Kategori Artikel Fiqh

Fiqh

Kajian Ensiklopedia Fiqh Wanita - Ahkamul Janaiz
Oleh Ustadz Cecep Suherlan Abu Abdillah Hafidzahullah

 

kuburHidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. 

Hal-hal yang dilakukan pada saat menjumpai seseorang yang sakaratul maut

1. Mentalkin, Membimbing membaca kalimat tauhid.

Saat berhadapan dengan orang yang sedang menghadapi kematian, kita diperintahkan untuk menuntunnya membacakan kalimat tauhid La Ilaha Illallah, tidak ada Tuhan selain Allah. Dalam salah satu hadis, Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La Ilaha Illallah’ maka dia akan masuk surga.” (H.R. Abu Dawud).

2. Menghadapkan ke arah kiblat.

Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi disebutkan bahwa sesungguhnya Barra bin Ma’rurr pernah berwasiat meminta dihadapkan ke arah kiblat jika datang ajalnya, sebab Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam pernah bersabda, “Hal yang seperti itu sesuai dengan fitrah.”

3. Apabila ruhnya telah keluar:

  • Memejamkan matanya dengan mengusap dengan tangan kanan.
  • Mendoakan si mayit

Seperti yang dicontohkan Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam ketika Abu Salamah meninggal dunia dan matanya terbuka. Nabi lalu memejamkan kedua matanya seraya berkata, “Sesungguhnya ruh itu jika dicabut diikuti oleh mata.” Kemudian beliau berdoa “Ya Allah ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di golongan orang-orang yang mendapat petunjuk, berilah pengganti yang baik di keturunannya, ampunilah kami dan dia wahai rabb semesta alam, lapangkanlah baginya dikuburnya, dan terangilah dia di dalamnya.” (H.R. Muslim).

  • Menutup seluruh badannya sehingga seluruh badan tertutup.

Mayat harus ditutup dengan menggunakan kain yang ukurannya bisa menutupi sekujur tubuhnya. Hal ini dipertegas dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam sahihnya (3/113/1241) dan Muslim dalam sahihnya (2/651/942), “Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah ketika meninggal dunia ditutupi dengan selimut yang bercorak garis-garis.”.

  • -Menyegerakan Pengurusan Jenazah

Kita diperintahkan untuk segera melaksanakan pengurusan jenazah yaitu memandikan, mengkafani, menyolatkan, dan menguburkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi Sholallohu'alaihi wasallam bersabda, “Bersegeralah di dalam mengurus jenazah, jika dia orang yang salih maka berarti kebaikan yang akan kalian segerakan baginya, dan jika tidak seperti itu maka berarti kejelekan yang segera kalian letakkan dari tanggung jawab kalian.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

  • Bersegera membayarkan hutangnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :
Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai hutang dilunasi. (Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya (II/440, 475, 508); Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 1078-1079); Imam ad-Darimi dalam Sunan-nya (II/262); Imam Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya (no. 2413); Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2147)).

Dari Jabir Radhiyallahu anhu ia berkata, “Seorang laki-laki meninggal dunia dan kami pun memandikan jenazahnya, lalu kami mengkafaninya dan memberinya wangi-wangian. Kemudian kami datang membawa mayit itu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata, ‘Shalatkanlah jenazah ini.’ Beliau melangkahkan kakinya, lalu bertanya, ‘Apakah dia mempunyai tanggungan utang?’ kami menjawab, ‘Dua dinar.’ Lalu beliau pergi. Abu Qatadah kemudian menanggung utangnya, kemudian kami datang kepada beliau lagi, kemudian Abu Qatadah berkata, ‘Dua dinarnya saya tanggung.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kamu betul akan menanggungnya sehingga mayit itu terlepas darinya? Dia menjawab, ‘Ya.’ Maka Rasûlullâh pun menshalatinya. Kemudian setelah hari itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah yang telah dilakukan oleh dua dinar tersebut?’ Maka Abu Qatadah berkata, “Sesungguhnya ia baru meninggal kemarin.’” Jabir berkata, ‘Maka Rasûlullâh mengulangi pertanyaan itu keesokan harinya. Maka Abu Qatadah berkata, ‘Aku telah melunasinya wahai Rasûlullâh!’ maka Rasûlullâh bersabda, ‘Sekarang barulah dingin kulitnya!’”[Shahih: HR. Ahmad (III/330), Abu Dâwud (no. 3343), an-Nasa-i (IV/65-66), dan Ibnu Hibbân (no. 3053-at-Ta’lîqâtul Hisân). Lihat Bulûghul Marâm (no. 877 dan 878) tahqiq Samir az-Zuhairi].

Proses keluarnya ruh

Berkata Al-Bara’ bin Azib radiyallahu ‘anhu:

“Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa jenazah seorang lelaki Ansar sehingga kami pun sampai di perkuburan. Sementara menunggu jenazah di masukkan ke dalam liang lahat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk (mengadap kiblat) dan kami pun ikut duduk di sekeliling Baginda seolah-olah di atas kepala kami terdapat seekor burung. Di tangan Baginda ada sebatang kayu yang dengannya Baginda menusuk-nusuk tanah. Baginda melihat ke langit kemudian menunduk ke tanah. Baginda memandang ke atas kemudian ke bawah sebanyak tiga kali. Kemudian Baginda bersabada:

“Berlindunglah dengan Allah daripada azab kubur” (sebanyak dua atau tiga kali).

Lalu Baginda berkata:

“Ya Allah, aku berlindung denganMu daripada azab kubur” (tiga kali).

Kemudian Baginda bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba yang beriman ketika hampir berakhir kehidupan dunianya dan bermulanya kehidupan akhiratnya, turunlah kepadanya malaikat-malaikat yang putih wajahnya bagaikan matahari. Mereka datang membawa kain kapan dari Syruga dan wangian mayat Syurga. Mereka kemudian duduk di depan orang itu sejauh mata memandang.Lalu datang Malaikat Maut a.s. dan duduk di kepalanya seraya berkata: “Wahai roh yang baik (dalam riwayat lain: jiwa yang tenang), keluarlah menuju keampunan dan keredaan Allah.

Lalu roh itu keluar mengalir bagaikan mengalirnya titisan air dari muncung bekas air dan Malaikat Maut pun mengambilnya.

Dalam riwayat lain: Sampai ketika roh itu keluar maka seluruh malaikat antara langit dan bumi dan seluruh malaikat di langit bersalawat kepadanya, dan dibuka buatnya pintu-pintu langit. Tidak ada penjaga pintu-pintu itu melainkan mereka berdoa kepada Allah agar roh itu naik dari arah (pintu) mereka.

Ketika dia (Malaikat Maut) mengambil roh itu, para malaikat yang lain tidak membiarkannya walaupun sekelip mata sehingga mereka mengambilnya dan meletakkannya dalam kain kapan serta wangian itu.

Itulah firman Allah:

“Dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan mereka tidak lalai” (Al-Anaam, 61).

Dia keluar dari situ dalam keadaan bau aroma kasturi terharum yang ada di atas muka bumi. Mereka naik membawa roh itu dan setip kali mereka melewati sekumpulan malaikat, mereka akan berkata, “Roh siapakah yang baik ini?” Malaikat yang membawa menjawab, “Ini adalah Fulan bin Fulan”. Disebutkan namanya yang terbaik yang biasa dia dipanggil ketika di dunia. Sehingga mereka tiba di langit dunia dan mereka minta dibukakan pintu untuk roh yang mereka bawa. Pintu pun dibuka buat mereka. Roh itu akan diiringi oleh semua penghuni langit itu sehingga tiba di langit yang berikutnya, sehinggalah sampai ke langit tujuh. Maka Allah pun bertitah: “Tulislah kitab hamba-Ku ini dalam Illiyyin”.

“Tahukah kamu apakah itu Illiyyin? Ia kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh para malaikat pendamping” (Al-Mutaffifin, 19-21).

Maka ditulis kitabnya dalam Illiyyin dan dikatakan: Kembalikan dia ke bumi, kerana Aku sudah berjanji kepada mereka bahawa aku menciptakan mereka daripadanya, kepadanya Aku kembalikan mereka dan daripadanya Aku akan bangkitkan mereka semula.

Lalu dia dikembalikan ke bumi dan dimasukkan semula rohnya ke dalam jasadnya. Dia mendengar bunyi derapan kasut sahabat-sahabatnya tatkala mereka meninggalkan perkuburannya.

Setelah itu dua orang malaikat yang kasar bentakannya menyergah dan mendudukkannya seraya berkata, “Siapa tuhanmu?”
Dia menjawab, “Tuhanku Allah”.
Mereka bertanya lagi, “Apa agamamu?”
Dia menjawab, “Agamaku Islam”.
Mereka bertanya lagi, “Siapa orang yang diutus untuk kalian?”
Dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah sallalahu alaihi wasallam”.
Tanya mereka lagi, “Apa amalanmu?” Jawabnya, “Aku membaca Kitab Allah, beriman dengannya dan membenarkannya.”

Mereka membentaknya dalam pertanyaan, “Siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu?” Itu adalah fitnah (ujian) terakhir yang dihadapkan kepada seorang mukmin dan itulah yang difirmankan oleh Allah:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia” (Ibrahim, 27).

Sehingga dia mampu menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Lalu kedengaran suara panggilan dari langit yang berkata, “Hambaku ini telah berkata benar, maka bentangkan tilamnya daripada Syurga, pakaikan dia pakaian Syurga dan bukakan untuknya pintu menuju ke Syurga!” Sehingga dia dapat mencium keharuman bau Syurga dan diperluaskan kuburnya sejauh mata memandang.

Lalu datanglah seorang lelaki yang bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan berbau harum yang berkata, “Bergembiralah dengan apa yang membuatmu senang. Inilah hari yang dijanjikan untukmu.”

Dia berkata kepadanya, “Kamu siapa? Wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan.”
Orang itu menjawab, “Aku adalah amal solehmu. Demi Allah, aku tidak mengetahui tentangmu kecuali engkau cepat melaksanakan perintah Allah dan lambat mengerjakan kemaksiatan terhadap Allah, maka Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Kemudian dibukakan buatnya salah satu pintu Syurga dan salah satu pintu Neraka, lalu dikatakan, “Ini adalah tempatmu kalau kamu bermaksiat terhapa Allah tetapi Allah telah menggantinya dengan yang ini.” Tatkala dia melihat apa yang ada di dalam Syurga dia berkata, “Tuhanku, percepatkanlah Hari Kiamat, agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku.” Dikatakan kepadanya, “Bertenanglah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya berkata:

Sedangkan kalau yang mati itu adalah orang kafir, ketika hampir berakhir kehidupan dunianya dan bermulanya kehidupan akhiratnya, akan datang kepadanya malaikat-malaikat yang kasar lagi bengis. Mereka berwajah hitam dan mereka membawa bersama mereka pakaian daripada Neraka. Mereka duduk di hadapan orang kafir itu sejauh mata memandang. Lalu datanglah Malaikat Maut duduk di kepalanya dan berkata, “Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan dan kebencian daripada Allah.

Lalu rohnya keluar dari jasad dan disentap umpama sabut yang berserat banyak daripada bulu domba yang basah sehingga banyak keringat dan urat-urat yang terputus bersamanya.

Dia lalu dilaknat oleh sekelian malaikat antara langit dan bumi dan setiap malaikat di langit. Pintu-pintu langit ditutup buatnya. Tidak ada pintu kecuali penjaganya akan berdoa kepada Allah agar roh itu tidak naik melewati mereka.

Ketika dia (Malaikat Maut) mengambil roh itu, para malaikat yang lain tidak membiarkannya walaupun sekelip mata sehingga mereka mengambilnya dan meletakkannya dalam pakaian neraka itu. Ketika itu keluar daripadanya bau bangkai paling busuk yang pernah ada di atas muka bumi. Mereka membawanya naik dan setiap kali mereka melewati sekumpulan malaikat mereka akan berkata, “Roh siapakah yang jelek ini?” Jawab mereka, “Fulan bin Fulan.” Disebutkan nama yang paling jelek yang pernah diberikan kepadanya ketika di dunia. Sampai akhirnya mereka tiba di langit dunia dan mereka minta dibukakan pintu untuk roh yang mereka bawa tetapi tidak diperkenankan.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, yang ertinya:

“Tidak dibuka buat mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk Syurga sehingga unta masuk ke dalam lubang jarum” (Al-A’raaf, 40).

Allah Azza wa Jalla kemudian bertitah, “Tulislah buku hambKu ini dalam Sijjin dalam perut bumi yang paling bawah!”

Kemudian dikatakan, “Kembalikan dia ke bumi, kerana Aku sudah berjanji kepada mereka bahawa aku menciptakan mereka daripadanya, kepadanya Aku kembalikan mereka dan daripadanya Aku akan bangkitkan mereka semula.”

Kemudian roh itu dilemparkan dari langit sampai menimpa tubuhnya. Kemudian Baginda membacakan firman Allah, yang ertinya:

“Barangsiapa menyukutukan sesuatu dengan Allah, maka seolah-olah dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Al-Hajj, 31).

Maka dikembalikan roh kepada jasadnya dan dia mendengar derapan kasut teman-temannya tatkala mereka berpaling meninggalkan perkuburannya.

Selanjutnya, dia didatangi dua malaikat yang keras bentakannya yang langsung membentak dan mendudukannya, lalu berkata, “Siapa Tuhanmu?”
Dia menjawab, “Aah..aah... aku tidak tahu.”
Malaikat itu bertanya lagi, “Apa agamamu?”
Dia menjawab, “Aah..aah... aku tidak tahu.”
Malaikat bertanya lagi, “Apa pendapatmu tentang orang yang diutus kepada kalian ini?” Dia tidak dapat mengetahui namanya.
Maka dikatakan kepadanya: “Muhammad!”
Dia menjawab, “Aah..aah... aku tidak tahu. Aku hanya mendengar manusia mengatakan sesuatu lalu aku mengatakan hal yang sama.”
Lalu dikatakan, “Kamu memang tidak tahu dan tidak membaca.”

Setelah itu kedengaran panggilan dari langit yang mengatakan, “Dia berdusta! Bentangkan buatnya tilam dari neraka dan bukakan pintu neraka ke arahnya.” Maka ketika itu dia merasai kepanasan bahangnya dan disempitkan buatunya kuburnya sampai tulang sendinya bersilang-silang.

Kemudian datanglah kepadanya seorang lelaki yang buruk rupanya, berpakaian jelek dan berbau busuk. Dia berkata kepadanya, “Dengarlah khabar yang akan memburukkanmu, inilah hari yang dijanjikan untukmu.”

Dia berkata, “Siapa kamu?”
Orang itu menjawab, “Aku adalah amal burukmu. Demi Allah, aku tidak tahu kecuali engkau lambat dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah tetapi cepat dalam bermaksiat terhadap Allah. Maka Allah memberi ganjaran buruk kepadamu.

Kemudian didatangkan kepadanya orang yang bisu, tuli dan di tangannya cemeti besi! Sekiranya gunung dipukul dengannya nescaya ia akan hancur menjadi tanah. Orang itu lalu memukulnya dengan sebuah pukulan sampai dia menjadi tanah. Kemudian dia dikembalikan semula seperti sebelumnya dan dipukul lagi. Dia menjerit dengan jeritan yang akan didengari oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia. Lalu dibukakan buatnya pintu neraka dan dia pun berkata, “Tuhanku, jangan Engkau datangkan Hari Kiamat.”

(Riwayat Abu Daud, Al-Hakim dan Imam Ahmad. Hadis disahihkan oleh Imam Albani dan kitabnya Ahkaam Al-Janaa’iz, 198-202)

 Ikuti video kajiannya di link berikut:

 Ikuti Audio kajiannya di link berikut:

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Download
 

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook