Kategori Artikel Fiqh

Fiqh

Penjelasan salah satu pasal dalam Kitab Mukhatshar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah rahimahullah berkenaan dengan zakat dan sodaqoh.

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Amat Disayangkan, Banyak Sedekah Hanya Untuk Memperlancar Rizki. Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memperlancar rizki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela. Alloh subhanahu wata'aala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu barangsiapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan akhirat.

Tugas-tugas orang yang akan bersedekah atau zakat agar dapat memperoleh keutamaan akhirat, telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Kitab Mukhatshar Minhajul Qashidin yang dirangkum dalam beberapa poin berikut:

1. Mengetahui maksud tujuan zakat, yaitu:

  • Cobaan bagi orang yang mengaku mencintai Alloh ta'aala dengan sesuatu yang dia cintai.
  • Menghilangkan sifat tercela yaitu bakhil yang membinasakan
  • Mensyukuri atas nikmat harta.

2. Tidak merusak dengan Man (disebut-sebut sodaqoh didepan orang tersebut) dan adza (menyakiti orang tersebut).

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ثُمَّ لاَ يَتْبِعُونَ مَآأَنفَقُوا مَنًّا وَلآَ أَذًى لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. 2:262)

3. Menganggap kecil apa yang dia berikan kepada orang fakir. Karena sesungguhnya orang yang menganggap sodaqoh nya itu besar maka itu adalah ujub.

Kebaikan itu tidak sempurna kecuali dengan 3 perkara :

  1. Menganggap sedikit /kecil
  2. Disegerakan
  3. Dirahasiakan.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ:...... وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ....

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:......(6)seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya,...  [Hadits Riwayat Al-Bukhari (no. 660, 1423, 6479, 6806), Muslim (no. 1031 (91))].

4. Memilih harta yang paling bersih, halal dan paling dia cintai.

Alloh subhanahu wata'aala berfirman:

    لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu tidak akan memperoleh kebaikan, sebelum kamu kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, allah maha mengetahui. (Ali Imron:92)

Kisah Abdullah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma:

Dari Said bin Hilal berkata, “Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma sangat menginginkan makan ikan, namun orang-orang tidak menemukan ikan tersebut kecuali satu ekor saja, lalu istrinya menghidangkannya untuk dirinya, namun setelah masakan ikan itu diletakkan di hadapannya, datanglah seorang miskin di depan pintu, lalu Ibnu Umar berkata, ‘Berikanlah ikan tersebut kepadanya,’ istrinya pun berkata, ‘Subhanallah, kita dapat memberinya satu dirham, sedangkan engkau, makan saja ikan tersebut.’ Dia berkata, ‘Tidak, karena Abdullah bin Umar (maksudnya adalah dirinya) menyukai ikan tersebut, dan tatkala Ibnu Umar telah menyukai sesuatu niscaya dia tinggalkan hal itu untuk Allah sebagai suatu sedekah’.”

Kisah Rubai bin Khaitsam:

Ada seorang yang minta-minta di dekat pintu rumah Rubai bin Khaitsam. Kemudian dia memberitahu keluarganya:"kasih dia gula" keluarganya menjawab: "kita kasih roti saja akan lebih manfaat bagi dia", Rubai bin Khaitsam marah: 'celaka kamu!, kasih dia gula, sesungguhnya Rubai sangat menyukai gula.'

5. Memberikan sodaqoh tersebut kepada orang-orang yang memiliki sifat di bawah ini (Yang dipilih dari golongan 8 asnaf) :

  1. Orang-orang yang bertaqwa. Karena segala keluhan hanya diadukan kepada Allah Ta’ala.
  2. Orang-orang yang memiliki ilmu. Karena orang alim membantu menyebarkan ilmu dan menjaga agama Alloh ta'aala.
  3. Orang yang meyakini nikmat itu datangnya dari Alloh ta'aala. Ahli tauhid dan sunnah.
  4. Orang yang menjaga kefakirannya, selalu menutupi kebutuhan kebutuhannya. Tidak menampakkan kefakirannya.
  5. Dia memiliki keluarga yang banyak.
  6. Orang yang sakit menahun atau hutangnya banyak.
  7. Kerabat dekat dan masih hubungan rahim.

Ikuti kajian selengkapnya yang disampaikan Oleh Ustadz Syukron Habibie Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook