Kategori Artikel Ilmu

Ilmu

Beberapa faedah dari salah satu dauroh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas di Qatar.

Beliau memberikan beberapa poin penting berupa nasihat dari para ulama Ahlussunnah yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu:

1. Ikhlas

nasihatKita diperintahkan untuk ikhlas kepada Alloh subhanahu wata’aala dalam segala hal; dalam menuntut ilmu, dalam beribadah, dalam bekerja, dalam berdakwah dan dalam aktifitas lainnya, agar amal kita diterima oleh Alloh subhanahu wata’aala.

Firman Alloh ‘azza wajalla dalam surat Al-bayyinah:5

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…

Ikhlas merupakan asas amal, seluruh amal yg dilakukan tanpa keikhlasan tidak akan diterima oleh Alloh subhanahu wata’aala.

Dan Allah subhanahu wata’aala menuntut kemurnian dalam penyembahan, fa’budillaha mukhlishan lahudin

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.(QS 39: 2).

Maka ketika Al-Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“…untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Beliau berkata, “Yakni, yang paling ikhlas dan paling benar. Sesungguhnya amal itu apabila ikhlas tapi tidak benar maka tidak akan diterima; dan apabila benar tetapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima. Jadi harus ikhlas dan benar.

Suatu amalan dikatakan ikhlas apabila dilakukan karena Allah, dan yang benar itu apabila sesuai Sunnah Rasulullah sholallohu’alaihi wasallam.” (Kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam I/36).

Ikhlas ini mahal dan berat, makanya para sahabat dahulu berusaha bagaimana supaya ikhlas. Maka sebagaimana perkataan Imam Ats-sauri :”tidak ada yang lebih sulit bagi diriku kecuali niatku” (mengikhlaskan niat).

Kalaulah imam yang besar seperti imam ats-sauri mengeluh atas susahnya ikhlas lalu bagaimana dengan kita-kita yang awam?

Sampai menuntut ilmu saja kalau tidak karena mengharapkan ganjaran Alloh ‘azzawajalla, tidak akan mencium bau surga sebagaimana hadits dari Abu Hurairoh Rasulullah sholallohu’alaihi wasallam bersabda :

"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah 'Azza wa Jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat" (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dishahihkan oleh Al-Hakim)

Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?

Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)

Imam Adzahabi dalam kitabnya Kitab Siyar A'lam An-Nubala (Perjalanan Hidup Orang-orang Mulia) menceritakan Seorang yang alim yang mengatakan “ aku belum pernah mengatakan aku menuntut ilmu ini semata-mata karena Alloh”, karena takutnya akan jatuh ria. Dan beliau Azahabi berkomentar ‘Wallohi wala anaa’. Demi Alloh, aku pun juga demikian…

Hal ini menggambarkan akan beratnya para ulama berusaha untuk berbuat ikhlas.

Dalam Hadits Qudsi :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

” قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ؛ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي(*)، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ”.

(رواه مسلم (وكذلك ابن ماجه

Diriwayatkan dari Abi Hurairah radiyallohu’anhu, beliau berkata, Telah bersabda Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam, “Telah berfirman Allah tabaraka wa ta’ala (Yang Maha Suci dan Maha Luhur), Aku adalah Dzat Yang Maha Mandiri, Yang Paling tidak membutuhkan sekutu; Barang siapa beramal sebuah amal menyekutukan Aku dalam amalan itu(*), maka Aku meninggalkannya dan sekutunya

Diriwayatkan oleh Muslim (dan begitu juga oleh Ibnu Majah). *). Adalah juga termasuk syirik jika seseorang beramal dengan amalan disamping ditujukan kepada Allah SWT juga ditujukan kepada yang selain-Nya.

Maka Ikhlas merupakan asas dalam beramal. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Sang Khalik kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah dengan banyak berdo’a.

Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا،وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” (HR Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, no. 54, dan Ibnu Majah n0. 925. Isnadnya hasan menurut Abdul Qadir dan Syu’aib al-Arna’uth dalam taqiq Zad Al-Maad 2/375).

Dzikir ini dibaca setiap selesai sholat subuh.

2. Terus Menuntut Ilmu dan bersungguh-sungguh

Rasulullah bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

Artinya : mencari ilmu wajib hukumnya atas setiap muslim (HR: Ibnu Majah I/81). (Penafsiran hadits ini mengindikasikan seorang muslimah pun wajib).

Kita ini masih tholabul ‘ilmi, masih ribuan kitab yang belum kita baca tetapi kita disibukan oleh banyak kegiatan. Semakin banyak kita belajar, maka kita akan merasa semakin bodoh.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam sarahnya di Riyadhussalihin menjelaskan sebuah hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi (diantaranya : hadits Abdullah bin Amru bin Al-Ash bawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakan lagi

Kata-kata fulan adalah kata “kinayah” tentang seorang manusia (seorang lelaki). Sedangkan perempuan dikatakan “fulanah”, dan kata fulan dalam hadits ini bisa terjadi adalah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan namanya kepada Abdullah bin Amru untuk menutupi keadaannya, karena maksud dari perkara itu tanpa pelakunya, dan mungkin juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nama lelaki itu tetapi disamarkan namanya oleh Abdullah bin Amru.

Dari dua kemungkinan diatas, inti dan pokoknya adalah amal. Dan perkaranya adalah seorang lelaki, dahulunya mengerjakan shalat malam, lalu setelah itu tidak menjaganya (mengekalkannya), padahal mengerjakan shalat malam hukum pokoknya adalah sunnah, kalaulah manusia tidak melakukannya maka tidaklah ia dicela, dan tidak dikatakan kepadanya : “Mengapa kamu tidak mengerjakan shalat malam?”. Karena shalat malam adalah sunnah, akan tetapi keadaannya yang mana ia mengerjakan shalat malam lalu tidak mengerjakannya, inilah keadaan yang menyebabkan ia dicela. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaa : “Janganlah kamu seperti si fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi”.

Hal yang lain, dan ini merupakan yang terpenting, hendaknya seseorang memulai untuk menuntut ilmu syar’i, tatkala Allah membukakan baginya kenikmatan ia tinggalkan amalnya (menuntut ilmu syar’i), maka sesungguhnya hal ini adalah kufur terhadap nikmat yang Allah berikan padanya. Maka jika engkau memulai menuntut ilmu teruslah menuntut ilmu kecuali sesuatu yang sangat darurat menyibukanmu, dan kalau tidak ada penghalang maka teruslah menuntut ilmu. Jangan Menganggap diri kita alim.

Contohlah para sahabat yang langsung menimba ilmu dari Nabi shalallohu’alaihi wasallam. Sepeninggal Rasulullah, mereka terus belajar menimba ilmu dari sahabat lain yang lebih alim seperti Abu Hurariroh dan Abdullah bin Mas’ud.

Ingatlah! “Berdirinya para sahabat sesaat lebih baik dari pada amal kita selama 40 tahun”.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

" Ibnu Abbas berkata : 'Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat itu lebih baik dari amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh) tahun". (Hadits Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih)

Mereka pun tidak berani berfatwa hingga memberikannya kepada siapa yang lebih alim. Seperti terjadi pada zaman Abdullah ibnu Mas’ud di Kuffah, ketika orang-orang berkumpul di masjid membuat halaqoh dzikir bersama dan datang Abu Musa Al-as’ary. Maka Abu Musa tidak langsung berfatwa, tetapi mendatangi Ibnu Mas’ud yang lebih alim. Hingga Ibnu Mas’ud menanyakan “Apa yang kalian lakukan?” mereka menjawab “kami hanya berdzikir ya Ibnu Mas’ud dengan batu kerikil”, maka seketika beliau menjawab “Hitunglah kesalahan kamu!”, karena ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan sahabat masih hidup, kenapa kalian tidak mencontoh sahabat? Dan mereka pun menjawab “Kami hanya melakukan yang baik-baik saja”. Ibnu Mas’ud menjawab:” betapa banyak orang-orang yang niatnya baik, tetapi tidak sesuai dengan contoh dari Rasul”.

Hikmah yang dapat diambil dari sepenggal kisah di atas adalah:

1. Kita tidak boleh memberikan fatwa sekehendak kita tanpa ilmu.

2. Adab Salafusshalih selalu memberikannya kepada yang lebih berilmu.

3. Bahwasanya parameter ibadah bukan dari nilai sisi baiknya, tetapi harus sesuai contoh Rasulullah.

4. Teruslah menuntut ilmu sampai ajal menjemput kita, tidak boleh merasa ‘alim.

Isilah waktu kita dengan membaca dan menuntut ilmu, siapkan bekal dan waktu khusus untuk mendatangi ulama.

Download artikel lengkap : Klik di Sini

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook