Kategori Artikel Aqidah

Aqidah

Kajian Kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah  oleh Ustadz Isnan Efendi Hafidzahullah
Sabtu, 23 September 2017 di Izghawa, Doha.

Pembahasan: "Wajibnya Beriman dengan Istiwa' Allah di atas Arsy, dan Ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan Kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya dan diantara keduanya tidak saling bertentangan."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâhu pada bab ini menjelaskan tentang masalah yang berkaitan dengan keimanan. Yaitu beriman kepada nama dan sifat Alloh ta'aala.

Istiwa dan Al-Ulu' berarti tinggi. Perbedaanya: Istiwa dinisbatkan kepada Arsy. Kalo tidak disebutkan Arsy maka disebut Al 'Ulu (Mutlak/umum).

Ketinggian tersebut ada dua kategori: 

  1. Secara sifat (lebih tinggi dari makhluk-Nya). Misalnya makhluk sabar maka Alloh lebih sabar dari makhluk-Nya. Makhluk penyayang maka Alloh ta'aala lebih sayang.
  2. Secara dzat: ketinggian Allâh di atas Arsy secara dzatnya. Tata cara duduknya Allah tidak diketahui. Pada point ini banyak golongan yang menyimpang. Mereka menghilangkan sifat istiwa ini secara dzat di atas arsy. Sehingga muncul ta'wil seperti berarti menguasai. (Alloh bukan di atas Arsy tapi menguasai Arsy!).
    Kedua kategori ini tidak saling bertentangan. Telah dijelaskan Alloh ta'aala di dalam Al-qur'an, ataupun hadits secara mutawatir dan dibenarkan oleh para salaf umat ini.

Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi, yang menurut adat, pada umumnya dapat memberikan keyakinan yang mantap, terhadap apa yang telah mereka beritakan, dan mustahil sebelumnya mereka bersepakat untuk berdusta, mulai dari awal matarantai sanad sampai pada akhir sanad. (Confirm 100% sahih meskipun akal tidak menerima).

Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya:

“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya:

“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Dan beberapa hadits diantaranya: Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw).

Kebersamaan Allah disebut ma'iyyah, Kedekatan Alloh dan mengabulkan. Ketiga sifat ini juga dibagi dua dalam umum dan khusus.

Seperti kebersamaan Alloh bersama makhluk-Nya secara umum kepada siapa saja (Semua makhluknya). Kebersamaan disini adalah pengetahuan (Sesuai dengan arti bahasa Arab) karena banyak makna. Hal ini bukan ta'wil tapi konsekuensi dari makna tersebut.
Juga kebersamaan Alloh bersama makhluk-Nya secara khusus yang hanya diperuntukan bagi kaum mukminin.

Ikuti Kajian selengkapnya berikut ini:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook