Kategori Artikel Aqidah

Aqidah

Pembahasan salah satu pasal dari kitab Aqidah Wasithiyah - Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah Rahimahullah

Muallif Asy-Syaikh Al-Islam Ibn Taimiyyah Rahimahullah berkata:

Pasal 2 - Beriman Terhadap apa-apa yang disifatkan oleh Alloh Subhanahu wata'aala untuk diriNya di dalam KitabNya

Dan sesungguhnya masuk kepada kalimat ini (penafian dan penetapan) apa-apa yang disifatkan oleh Allah bagi diri-Nya di dalam surat Al-Ikhlash yang pahalanya menyamai sepertiga Al-quran, Allah berfirman:

“Katakanlah: Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung (kepadanya) segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula menjadi anak. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlash: 1-4)

 [Allah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Esa, dan sebagai tempat bergantung segala sesuatu yaitu harapan, doa, cinta, dan rasa takut. Allah menafikan bagi diri-Nya memiliki anak, menafikan bahwa dia sebagai anak, menafikan adanya sesuatupun yang setara dengan-Nya]

Sebab diturunkannya surat Al Ikhlas dikarenakan kaum musyrikin menanyakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  tentang Nasab Allah, Maka turunlah surat ini...

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا مُحَمَّدُ [ص:144] ، انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {قُلْ هُوَ اللَّهُأَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ} [الإخلاص: 2] لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “  

“Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab berkata bahwasanya orang-orang musyrikin berkata kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Muhammad sebutkan kepada kami tentang nasab Robbmu.” Maka Allah Subhanahu wata’ala menurunkan surat ini yang artinya : “Katakanlah (wahai Muhammad) Dia lah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara denganNya.” (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, ini lafadz yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Pada lafadz Imam Tirmidzi yang serupa dengan lafadz diatas dihasankan oleh Syaikh Albani di dalam shohih wa dhoif Sunan Tirmidzi).

Para pembaca yang semoga Allah berkahi, dinamakan surat Al Ikhlas dikarenakan pada surat ini terdapat penjelasan tentang pensucian yang sempurna untuk Allah:

Pertama, karena dalam surat tersebut Allah khusus menceritakan tentang diri-Nya. Sehingga di dalam surat ini, tidak ada keterangan apapun selain keterangan tentang Allah subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.

Kedua, surat ini mengajarkan tentang prinsip ikhlas bagi orang yang membacanya, sehingga dia menjauhi kesyirikan. Apabila dia baca dengan meyakini kandungannya dan isinya yang mencakup tiga macam tauhid, tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat.

[Fatawa Nur ’ala ad-Darb, volume 5, no. 2].

Tidak jauh beda dengan keterangan beliau, adalah keterangan Fakhrur Rozi dalam tafsirnya, ketika beliau menyebutkan alasan penamaaan surat al-Ikhlas,

ولأن من اعتقده كان مخلصا في دين الله، ولأن من مات عليه كان خلاصه من النار

“Karena orang yang meyakininya akan menjadi ikhlas dalam menjalankan agama Allah, dan karena orang yang mati dengan ikhlas, dia akan bersih (dijauhkan) dari neraka.” (Tafsir ar-Razi, 17/293).

Dilalah dari Nama-nama Allah

Dilalah secara umum adalah memahami sesuatu atas sesuatu. Kata “sesuatu” yang disebutkan pertama disebut “madlul” yaitu yang ditunjuk. Kata sesuatu yang kedua kalinya disebut “dalil” yaitu yang meliputi petunjuk. Dalam hubungannya dengan hukum, dalil itu disebut dalil hukum.

Pembahasan dilalah ini begitu penting dalam ilmu ushul fiqh, karena termasuk dalam salah satu sistem berfikir. Untuk mengetahui sesuatu tidak mesti melihat atau mengamati sesuatu itu secara langsung, tetapi cukup dengan menggunakan petunjuk yang ada.

Sebuah nama Allah memiliki tiga bentuk dilalah:

1. Dilalah Al-Muthabaqah: adalah kandungan makna lafadz atas seluruh maknanya, dan dari sinimaka setiap nama menunjukan kepada yang menyandang nama itu, yaitu Allah dan menunjukan pula sifat yang dikandung oleh nama tersebut.
2. Dilalah At-Tadhamun: adalah kandungan makna lafadz atas sebagian maknanya, dan berdasarkan ini maka sebuah nama digunakan untuk dzat saja atau untuk sifat yang dikandungnya saja adalah termasuk Dilalah At-Tadhamun.
3. Dilalah Al-Iltizam: adalah kandungan makna lafadz atas suatu makna yang dipahami, tapi tidak dari lafadz itu sendiri, akan tetapi dari konsekuensinya.

Ikuti penjelasan lengkap dan contohnya serta kandungan makna dari surat Al-Ikhlas dalam kajian berikut ini:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook