kamu mengecek seluruh kitab-kitab yang mereka tulis dari dulu sampai sekarang walaupun negeri dan zaman mereka berbeda, kamu akan mendapatkan dalam hal menerangkan Akidah dalam penjelasan yang sama. (Karena dulu tidak ada internet, ratusan tahun jarak dan tempat, maka penjelasannya sama).
  6. Menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu.
  7. Memberikan gelaran (laqob) buruk kepada Ahlussunnah. Contohnya:
    Hasywiyah: orang-orang bodoh/paling rendah. Yang paling awal menyebutkan gelar ini mutazilah. Kelompok lain mengikuti. (Ibnul Qayyim)
    Zhahiriyah: Kelompok dhohir.
    Musyabbihah : Menyerupakan.
    Wahabi, dll.
  8. Cepat dalam mengkafirkan tanpa adanya dalil-dalil. Contohnya khowarij dan pengikutnya.
    Khowarij adalah kelompok yang paling pertama muncul di kalangan ahlussunnah.
    Imam ibnul Aliyah : Alloh telah memberikan dua nikmat, aku gak tahu yang paling nikmat, aku mendapatkan nikmat islam dan tidak masuk khowarij.
  9. Menutup hakikat kebenaran. Contohnya kaum Syiah.
    Imam Albarbahari rahimahullah: permisalan ahlu bid'ah seperti kalajengking yang menutup kepala dan badan dengan tanah dan mengeluarkan ekornya. Kalau ada kesempatan menyengat.
    Maka ada gerakan bawah tanah. Ahlussunnah selalu terbuka. Tidak eksklusif.
  10. Dalih persatuan (menyatu). Cirinya : kalo berjumpa kawanya, kelihatan hakikatnya. Karena seorang bergantung dengan agama kawanya.
    Ini kaidah emas menentukan manhaj seseorang.
    Muadz bin muadz: seorang walaupun dia menutupi akidah nya pada orang lain, tapi dia tidak mampu menutupi nya dari anaknya, kawannya atau majelisnya.
  11. Berdusta. Contoh takiyah di Syiah.
    Ibnu Taimiyah : orang ahlu bid'ah menyandarkan nukilan-nukilan dari yang tidak diketahui sumbernya.

Abu  'Utsman Ashshobuni  berkata:  "Saya  melihat  bahwa  ahli  bid'ah  yang menggelari  ahlus  sunnah  [namun  dengan  karunia  dari Allah,  tuduhan  tersebut  tidaklah  benar  dan  tidak  pantas disandarkan  kepada  ahlus  sunnah]  mereka  (ahli  bid'ah) mengikuti  jalannya  musrikin  [semoga  Allah  melaknat mereka]  yang  menggelari  Rasulullah  shallallahu  'alaihi  wa sallam  dengan  gelar-gelar  yang  tidak  pantas.  Diantaranya ada  yang  menggelari  Rasulullah  shallallahu  'alaihi  wa sallam  sebagai  tukang  sihir,  dukun,  ahli  sya'ir,  orang  gila, orang  kesurupan,  pembohong,  tukang  nyleneh  dan  lain sebagainya.  Padahal  Nabi  shallallahu  'alaihi  wa  sallam sangat  jauh  dari  semua  'aib  tersebut.  Beliau  adalah  Nabi dan Rasul yang terpilih. Allah Ta'ala berfirman :

Perhatikanlah,  bagaimana  mereka  membuat  perbandingan-perbandingan  tentang  kamu,  lalu  sesatlah  mereka,  mereka tidak  sanggup  (mendapatkan)  jalan  (untuk  menentang kerasulanmu)."  (Al-Furqan:9).

Demikian  juga  halnya  dengan  ahlu  hadits  yang  diberi  gelar-gelar  buruk  oleh  ahli  bid'ah  padahal  ahlu  hadits  sangat  jauh dan  bersih  dari  celaan  tersebut.  Ahlu  hadits  adalah  orangorang  yang  berpegang  teguh  dengan  sunnah  yang  bersih, sistem  kehidupan  yang  diridhai  oleh  Allah  ta'ala,  jalan-jalan yang  lurus  dan  hujjah  yang  kokoh.
    
Allah  telah  menganugrahi  ahlu  hadits  untuk  dapat meneladani  apa  yang  terdapat  dalam  kitab-Nya,  wahyu-Nya dan    firman-Nya,  meneladani  Rasul-Nya  dalam  setiap  hadits  dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berlaku baik, dalam ucapan dan perbuatan serta mencegah mereka untuk berbuat kemungkaran.  

Allah juga menolong ahlu hadits untuk dapat berpegang teguh dengan sistem kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Allah-pun menjadikan mereka sebagai pengikut para wali yang terdekat. Allah juga melapangkan dada mereka untuk mencintai beliau, mencintai para ulama umat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seseorang akan bersama orang yang dicintainya."  (HR. Bukhari, Ahmad dan lainnya).

Hindari perdebatan

Ahlus Sunnah wal Jama’ah Melarang Perdebatan dan Permusuhan Dalam Agama.

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari hal tersebut. Dalam Ash-Shohihain dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

اِقْرَأُوْا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوْبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَقُوْمُوْا عَنْهُ

“Bacalah Al-Qur`an selama hati-hati kalian masih bersatu, maka jika kalian sudah berselisih maka berdirilah darinya”.

Dan dalam Al-Musnad dan Sunan Ibnu Majah –dan asalnya dalam Shohih Muslim- dari ‘Abdullah bin ‘Amr :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ وَهُمْ يَخْتَصِمُوْنَ فِي الْقَدْرِ فَكَأَنَّمَا يَفْقَأُ فِي وَجْهِهِ حُبُّ الرُّمَّانِ مِنَ الْغَضَبِ، فَقَالَ : بِهَذَا أُمِرْتُمْ ؟! أَوْ لِهَذَا خُلِقْتُمْ ؟ تَضْرِبُوْنَ الْقُرْآنَ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ!! بِهَذَا هَلَكَتِ الْأُمَمُ قَبْلَكُمْ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar sedangkan mereka (sebagian shahabat-pent.) sedang berselisih tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau bagaikan merahnya buah rumman karena marah, maka beliau bersabda : “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan sebagian Al-Qur’an dengan sebagiannya!! Karena inilah umat-umat sebelum kalian binasa”.

عن أبي الثور قال: سمعت الشافعي يقول: كان مالك إذا جاءه بعض أهل الأهواء قال: أما أنا فإني على بينة من ديني وأما أنت فاذهب إلى شاك مثلك فخاصمه (سير أعلام النبلاء ٩٩/٨) (حلية الأولياء ٣٢٤/٦)

Dari abu tsaur ia mengatakan aku telah mendengar imam syafi'i mengatakan: jika ahlu bida'h datang kepada imam malik untuk berdebat beliau mengatakan: aku telah berada diatas pijakan yang jelas Dalam agama ku, adapun kamu pergilah ke orang-orang yang sama denganmu lalu berdebatlah dengan mereka. (Siyar a'lam nubala' 8/99) (hilayatul auliya 6/324)

Boleh debat dengan syarat-syarat :

  1. Dari kalangan Ahlu ilmi
  2. Mengetahui syubhat lawan
  3. Tidak keluar dari alquran dan sunnah.
  4. Tujuannya jelas untuk mencari kebenaran.
  5. Memahami pada asalnya debat tidak dibolehkan.

Ikuti pembahasan selengkapnya bersama Ustadz Isnan Efendi Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook