Kategori Artikel Aqidah

Aqidah

Disampaikan dalam Pengantar kajian Kitab Aqidah Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Al-Aqidah Al-Wasithiyah (العقيدة الواسطية) adalah kitab tentang akidah ahlus sunnah yang disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w.728 H atau 1328 M, pada umur 65 tahun). Kitab ini merupakan satu di antara karya Ibnu Taimiyah yang paling terkenal. Kitab akidah ini walaupun sangat ringkas tapi telah mencakup hampir semua permasalahan keyakinan (i’tiqad) dan dasar-dasar keimanan (ushul iman).

Kitab ini merupakan karya Ibnu Taimiyyah yang ditulis sebagai tanggapan atas permintaan dari hakim agung (Qadhi) negeri Wasith, Irak. Oleh karena itulah kitab ini dinamakan Al-Aqidah Al-Wasithiyah. Qadhi tersebut meminta kepada Ibnu Taimiyah untuk membukukan tentang pandangan dan keyakinan yang diimaninya tentang akidah Islam untuk dijadikan pegangan di negeri tersebut. Kitab ini kemudian ditulis secara ringkas, jelas, dan gamblang, dikerjakan dalam waktu singkat selepas salat ashar hingga sebelum maghrib dalam sekali duduk.

Kitab ini begitu masyhur yang menjadi bahasan pokok di berbagai daurah karena memiliki kandungan yang besar dengan alasan:
1. Berisi poin-poin yang menyeluruh.
2. Pengaruh penulis. Keilmuannya diakui baik ulama kawan maupun lawan.

Disebutkan ulama, Kitab ini merupakan tanda Keikhlasan dalam beliau menulis. Karena salah satu tanda keberkahan ilmu seseorang adalah terus menerusnya orang mempelajari kitab-kitabnya. Dari zaman ke zaman.

Sungguh pujian setinggi langit yang diberikan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar kepada Ibnu Taimiyyah. Kesimpulan dari pernyataan-peryataan beliau adalah :
Pertama : Ibnu Taimiyyah berhak untuk digelari Syaikhul Islam, dan gelar ini akan terus lestari. Dan hanya orang dungu saja atau orang yang tidak adil yang mengingkari gelar ini bagi beliau
Kedua : Tidak pernah ada jenazah yang dihadiri dengan jumlah yang begitu banyak sebagaimana janazah Ibnu Taimiyyah. Disebutkan dalam Adz-Dzail 'alaa tobaqoot Al-Hanaabilah (2/407) bahwasanya yang menghadiri janazah Ibnu Taimiyyah tatkala itu sekitar 200 ribu kaum lelaki dan sekitar 15 ribu kaum wanita
Ketiga : Cukuplah satu saja murid beliau –yaitu Ibnul Qoyyim- menjadi bukti akan luas dan dalamnya ilmu Ibnu Taimiyyah.
Keempat : Ibnu Taimiyyah adalah termasuk orang yang paling gigih menentang dan membantah Ahlul Bid'ah dan Syi'ah Roofidhoh
Kelima : Ibnu Taimiyyah diakui oleh lawan-lawannya sebagai seorang mujtahid
Keenam : Lawan-lawan Ibnu Taimiyyah mengakui keterdepanan ilmu beliau, zuhud, waro', kedermawanan, serta keberanian beliau. [Paragraf ini diambil dari situs Ust. Firanda Hafidzahullah].

Murid lainnya Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah dalam Thobaqot Al-Hanabila. Beliau menulis biography Ibnu Taimiyah dalam Mukaddimahnya: populernya beliau telah mencukupi dari tulisan-tulisan yang panjang akan perjalanan hidup beliau.

Biography beliau yang terlengkap sekitar 600an halaman. Sehingga gelaran beliau Syaikhul Islam [Orang yang dituakan dalam sisi keilmuan Islam dalam zaman beliau]. Penyebutan Syaikhul Islam pertama kali untuk sahabat Abu bakar dan Umar bin khatab Radhiyallohu'anhuma.

Biografi Beliau

Nama beliau : Ahmad Taqiyuddin bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Alqosim Alkhudori bin Abdullah bin Taimiyah Alharoni. Kunyahnya Abul Abbas. Beliau tidak menikah, meskipun tak ada anak sunnah memakai nama kunyah.

Asal nama Taimiyah kata muridnya Abdul Hadi [setiap muridnya memiliki biography sendiri-sendiri], dalam kitab Aluqud Adzurriyyah [Biografi terlengkap yang ditulis Ibnu Abdul Hadi] menjelaskan bahwa Kakek beliau memiliki ibu yang dijuluki Taimiyah.

Beliau suka sebagai penasihat.
 
Beliau lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 661 Hijriyyah di Haron. Pada tahun 667 H beliau hijrah ke Damsyik (damaskus) karena serangan tartar. Disitu beliau menimba ilmu, dan berumur sebelum 20 tahun beliau telah menghafal puluhan ribu hadits seperti musnad Imam Ahmad. Seluruh ilmu islam sudah dikuasai, maka tidak heran sekitar umur 20an telah diangkat sebagai mufti.

Imam Adzahabi dalam Tarikh Al-islam: sampai mengatakan kalo hadits yang yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukan hadits.

Ucapan orang yang tidak suka dengan beliau

Layaknya manusia biasa, beliau juga memiliki banyak musuh dengan berbagai alasan, seperti karena terusik urusan pribadi, jabatan maupun manhaj.

Syaikh Kamaludin Azim Lakhani : Apabila Ibnu Taimiyah ditanya satu disiplin ilmu, maka orang yang melihat dan mendengar akan menganggap bahwa Ibnu Taimiyah tidak mengetahui ilmu lain kecuali ilmu itu saja. (Spesialis dalam Islam). Apabila seluruh kelompok dari kalangan ahli Fiqh dan lainnya bermajlis dengan beliau maka pasti kelompok itu akan mendapatkan faedah baru yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Ibnu Daqiq Al Eid: Ketika aku bermajlis dengan Ibnu Taimiyah ketika itu aku seperti melihat seseorang yang seluruh ilmunya didepan matanya dia mengambil apa yang dia inginkan dan meninggalkan apa yang dia inginkan. Contoh dalam hal ilmu tafsir beliau telah membaca dan mempelajari lebih dari 100 judul kitab tafsir.

Lingkungan zaman beliau

Ibnu katsir dalam Albidayah wanihayah mengatakan :
Politik : Pada saat itu daerah beliau dikuasai oleh Tartar 656H sebelum beliau lahir. Yaitu masa hancurnya Daulah Abasiah. Pada saat yang sama salibis mulai masuk. Beliau lahir pada perang salib ke 4.
Kemasyarakatan: Percampuran dari kaum Tartar. Sehingga banyak manhaj seperti kaum sufi, madzhab Asy'ari. Banyak ulama yang taqlid, yaitu hanya menukilkan saja. Karena munculnya beliau, maka beliau menjadi sorotan menjadi pembaharu atau agama baru, meskipun pada kenyataannya tidaklah demikian.

Ujian Beliau

Banyak sekali ujian yang beliau lalui. Salah satu bukunya yang beliau tulis adalah Aqidah Al-Hamawiyyah. Memicu Sultan untuk memanggil dan mendebat oleh Qadhi-qadhi top, tetapi dalam setiap perdebatan selalu menang.

Th 705H debat di pengadilan dan dipanggil Sultan di Mesir. Seluruh qadi dipanggil dan Ibnu Taimiyah tanya siapa mereka ini. Karena mereka musuh, maka dia tidak mau debat [Karena meski menang pasti tidak diterima]. Dan dia dipenjara. Akhir tahun, orang sufi mempengaruhi sultan. Akhirnya sultan menyuruh ke Syiria tapi tak diterima. Sehingga dipenjara lagi di Mesir.

Th 709H diasingkan di Iskandariyah. Dan mulai berdakwah lagi dan diterima masyarakat. Setelah 7 bulan sultan diganti sultan baru Nasir Qolawun [w.741H] yang mendukung Ibnu Taimiyah. 720-721H beliau masuk penjara lagi karena ada fatwa beliau yg tidak sesuai dengan qadhi-qadhi yang ada seperti masalah talak. "Orang yang bersumpah talak 3 sekaligus, maka jatuh 1 talak."

Setelah keluar penjara, kemudian ada yang memfitah lagi Sa'ban 726H, karena fitnah yang melarang ziarah kubur termasuk kubur Rasulullah.  Dan pada tahun 728H beliau makin diketatkan di penjara seperti tidak boleh menulis. Juga kepada muridnya seperti Ibnul Qoyyim Rahimahullah. Sampai akhirnya beliau sakit, pada malam Senin, 20 Dzulqo’dah 728 Hijriyah meninggal di penjara. Dan ribuan orang yang menyolati beliau.

Ikuti pembahasan selengkapnya oleh Ustadz Isnan Efendi Hafidzahullah:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook