Kategori Artikel Akhlak dan Nasehat

Akhlaq dan Nasehat

Kajian Sabtu Wakra - Qatar
Bersama Ustadz Syukron Abu Muhammad Hafidzahullah
Membahas Kitab Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Pengertian Al-Ma'ruf dan Al-Munkar

Amar Maruf Nahi MunkarAda tiga puluh delapan المعروف (al-Ma'ruf) dan enam belas kata المنكر (al-Munkar) di dalam Al-Qur'an. AI-Ma'ruf - menurut Mufradat ar-Raghib dan lainnya - adalah nama setiap perbuatan yang dipandang baik menurut akal atau agama (syara'). Sedangkan al-Munkar berarti: setiap perbuatan yang oleh akal sehat dipandang jelek, atau akal tidak memandang jelek atau baik, tetapi agama (syariat) memandang nya jelek.

Ada yang berpendap at, al-Ma'ruf: suatu nama yang mencakup setiap perbuatan dikenal sebagai suatu ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah dan berbuat baik (ihsan) kepada manusia. Sedangkan al-Munkar berarti sebaliknya.

Ada pula yang berpendapat, al-Ma'ruf ialah suatu nama yang mencakup setiap perbuatan yang dicintai Allah berupa iman dan amal salih.

Hukumnya

Mengajak kepada al-Ma'ruf dan melarang dari al-Munkar (baca: amar ma'ruf nahi munkar), termasuk di antara fardhu-fardu kifayah.

Ibnu Taimiyah - rahimahullah - berkata:
"Kewajiban ini adalah kewajiban atas keselunrhan umat, dan ini yang oleh para ulama disebut fardhu kifayah. Apabila segolongan dari umat melaksanakannya, gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Seluruh umat dikenai kewajiban itu, Tetapi bila segolongan umat telah ada yang melaksanakannya, maka tertunaikan kewajiban itu dari yang lain"

Ketika para fuqaha' (ulama fiqh) menetapkan dakwah adalah fardhu kifayah, sebagian orang menyangka, mereka boleh tidak melaksanakan kewajiban dakwah itu. Duduk perkaranya tidaklah
seperti apa yang mereka sangka itu. Sesungguhnya fardhu kifayah dan pelaksanaannya menghendaki pentingnya realisai sesuatu yang diperintahkan itu, dan penerapannya, serta golongan yang jadi aasaran perintah itu dapat menerimanya secara nyata. Apabila mereka tetap dalam kesesatan, mengikuti hawa nafsu, senang dalam kedurhakaan dan terjerumus dalam kesalahan, maka semua orang Islam tetap mendapat beban kewajiban tersebut.

Dan diwajibkan kepada setiap Muslim melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar dalam hal-hal di mana orang berilmu dan orang bodoh sama di dalamnya, seperti zina, minum khamar (minuman keras), riba, ghibah. Mengadu domba, dusta, bersumpah dengan selain Allah dan sifat-sifat-Nya, mengandalkan diri kepada selain Allah Yang Maha Pemberi rezeki, mengganggu manusia, menolong orang dzalim, meninggalkan shalat, tidak menunaikan zakat, puasa, haji dan hal-hal lain yang sudah diketahui secara umum di kalangan perseorangan umat, baik peringatan itu bermanfaat atau tidak. Dan atas ini إِن dalam firman Allah :

فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ

(Maka berikanlah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat) diberi arti قد (sungguh).

Suffan Ats-Tsarni rahimahullah pernah menjawab ketika ada pertanyaan: Apakah seseorang masih harus menyeru (amar ma'ruf nahi munlkar) kepada orang lain yang diketahui Bahwa dia tak akan menerima seruan itu? Jawab beliau itu: "Ya, agar seruan itu nanti menjadi alasan di sisi Allah bagi si penyeru itu."

Verifikasi (Tahqiq) dan Komentar Atas Hadits "Mengubah Kemungkaran" (Taghyir Al-Munkar)

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ. رواه مسلم

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.(Riwayat Muslim)

Dan Hadits ini dengan maksud yang sama telah pula diriwayatkan melalui suatu jalan lain, dikeluarkan (takhrij) oleh Muslim dari hadits Ibnu Mas'ud Radhiyallohu'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang Allah utus pada satu umat sebelumku kecuali memiliki pembela-pembela (hawariyun) dari umatnya dan sahabat-sahabat yang mencontoh sunnahnya dan melaksanakan perintahnya, kemudian datang generasi-generasi pengganti mereka yang berkata apa yang tidak mereka amalkan dan mengamalkan yang tidak diperintahkan. Siapa yang menghadapi mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin, siapa yang menghadapi mereka dengan lisannya maka ia seorang mukmin, dan siapa yang menghadapi mereka dengan hatinya maka ia seorang mukmin. Tidak ada setelah itu sekecil biji sawi dari iman.” (HR. Muslim, Kitab Al Iman no. 71)

Al-Ismaili mengeluarkan (takhrij) dan riwayat Al-Awza'i dari Umair bin Hani' dari Ali Radiallahuanhu bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سيكون بعدي فتن لا يستطيع المؤمن فيها أن يغير بيد ولا بلسان ، قلت : يا رسول الله ، وكيف ذاك ؟ قال : ينكرونه بقلوبهم ، قلت : يا رسول الله ، وهل ينقص ذلك إيمانهم شيئا ؟ قال : لا ، إلا كما ينقص القطر من الصفا

"Sepeninggalku akan teriadi banyak fitnah di mana orang yang beriman tidak kuasa mengubah dengan tangannya dan tidak pula dengan lisannya." Aku bertanya: Wahai Rasulullah, baganimana yang demikian itu? Beliau meniawab: "Mereka menentang(mengubah)-nya dengan hatinya." Aktt bertanya lagi: wahai Rasulaullah, apakah yong demikian itu mengurangi iman mereka? Jawab beliau: 'Tidak, kecuali seperti tetesan air mengikis batu karang."

Hadits-hadits tersebut - dan banyak hadits-hadits lain yang semakna - menunjukkan bahwa wajibnya menentang kemungkaran (al-munkar) hanyalah menurut kemampuan yang ada. Tetapi penentangan dengan hati adalah keharusan. Maka jika hati tidak mau menentang, itu pertanda hilangnya iman dari orang yang bersangkutan.

Ada suatu riwayat dari Abu Juhaifah, ia menceritakan: Ali Radiallahu'anhu pernah berkata:
"Sesungguhnya jihad pertama yang harus diatasi adalah jihad dengan tangan kalian, kemudian jihad dengan lisan, lalu dengan hati. Barang siapa hatinya tidak mengetahui kebaikan (al-ma'ruf) dan menentang kemunkaran (al-munkar), malm ia jungkir-balik, yang di atas menjadi di bawah."

وسمع ابن مسعود رضي الله عنه رجلا يقول هلك من لم يأمر بالمعروف ولم ينه عن المنكر . فقال ابن مسعود : هلك من لم يعرف بقلبه المعروف والمنكر . يشير إلى أن معرفة المعروف والمنكر بالقلب فرض لا يسقط عن أحد ، فمن لم يعرفه هلك . وأما الإنكار باللسان واليد فإنما يجب بحسب الطاقة .

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu pernah mendengar seseorang berucap, “Celakalah orang yang tidak menyuruh berbuat ma’ruf dan tidak melarang berbuat munkar!” Lalu Ibnu Mas’ud menimpali, “Celakalah orang yang hatinya tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar!”

Itu menunjukkan, Bahwa mengetahui kebaikan dan kemungkaran dengan hati merupakan kewajiban yang tidak bisa lepas dari seseorang, maka bagi yang tidak tahu, celaka ia. Adapun penentangan dengan tangan dan Iisan, kewajibannya hanyalah menurut kemampuan seseorang.

Dan Ibnu Mas'ud-semoga Allah meridhainya - berkata: "Hampir seseorang di antara kalian yang hidup, melihat suatu kemungkaran tapi ia tidak kuasa (mengubah)nya, melainkan Allah mengetahui dari hatinya bahwa ia benci terhadap kemungkaran itu."

Dalam Sunan Abu Dawud dari Al-'Urs bin 'Umairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Barang siapa menyaksikan perbuatan dosa dan membencinnya, ia sama dengan orang yang tidak menyaksikannya jika ia tidak kuasa menentangnya dengan tangan dan lidahnya. Dan orang yang tidak menyaksikannya tapi meyenanginya, ia sama dengan orang yang menyaksikannya yang kuasa mementangnya tapi tidak melakukan penentangan. Karena setuju dan senang pada perbuatan dosa termasuk hal terjelek yang diharamkan, dan itu merusak penentangan dengan hati. Adapun penentangan (al-inkar, at-taghyir) dengan tangan dan lidah - sebagaiman telah disebut di atas dalah menurut kemampuan, karena hadits yang dikeluarkan (ditakhrij) oleh Abu Dawud dari hadits Abu Bakar (semoga Allah meridhainya) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ اَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مَنْهُ (رواه أبو داوود والترمذى والنسائ)

“Sesungguhnya jika manusia melihat orang yang berbuat aniaya dan mereka tidak mencegahnya, dikhawatirkan Allah akan meratakan siksanya disebabkan perbuatan tersebut.”

Dan hadits yang dikeluarkan oleh at-Turmudzi dan Ibnu Majah dari hadits Abu Sa'id - semoga Allah meridhainya - dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah bersabda dalam suatu khutbahnya:

Ingatlah, janganlah sekali-kali rasa takut kepada manusia mencegah seseorang untuk berkata dengan hak jika ia telah mengetahuinya." Maka menangislah Abu Sa'id dan berkata: Demi Allah, kami telah melihat beberapa hal, tapi kami takut.

Dan Imam Ahmad mengeluarkan (mentakhrij)-nya, dan menambahkan:

"Sesungguhnya tidak akan mendekatkan kepada ajal dan tidak menjauhkan dari rezeki kalau yang hak itu diperkatakan atau sesuatu yang besar (agung?) dijadikan peringatan".

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam - tentang orang yang menentang dengan hatinya "...dan itu iman yang terlemah" menunjukkan, amar ma'ruf nahi munkar termasuk masalah iman. Dan sabda beliau "siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran.." menunjukkan penentangan (terhadap kemunkaran) itu berhubungan dengan 'melihat'. Jika kemungkaran itu tak terlihat namun ia mengetahuinya, maka yang benar masalah kemungkaran itu tidak dihadapkan (atau tidak nampak) kepadanya,dan ia tidak akan diperiksa tentang apa yang kurang jelas baginya.

Ikuti Kajiannya di link berikut:

go-sunnah

Mailing List

Masukan email anda:


Mailing List Assunnah-Qatar, adalah sebuah model media virtual yang diupayakan untuk menghidupkan sunnah, berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang sesuai dengan apa yang dipahami oleh As-Salafus As-Shalih, insya Allahu Ta'ala. Oleh karena itulah, menjadi sesuatu yang niscaya agar kita meniti manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Update Artikel

Masukan email anda:

Join us on facebook 16 Facebook