Kategori Artikel Aqidah

Aqidah

Pembahasan salah satu pasal dari kitab Aqidah Wasithiyah - Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah Rahimahullah

Muallif Rahimahullah berkata:

Maka [yang akan disebut dalam risalah] inilah i’tikad golongan yang selamat yang mendapat pertolongan hingga datangnya hari kiamat: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yaitu beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan iman kepada takdir baik dan takdir buruk.

Dan termasuk bagian iman kepada Allah adalah: beriman kepada sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah di dalam kitab-Nya, dan kepada sifat-sifat yang disebutkan oleh rasul-Nya tanpa melakukan tahrif [menyimpangkan sifat-sifat Allah (di dalam Alquran dan Assunnah) kepada makna-makna batil yang bukan makan sifat itu], tidak pula ta’thil [meniadakan sifat-sifat ilahiah dan mengingkari keberadaan sifat-sifat itu pada zat Allah], dan tidak melakukan takyif [meyakini sifat Allah berbentuk demikian atau mempertanyakan bentuknya], dan tidak pula tamsil [meyakini sifat Allah seperti sifat makhluk].

Penjelasan Tahrif, Ta’thil, Takyiif dan Tamtsil.

1. Tahrif (تخريف )

Tahrif secara bahasa ialah merubah. Adapun menurut istilah ialah merubah nash dari segi lafazh atau maknanya. Perubahan pada lafazh yang disertai merubah maknanya dan terkadang tidak merubah maknanya, sehingga terbagi menjadi tiga jenis:

Pertama:Tahrif pada Lafazh sekaligus merubah makna; Sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang terhadap firman Allah ta’ala:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara dengan langsung” (QS. An-Nisaa`: 164)

Mereka me-nashab-kan (fat-hah) [وَكَلَّمَ اللَّهَ] lafazh Allah agar yang berbicara adalah Musa.

Kedua:Tahrif pada lafazh tanpa disertai perubahan makna; Seperi mem-fathah-kan huruf dal pada firman Allah ta’ala:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al-Fatihah: 2)

Hal ini pada umumnya tidak terjadi kecuali dari seorang yang bodoh, karena pada dasarnya mengandung maksud atau tujuan yang buruk dari pelakunya.

Ketiga: Tahrif Ma’nawi. Yaitu menyimpangkan sebuah lafazh dari zhahirnya tanpa disertai dalil, seperti tahrif makna “Kedua tangan” yang disandarkan kepada Allah ta’ala menjadi “kekuatan”, “nikmat” dan sejenisnya.

Jadi tahrif ada pada dalil dan fiil (perbuatan) orangnya disebut muharif.

2. Ta’thil (تعطيل )

Ta’thil menurut arti bahasa ialah mengosongkan. Adapun menurut istilah ialah mengingkari apa yang wajib ditetapkan untuk Allah dari asma’ dan shifat-Nya atau mengingkari sebagiannya saja, sehingga ta’thil terbagi menjadi dua jenis:

Pertama: Ta’thil Keseluruhan. Sebagaimana ta’thil yang dilakukan sekte sesat Jahmiyyah yang mengingkari semua shifat Allah dan bahkan sekte ekstrim mereka mengingkari nama-nama (asma’) Allah pula.

Kedua:Ta’thil Sebagian. Sebagaimana ta’thil yang dilakukan oleh Asy’ariyyah yang mengingkari sebagian shifat saja.

Orang pertama yang dikenal melakukan ta’thil dari ummat ini adalah Ja’d bin Dirham.

Jadi, ta'thil ada pada madlul (sesuatu yang ditunjukan oleh dalil) orangnya disebut mu'athil.

Contoh lain dari dua istilah di atas ada pada penafsiran Alloh ta'aala beristiwa:
Muharif: Menyebut istiwa ada, tetapi menggantinya (mentahrif) dengan istaula (menjadi lebih halus) tapi tidak berani menyebut 'istiwa tidak ada'.
Mu'athil: Langsung to the point dan berterus terang tidak ada dalilnya. Bahasa halusnya, "wallohu'alam kita tidak tahu".

Jadi, ta'thil lebih umum dari tahrif. Dan keduanya sama-sama mengingkari shifat Alloh ta'aala.

3. Takyiif (تكيف )

Asal katanya 'kaif" (bagaimana) yaitu bertanya 'bagaimana kaifiat/hakikat sesuatu'. Secara istilah Takyiif adalah menjabarkan cara atau bentuk shifat Allah, seperti perkataaan seseorang; “Seperti apa bentuk tangan Allah?”, atau “Bagaimana cara Allah turun ke langit dunia?”, caranya adalah begini dan begitu.

Sifatnya Takyiif dan orangnya disebut "Mukayif".

Mengetahui kaifiat ada 3 cara:

  1. Bil musyaahadati (Dengan menyaksikan)
  2. Al-Khobar As-shodiq (Berita dari orang yang jujur)
  3. Menyaksikan sesuatu yang serupa mirip dengannya.

4. Tamtsil (تمثيل ) dan Tasybih (تشبيه)

Sifatnya Tamtsil orangnya disebut 'Mumatsil'. Secara bahasa:'yang mirip dan memisalkan'. Secara istilah Tamtsil adalah meyakini dalam hal shifat Alloh ta'ala bahwasanya shifat Alloh tersebut sama atau mirip dengan sifat makhluk. Misal: mengatakan 'tangan Alloh seperti...'.

Secara bahasa Tasybih berarti 'meyerupakan' Orangnya disebut Musyabih. Jadi Tasybih adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Tamtsil mengandung persamaan dari segala segi dan Tasybih mengandung persamaan pada sebagian besar shifat. Keduanya itu terkait satu sama lainnya, adapun perbedaan antara keduanya dengan Takyiif dari dua sisi:

Pertama:
Takyif ialah mengilustrasikan kaifiyah (bagaimananya) secara umum maupun khusus dan menyamakannya dengan sesuatu yang lain.
Tamtsil & Tasybih menunjukkan bentuk atau cara yang dipersempit dengan menyamakannya atau menyerupakannya dengan sesuatu.
Di sini takyif bersifat umum, karena setiap pelaku tamtsil di saat yang sama melakukan takyif pula, bukan sebaliknya.

Kedua:
Takyif Khusus pada masalah shifat, adapun Tamtsil terjadi pada masalah ukuran (kadar), shifat dan dzat.
Di sini tamtsil menjadi lebih umum, karena berkaitan dengan dzat, sifat dan ukuran.

Adapun Tasybih yang telah menyesatkan sebagian orang terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Menyerupakan makhluk dengan Khaliq (Pencipta)
Maksudnya ialah menetapkan bagi makhluk sesuatu yang khusus dimiliki Allah berupa perbuatan, hak, dan shifat.

Pertama: Seperti perbuatan orang yang melakukan kesyirikan dalam tauhid Rububiyah yang menyangka ada pencipta lain bersama Allah.
Kedua: Seperti perbuatan kaum musyrikin terhadap berhala-berhala mereka, yang mana mereka menganggap berhala-berhala itu memiliki hak untuk diibadahi sehingga mereka menyembahnya seperti menyembah Allah ta’ala.
Ketiga:Seperti perbuatan orang-orang yang berlebihan dalam memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau lainnya. Seperti perkataan Al-Mutanabbi ketika memuji Abdullah bin Yahya Al-Bahturi:
“Maka jadilah seperti yang engkau kehendaki, wahai yang tiada sesuatu pun yang menyamainya.” Jadilah bagaimanapun yang engkau kehendaki, karena taak ada satu maakhluk pun yang menyamaimu.

2. Menyerupakan Khaliq (Pencipta) dengan makhluk

Maksudnya ialah menetapkan bagi Allah dalam dzat-Nya atau Shifat-Nya berupa kekhususan-kekhususan seperti yang dimiliki makhluk. Seperti perkataan seseorang bahwa tangan Allah seperti tangan para makhluk dan bersemayam-Nya di atas Arsy-Nya seperti bersemayamnya makhluk dan perkataan-perkataan serupa lainnya.

Ada yang berkata: bahwa yang pertama kali dikenal melakukan hal ini adalah Hisyam bin Hakam, seorang Rafidhah.

Ikuti pembahasan selengkapnya kajian kitab ini yang disampaikan oleh Ustadz Isnan Abu Abdu Syahid Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook